Ajari Putra-putri ‘tuk Rendah Hati

Edisi: 06 || Tahun 1439 H

Tema: RAQAIQ

Wasiat ke-4 dari Luqman al-Hakim

Memiliki anak shalih dan shalihah adalah dambaan kita semua. Bahagia rasanya manakala melihat mereka rajin beribadah lagi berakhlak mulia. Lelah karena bekerja seharian pudar saat pulang bertemu dengan mereka. Mereka-lah penyejuk mata dan jiwa.

Merekalah kebahagiaan orang tua di dua negeri, di dunia dan di akhirat. Namun, memiliki anak shalih dan shalihah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya serta berdoa kepada Allah Dzat yang Mahakuasa.

Pembaca, rahimakumullah . . .

Di antara upaya mewujudkan harapan besar setiap orang tua, mendapatkan anak shalih, adalah dengan mengikuti jejak ayah teladan, Luqman al-Hakim. Dengan sabar, Luqman memberikan arahan kepada sang putra. Dia tidak jemu apalagi bosan dalam menyampaikan bimbingan.

Sehingga wajar apabila metode pengajaran Luqman kepada putranya diabadikan di dalam al-Qur’an. Nasehatnya dijadikan teladan demi merealisasikan harapan para orang tua.

Baiklah, kita akan memasuki wasiat keempat yang disampaikan Luqman kepada putranya. Wasiat ini termaktub dalam ayat,

“Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia dan jangan berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18)

Setelah menanamkan wasiat-wasiat yang terkait dengan hak Allah, kini Luqman akan memberikan bimbingan pergaulan dengan sesama. Harapannya, hubungan seorang anak kepada Allah dan hubungannya kepada sesama menjadi baik.

Rendah Hati

Sikap tawadhu’ dan rendah hati diajarkan oleh Luqman kepada putranya sejak dini. Bahkan, mulai dari perkara yang sepele. Yaitu, cara dan adab berbicara kepada orang lain. Luqman berkata, “Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia!”

Memalingkan wajah baik ketika berbicara kepada orang atau saat orang lain mengajak bicara kita atau sebatas ketika bertemu dengannya merupakan ciri orang yang sombong. Perbuatan tersebut juga menandakan sikap merendahkan orang tersebut, bahkan kurang menghargainya.

Akan tetapi, hadapkanlah wajahmu kepada orang tersebut dengan penuh kerendahan hati. Hargailah orang tersebut. Dengarkanlah ucapannya. Jangan kamu potong pembicaraannya. Berbicaralah ketika ia telah selesai berbicara. Rasulullah menyatakan dalam sebuah hadits,

وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ

“Meskipun kamu bertemu dengan saudaramu hanya dengan wajahmu yang selalu cerah dan bahagia.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Jangan Bosan Membimbing!

Para orang tua hendaknya menanamkan adab ini kepada setiap putra dan putrinya. Dengan siapapun ia berbicara, terutama kepada orang yang lebih tua, hendaknya ia pegang tata-krama ini. Orang tua memantau bagaimana cara sang anak berbicara kepada orang lain.

Misal, ketika ada acara keluarga atau berkunjung ke tetangga. Sebelum itu, anak sudah diajari adab bertamu dan berbicara kepada orang lain. “Nak, kita akan bertamu ke rumah kakek. Kalau kamu bertemu dengan kakek, pertama ucapkan salam, cium tangannya, tanyakan kabar kepadanya!” dan seterusnya.

“Nak, jika kamu berbicara dengan kakek, berbicaralah dengan sopan dan lembut!” tanamkan hal ini kepada anak secara rutin. Bukan hanya kepada orang-orang tua saja, anak juga dididik untuk menghormati dan menghargai saudara-saudaranya serta kawan-kawannya.

Kalau perlu, orang tua memberikan contoh kepada anak bagaimana cara berbicara yang sopan dan baik. Tujuannya agar anak paham betul cara berbicara yang baik. Sebaliknya, orang tua juga menyebutkan cara-cara yang salah saat berbicara. Harapannya, sang anak tidak terjatuh ke dalam cara salah tersebut.

Berikan perhatian!

Pengajaran itu tidak cukup hanya dengan sekedar hasungan, bimbingan dan contoh. Akan tetapi, butuh adanya perhatian dan pengawasan dari orang tua, apakah sang anak telah melaksanakan bimbingan tersebut ataukah belum?

Jadi, orang tua juga memantau bagaimana putra putrinya bergaul dengan kawan-kawannya. Orang tua tidak boleh melepaskan mereka begitu saja. Demikian pula, orang tua memperhatikan bagaimana saat sang anak berbicara kepada para ustadz dan pengajarnya. Jika didapati ada yang kurang, orang tua menegurnya dan meluruskannya.

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat tentang Luqman, bahwa ia pernah memberikan nasehat kepada putranya. Kata Luqman, “Wahai putraku, jika kamu mendatangi suatu kaum, maka ucapkanlah salam kepada mereka. Lalu duduklah di pinggir mereka.

Janganlah kamu berbicara sampai kamu melihat mereka selesai berbicara. Jika mereka telah selesai, kemudian mereka berdzikir kepada Allah, maka ikutlah berdzikir seperti mereka. Namun, jika mereka menghabiskan waktu untuk selain itu, maka silakan pergi dari mereka dan carilah majelis yang lain.”

Akhlak Mulia Kunci Surga

Subhanallah, wasiat Luqman di atas berisi ajaran untuk berakhlak mulia sekaligus perintah untuk mencari teman baik saat bergaul. Memang, akhlak mulia merupakan ciri seorang mukmin yang paling mulia. Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mukmin yang paling utama?” Beliau menjawab,

أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga pernah ditanya tentang amalan yang paling memasukkan seorang hamba ke dalam surga. Beliau menjawab,

تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad 2/291 dan 392)

Jangan sombong!

Untuk menyempurnakan akhlak mulia, setelah itu, Luqman menambahkan wasiat yang lain, “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18)

Ketika membaca ayat ini, para shahabat begitu ketakutan. Yaitu, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri!” Mereka khawatir termasuk orang-orang yang sombong dan membanggakan diri sehingga dibenci oleh Allah .

Maka dari itu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami biasa mencuci jubah kami, sehingga kami suka dan bangga terhadap warna putihnya. Kami suka terhadap bagusnya sandal kami.”

Rasulullah menimpali, “Bukan demikian makna kesombongan! Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah ini. Yaitu, tindakan mulia para shahabat terhadap suatu ayat. Ketika membacanya atau mendengarnya, serta merta mereka menjadikannya sebagai bahan koreksi bagi diri mereka. Sikap inilah yang seharusnya kita teladani.

Bukan sebaliknya, ketika mendapat nasehat, kita merasa nasehat itu untuk orang lain. Seolah-olah kita terbebas dari nasehat tersebut. Kalau seperti ini, kapan kita akan menerima nasehat? Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk menerima setiap nasehat dan mengamalkannya.

مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ، فَهُوَ فِي نَفْسِهِ حَقِيرٌ وَعِنْدَ النَّاسِ كَبِيرٌ، وَمَنِ اسْتَكْبَرَ وَضَعَهُ اللهُ فَهُوَ فِي نَفْسِهِ كَبِيرٌ وَعِنْدَ النَّاسِ حَقِيرٌ، حَتَّى لَهُوَ أَبْغَضُ إِلَيْهِمْ مِنَ اْلكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ

“Barangsiapa bersikap tawadhu’ karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Ia menganggap dirinya rendah padahal tinggi di hadapan manusia. Sebaliknya, barangsiapa yang sombong, niscaya Allah akan merendahkannya. Ia merasa dirinya besar padahal hina di sisi manusia. Sampai-sampai, orang tersebut lebih dibenci oleh manusia daripada anjing dan babi.” (HR. Muslim no. 69, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Malik dan Ahmad)

Kisah Orang Sombong!

Untuk memperkuat nasehat ini, sampaikan kisah orang-orang sombong di muka bumi. Kisah Qarun misalnya. Ia menyombongkan diri di hadapan kaumnya. Qarun membanggakan kekayaan dan kemewahan istananya. Ia merasa itu semua adalah hasil jerih payahnya sendiri.

Qarun lupa bahwa semua harta dan kekayaan itu datang dari Allah . Puncak kesombongan tersebut adalah ketika Qarun menolak kebenaran dan meremehkan orang lainnya. Akibatnya, Allah tenggelamkan Qarun beserta harta kekayaannya ke dalam bumi.

Sampaikan juga kisah Fir’aun yang sombong dan congkak. Ia tidak mau menerima nasehat Nabi Musa . Bahkan Fir’aun mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi. Ia merasa sombong dengan kekuatan dan banyaknya tentara yang dimiliki. Akibatnya, Allah tenggelamkan Fir’aun bersama bala tentara ke dalam lautan.

Demikianlah kesudahan orang-orang yang sombong di muka bumi. Ia akan binasa di dunia sebelum mendapatkan siksa di neraka. Bacakan hadits Rasulullah kepada sang putra,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَعَلَيْهِ بُرْدَانِ يَتَبَخْتَرُ فِيهِمَا، إِذْ خُسِفَ بِهِ الْأَرْضُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ada seorang yang berjalan di tengah-tengah manusia di masa sebelum kalian. Ia mengenakan dua kain besar yang dengannya ia berbangga diri. Tiba-tiba, ia ditenggelamkan ke dalam bumi. Orang tersebut terus ditenggelamkan ke dalamnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim no. 49-50 dan Ahmad 2/222, 267 dan 315)

Semoga dengan memberikan berbagai wasiat di atas, putra-putri kita menjadi shalih shalihah. Kita berharap mereka menjadi generasi yang bertauhid kepada Allah sekaligus berakhlak mulia terhadap sesama. Wabillahit-taufiq.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *