Dengarkanlah Panggilan-Nya

Manusia tempat salah dan lupa. Manusia tidak lepas dari khilaf dan dosa. Tidak ada seorang hamba, selain para rasul, yang terjaga dari ketergelinciran dan pelanggaran. Namun demikian, seorang hamba tidak boleh menyerah. Ia tidak boleh pasrah lalu berhenti dari melakukan perbaikan. Sebab, sebaik-baik hamba yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat kepada-Nya kemudian meminta petunjuk kepada-Nya. Dengarkanlah panggilan Allah dalam pembahasan di bawah ini!

Pembaca, dalam sebuah hadits qudsi Allah memanggil,

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالمَوُا، يَاعِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

”Wahai segenap hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Ku-jadikan kezhaliman di antara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzhalimi. Wahai segenap hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali mereka yang Ku-beri hidayah. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan menunjuki kalian.” (HR. Muslimno. 2577)

Pembaca, hadits di atas berisi panggilan Allah kepada segenap hamba. Panggilan yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada mereka. Panggilan yang menunjukkan kekuasaan-Nya atas manusia. Sekaligus panggilan yang menunjukkan kelemahan hamba sehingga wajib atas mereka untuk kembali dan bertawakal kepada-Nya.

Mari kita telaah panggilan demi panggilan tersebut! Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk memenuhi panggilan-Nya. Amin ya Rabbalalamin.

Ketika seorang hamba berbuat dosa, tidak lain ia telah berbuat zhalim terhadap dirinya. Apa pun jenis dosa tersebut, dosa yang terkait dengan hak hamba maupun hak Allah. Pada hakikatnya, ia telah menzhalimi dirinya sendiri. Sebab, akibat dari dosa tersebut akan kembali kepadanya.

Sementara itu, Allah mengharamkan semua jenis kezhaliman. Dalam penggalan hadits qudsi di atas, Allah menyatakan,

إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالمَوُا

“Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya suatu yang haram di antara kalian semua, maka janganlah kalian saling menzhalimi.”

Kezhaliman itu bermakna meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dijelaskan oleh para ulama bahwa kezhaliman itu ada 3 macam. Berikut penjelasannya:

Pertama, kezhaliman hamba terhadap Rabb-nya. Kezhaliman ini berbentuk kesyirikan. Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang berimandantidakmencampurkeimananmerekadengankezhaliman.” (al-Anam: 82)

Yaitu tidak mencampur keimanan mereka dengan kesyirikan. Allah juga berfirman,

 “Sesungguhnyasyirikadalahkezhalimanyang besar.” (Luqman: 13)

Kesyirikan disebut sebagai kezhaliman terbesar karena pelakunya mempersembahkan ibadah tidak pada tempatnya. Ibadah adalah hak Allah semata. Mana kala ia berikan kepada selain Allah, maka ia telah berbuat zhalim.

Pembaca, Allah tidak akan mengampuni jenis kezhaliman ini (perbuatansyirik) mana kala pelakunya meninggal dunia belum bertaubat darinya. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidakakanmengampuni (dosa) kesyirikandan Allah  mengampuni (dosa) di bawahkesyirikanbagi yang Allah kehendaki.” (an-Nisa: 48)

Kedua, jenis kezhaliman ini, jika pelakunya meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya, maka dia di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka langsung Allah ampuni dia, jika Allah berkehendak maka akan Allah adzab dia terlebih dahulu dalam neraka. Ini semua dengan syarat dia meninggal di atas tauhid dan tidak membawa dosa syirik sedikitpun.

Ketiga, kezhaliman seseorang terhadap manusia yang lainnya. Berupa perbuatan semena-mena, baik terhadap harta, kedudukan atau kehormatan dan darah manusia yang lain.

Allah tidak akan mengampuni jenis kezhaliman ini kecuali setelah orang yang dizhalimi meridhai dan merelakannya. Kalau dia tidak mau memaafkan dan meridhainya, maka kezhaliman ini tidak bisa gugur kecuali dengan maaf dan kerelaannya.

Pembaca, janganlah kita berbuat zhalim kepada sesama. Sebab, doa seorang yang terzhalimi merupakan doa yang dikabulkan oleh Allah. Rasulullah pernah bersabda kepada Mu’adz,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

“Takutlah engkau terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara ia dengan Allah.” (HR. al-Bukharino. 1395 danMuslimno. 19)

Sama saja apakah  orang  yang  terzhalimi itu mukmin atau kafir. Berbuat zhalim kepada siapapun tidak diperbolehkan. Walaupun kepada seorang kafir. Sebab, Allah tidak ridha atas semua jenis perbuatan zhalim dan melampaui batas. Oleh karena itu, Allah memanggil para hamba-Nya,

فَلاَ تَظَالمَوُا

“Maka janganlah kalian saling menzhalimi!”

Janganlah sebagian kalian menzhalimi sebagian yang lain. Ini adalah peringatan dari Allah. Dalam al-Qur’an, Allah telah memperingatkan para hamba-Nya dari perbuatan zhalim. Allah juga mengancam orang-orang yang berbuat zhalim. Allah telah menyebutkan kepada kita semua, berapa banyak orang zhalim yang Allah hukum dengan hukuman yang berat.

Ini semua merupakan bentuk peringatan Allah dari perbuatan zhalim. Apalagi, sifat zhalim merupakan sifat yang melekat pada manusia. Sehingga, seseorang membutuhkan perjuangan untuk mengusir sifat ini dari dirinya. Allah berfirman,

“Sesungguhnyadia (manusiaitu) banyakberbuatzhalimlagisangatbodoh.” (al-Ahzab: 72)

Benar, zhalim banyak menjadi sifat manusia kecuali yang Allah anugerahi agama dan keimanan. Maka orang yang dikaruniai  agama dan keimanan dia bersih dari sifat ini.

PanggilanKedua

Dalam lanjutan hadits qudsi tersebut, Allah kembali memanggil,

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّمَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِيْ أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Ku-beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan menunjuki kalian.”

Semua hamba itu tersesat dari kebenaran kecuali yang Allah berihidayah, yaitu orang yang Allah tunjuki dan Allah bimbing kepada kebenaran kemudian Allah mengokohkannya di atas kebenaran tersebut.

Hidayah Allah itu hanya bisa di dapatkan dengan cara mengikuti ajaran Rasul danmengamalkan al-Qur’an.     Oleh karena itu, Allah dengan kasih sayang-Nya, mengutus para rasul dan menurunkan kitab suci kepada mereka.

Pembaca, para ulama menjelaskan bahwa hidayah itu terbagi menjadi 2 macam, yaitu:

Pertama, hidayah yang bermakna penjelasan dan bimbingan. Hidayah jenis ini berada pada setiap orang. Allah telah memberikan hidayah ini kepada semua manusia. Dalam artian Allah telah menjelaskan kebenaran kepada mereka.

Namun, ada yang menerima dan ada pula yang menolaknya. Bahagialah orang yang menerima bimbingan tersebut dan celakalah orang yang menolaknya. Allah berfirman,

“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada baginya rasa takut lagi bersedih hati.” (al-Baqarah: 38)

Allah juga berfirman,

Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu. (Fushshilat: 17)

Artinya, Allah telah menunjuki mereka kepada keimanan. Akan tetapi mereka tidak mau menerimanya, bahkan lebih menyukai kesesatan.

Kedua, hidayah khusus. Yaitu hidayah taufik dan penerimaan terhadap kebenaran. Seseorang tidak akan mendapatkan hidayah ini kecuali orang tersebut beriman. Hidayah jenis ini hanya ada di tangan Allah.

Dalam panggilan Allah, dinyatakan, “Kalian semua tersesat kecuali yang Ku-beri petunjuk.” Ini adalah hidayah khusus, hidayah untuk menerima kebenaran. Oleh karena itu, Allah membimbing hamba-Nya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.”

Cara meminta hidayah dengan belajar ilmu agama dengan tidak lupa terus berdoa kepada-Nya. Katakanlah dalam doa Anda,

اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ، اللَّهُمَّ دُلَّنِيْ عَلَى الْخَيْرِ، وَفِّقْنِيْ لَهُ، وثَبِّتْنِيْ عَلَيْهِ

“Ya Allah, berilah aku petunjuk. Tunjukilah aku pintu kebaikan. Berilah aku taufik kepadanya dan kokohkanlah diriku di atasnya.”

Perbanyaklah doa memohon hidayah kepada Allah dengan doa-doa semacam ini, niscaya Allah akan memberi Anda hidayah.

Yakinlah ini! Sebab, Allah menjanjikan orang yang meminta hidayah kepada-Nya dengan janji bahwa Dia akan memberinya. Dan Allah adalah Dzat yang tidak menyelisihi janji-Nya. Ini semua merupakan penegasan bahwa hendaknya seorang hamba memperbanyak doa untuk memohon hidayah kepada Allah.

Wallahua’lambishshawab

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *