Nabi Isa dan Peringatan Natal

Edisi: 07 || Tahun 1439 H

Tema: AKIDAH

Nabi Isa dan Peringatan Natal

Nabi Isa bin Maryam adalah salah seorang nabi dan rasul yang mulia. Beliau termasuk salah seorang di antara para rasul Ulul Azmi. Beriman kepada nabi Isa bin Maryam termasuk dari iman kepada para rasul yang merupakan salah satu rukun iman.

Di dalam al-Qur’an al-Karim kisah nabi Isa disebutkan di beberapa tempat. Dengan penyebutan kisah yang tepat, adil, jujur dan ilmiah.

Allah berfirman tentang kelahiran nabi Isa (artinya), “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya.” Kaumnya berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun (Maryam), ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam buaian?” Isa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, (Allah juga memerintahkanku untuk) berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya,”Jadilah”, maka jadilah ia. (Isa berkata), “Sesungguhnya Allah adalah Rabbku (Tuhanku) dan Rabb (Tuhan) kalian, maka beribadahlah kalian kepada-Nya. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam : 27-36)

Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman, “Wahai Ahli Kitab (Yahudi dan Nashara), janganlah kalian melampaui batas (ekstrim/berlebihan) dalam agama kalian. Janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah Rasulullah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-(ciptaan)-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah ilah yang Esa (yakni satu-satu-Nya yang berhak diibadahi). Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (an-Nisa: 171)

Pembaca yang budiman, sesungguhnya tidak boleh meyakini bahwa Isa adalah anak Allah, atau Isa adalah Tuhan Anak, atau Isa adalah satu dari yang tiga.

Mengapa demikian?

Karena nabi Isa adalah hamba Allah. Maka jangan menyembahnya, atau meyakininya sebagai anak Allah, atau satu dari yang tiga. Bahkan nabi Isa sendiri memerintahkan untuk beribadah kepada Allah satu-satunya.

Prinsip iman yang seperti inilah yang akan mengantarkan kepada surga. Nabi Muhammad bersabda, “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya, dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari (ciptaan)-Nya. Juga (bersaksi) bahwa al-Jannah (surga) dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan dia ke dalam surga dalam keadaan bagaimana pun amalnya.” (HR. al-Bukhari 3435, Muslim 28, dari shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit )

Para pembaca sekalian, perlu kita renungkan baik-baik, bahwa Allah yang telah mengutus nabi Muhammad, Dia-lah juga yang mengutus nabi Isa. Allah yang telah menurunkan al-Qur’an, Allah jugalah yang telah menurunkan Injil yang asli (sebelum terjadi perubahan).

Maka berita dari Allah tentang nabi Isa dalam al-Qur’an tidak mungkin bertentangan dengan berita dalam Injil. Prinsip agama para rasul adalah sama, yaitu memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada siapapun/apapun selain Allah.

Maka tidak akan mungkin nabi Isa mengajarkan kepada kaumnya untuk beribadah atau menyembah dirinya, atau menuhankan dirinya. Allah telah memberitakan bahwa nabi Isa telah menegaskan kepada umatnya, “Sesungguhnya Allah adalah Rabb-ku (Tuhanku) dan Rabb (Tuhan) kalian, karena itu beribadahlah kepada-Nya. Inilah jalan yang lurus.” (Ali Imran: 51)

Dilarang Ikut Merayakan Natal

Jika demikian prinsip keimanan tentang nabi Isa, maka seorang muslim tidak boleh ikut-ikutan merayakan natal. Natal merupakan hari raya umat Kristiani, memperingati hari kelahiran Yesus Kristus (yakni nabi Isa ) yang mereka yakini sebagai Tuhan atau Tuhan Anak. Maka jelas ini bertentangan dengan prinsip keimanan seorang mukmin.

Tidak boleh seorang mukmin ikut merayakan perayaan natal. Tidak boleh pula dia mengucapkan selamat natal. Karena perayaan natal jelas-jelas bertentangan dengan keimanannya, bagaimana seorang muslim akan mengucapkan selamat terhadapnya?

Demikian pula tidak boleh saling tukar menukar hadiah dalam rangka natal. Tidak boleh pula menjual sesuatu untuk keperluan natal. Karena natal termasuk dari ritual ibadah hari raya umat Kristiani.

Al-Imam adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) mengatakan, “Apabila Nashara (Kristiani) memiliki hari raya, Yahudi juga memiliki hari raya, yang itu hari khusus (agama) mereka, maka tidak boleh seorang muslim ikut merayakannya.” (Tasyabbuh al-Khasis, hal. 27)

Beliau juga mengatakan, “Sepantasnya atas setiap muslim untuk menjauhi hari raya mereka (Yahudi, Nashara, dll). Wajib atasnya untuk melindungi diri, isteri dan anak-anaknya dari hari raya tersebut, jika memang dia beriman kepada Allah dan hari Akhir.” (Tasyabbuh al-Khasis, hal. 32)

Perayaan natal biasanya berangkai dengan perayaan tahun baru masehi. Maka berhati-hatilah wahai saudaraku se-Islam, janganlah Anda mengikuti perayaan natal ataupun Tahun Baru Masehi.

Islam Agama Toleran Bukan Agama Intoleran

Keyakinan kaum muslimin tidak boleh ikut merayakan natal dan dilarang mengucapkan selamat natal tidaklah bertentangan dengan prinsip toleransi. Sikap ini bukan sikap yang intoleran.

Islam adalah agama yang paling sempurna, agama yang paling indah dan membawa rahmatan lil alamin. Islam bukan agama yang mengajarkan sikap ekstrim dan radikal. Islam terdepan dalam mengajarkan toleransi.

Islam melarang melakukan kekerasan, anarkis dan kezhaliman walaupun kepada orang yang berbeda agama dengannya. Namun ini tidak berarti kemudian boleh ikut merayakan hari raya agama lain. Apalagi sampai datang ke gereja dan foto bersama atau bahkan berceramah di gereja. Astaghfirullah. Semestinya seorang muslim tidak berbuat demikian.

Apabila ada tetangga non-muslim sakit keras, maka seorang muslim boleh mengantarkannya berobat ke dokter atau rumah sakit. Namun tidak berarti ketika non-muslim itu hendak ke gereja juga boleh untuk diantar oleh seorang muslim.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Ketua Rabithah Alam Islamy, wafat tahun 1420 H/1999 M) menjelaskan, “Sesungguhnya kewajiban seorang muslim terhadap non-muslim banyak:

Pertama, mendakwahinya (mengajaknya) ke jalan agama Allah. Menjelaskan kepadanya hakikat Islam, sesuai dengan kapasitas ilmunya. Ini merupakan bentuk perbuatan baik yang terbesar …

Kedua, tidak boleh menzhaliminya, baik diri atau jiwanya, hartanya, maupun kehormatannya. Apabila dia seorang non-muslim yang berstatus dzimmi (dalam jaminan negara Islam), musta’man (diberi perlindungan keamanan oleh negara Islam) atau mu’ahad (dalam ikatan perjanjian dengan negara Islam), maka wajib ditunaikan hak-haknya. Tidak boleh dizhalimi pada hartanya, baik dalam bentuk pencurian, khianat, ataupun tipu daya. Tidak boleh juga dizhalimi pada badannya, baik dengan cara dipukul atau dibunuh. Karena status dia sebagai mu’ahad, dzimmi atau musta’man menyebabkan dia terjaga atau terlindungi.

Ketiga, tidak mengapa bermuamalah dengannya dalam bentuk jual beli, perdagangan, dan semisalnya. Terdapat riwayat yang sah dari Rasulullah bahwa beliau membeli sesuatu dari orang kafir penyembah berhala atau membeli dari seorang kafir Yahudi. Bahkan Nabi wafat dalam keadaan baju besi beliau tergadaikan kepada seorang Yahudi.

Keempat, tidak boleh memulai mengucapkan salam. Namun boleh membalas kalau non-muslim tersebut memulai salam, yaitu dengan ucapan “wa’alaikum” saja.

Termasuk dalam hal ini juga bertetangga dengan baik. Apabila orang non-muslim tersebut sebagai tetanggamu, maka berbuat baiklah terhadapnya, jangan mengganggu atau menyakitinya. Kalau dia seorang yang fakir, maka bersedekahlah kepadanya, boleh juga kamu berikan hadiah padanya.

Nasehatilah dia dengan sesuatu yang bermanfaat untuknya, karena itu akan menyebabkan dia simpatik dan tertarik kepada Islam dan masuk Islam. … adapun terkait dengan perayaan hari raya non-muslim (natal, dll) maka seorang muslim tidak boleh turut serta merayakannya.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb I/372-374, diterjemahkan dengan diringkas).

Penulis: Ustadz Abu Amr Alfian

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *