Bersyukur Menambah Nikmat

Allah berfirman (artinya), “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan;

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( (Ibrahim: 7)

Dalam kitab tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Dahulu, pernah ada seorang pengemis yang datang meminta kepada Rasulullah. Beliau pun memberinya sebuah kurma. Ternyata pengemis tersebut tidak mau menerimanya.

Setelah itu datang pengemis yang lain. Rasulullah juga memberikan padanya sebuah kurma, dan si pengemis itu pun mau menerima pemberian Nabi yang “hanya” sebuah kurma tadi. Dengan gembira, pengemis itu mengatakan, “Subhanallah! Kurma pemberian Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah bersabda kepada budak beliau,

“Pergilah engkau kepada Ummu Salamah (salah satu istri Nabi), uang 40 dirham yang ada padanya berikan untuk pengemis ini.” (HR. Ahmad, no. 12.115)

Pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah.

Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat 7 surat Ibrahim dan juga hadits tersebut, siapapun yang bersyukur atas nikmat yang ia peroleh, pasti nikmat itu akan bertambah.

Bagaimana upaya merealisasikan syukur kepada Allah k? Marilah kita simak pembahasan berikut.

Makna Syukur

Syukur adalah pengakuan dari hati bahwa segala nikmat itu berasal dari Allah, memuji-Nya (dengan lisan) atas nikmat tersebut, serta menggunakan nikmat itu untuk perkara yang mendatangkan ridha-Nya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 422)

Allah berjanji akan menambah pemberian nikmat-Nya kepada hamba yang benar-benar bersyukur kepada-Nya. Sedangkan bagi yang mengkufuri (mengingkari) nikmat-Nya, Allah mengancam akan mendatangkan azab yang pedih.

Termasuk bentuk azab adalah hilangnya nikmat yang telah Allah karuniakan kepada mereka. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 422)

Rasulullah pernah menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada 3 orang yang dikenal dengan si belang, si botak, dan si buta. Allah memberikan nikmat kepada mereka berupa hilangnya penyakit yang menimpa masing-masingnya.

Tidak hanya itu, Allah juga memberikan nikmat yang lain berupa harta kekayaan yang melimpah. Allah berkehendak demikian adalah sebagai ujian, apakah mereka bisa bersyukur atau tidak.

Singkat cerita, si belang dan si botak tidak bersyukur kepada Allah. Akibatnya, keduanya kembali mengalami penderitaan seperti semula: kulitnya belang, kepalanya botak dan harta kekayaannya lenyap tiada tersisa. Ditambah lagi, keduanya dimurkai oleh Allah.

Adapun si buta, ia mampu merealisasikan syukur kepada-Nya. Dengan sebab itulah, Allah meridhainya dan mengekalkan berbagai nikmat itu kepadanya.

Kisah tersebut secara lengkap bisa dilihat pada hadits riwayat al-Bukhari nomor 3205 dan Muslim nomor 5265. Kisah yang banyak mengandung pelajaran berharga.

Manfaat Syukur Kembalinya Kepada Diri Sendiri

Perintah untuk bersyukur kepada Allah bukan berarti bahwa Dia butuh kepada makhluk-Nya. Makhluklah sebenarnya yang butuh kepada Allah, butuh kepada nikmat-Nya, butuh agar nikmat itu terus dirasakannya, dan bahkan butuh pula nikmat itu bertambah. Dari sinilah, terbukti bahwa bahwa setiap hamba butuh kepada syukur.

“Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengkufuri maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman: 12)

Selain itu, syukur juga akan mendatangkan berbagai manfaat dan kebaikan yang lain, di antaranya adalah syukur akan menjadi salah satu sebab keselamatan dari adzab Allah.

Allah berfirman (artinya),

“Mengapa Allah akan menyiksa kalian, jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (an-Nisa: 147)

Orang yang bersyukur, berarti ia telah melakukan amalan yang diridhai-Nya. Adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat mendapat ridha-Nya?

Allah kberfirman (artinya),

“Jika kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (keimanan) kalian dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia meridhai bagi kalian rasa syukurmu itu.” (az-Zumar: 7)

Dahulu, iblis sesumbar bahwa kebanyakan manusia tidak akan bersyukur kepada Allah. Hal ini karena mereka terjerat godaan dan tipu dayanya.

Allah sebutkan dalam firman-Nya (artinya),

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16-17)

Di sisi Allah, orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang istimewa. Mereka adalah manusia pilihan. Mereka berhasil lolos dari godaan iblis dan bala tentaranya. Jumlah mereka sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang yang mengkufuri nikmat-Nya.

Allah berfirman (artinya), “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).” (Saba’: 13)

Berarti, kebanyakan manusia tidak bisa menjalankan syukur kepada Allah dengan sebenarnya. Marilah berlomba-lomba menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Syukurilah Walau Sedikit

Pembaca rahimakumullah.

Jangan disangka bahwa syukur itu hanya dilakukan ketika mendapatkan nikmat yang banyak saja. Sedikit atau banyak nikmat itu, datangnya dari Allah . Maka wajib disyukuri.

Jika kebetulan Allah menghendaki seseorang mendapatkan rezeki lebih sedikit dibandingkan orang lain, jangan kemudian ia tidak bersyukur karenanya. Lihat sajalah orang lain yang mungkin belum Allah berikan kecukupan seperti dirinya. Lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian (dari sisi duniawi) dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Maka sikap ini  akan lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian.” (HR. Muslim no. 5264)

Apabila perilaku seperti ini sudah tertanam dalam jiwa, niscaya berbagai penyakit hati, seperti: hasad, iri, tamak, dan dengki akan sirna. Di waktu yang sama, tumbuh dalam dirinya sifat-sifat terpuji, seperti: sabar, qana’ah, serta rasa belas kasih dan kepedulian terhadap kaum dhuafa (golongan lemah).

Tamak Terhadap Harta Lebih Berbahaya daripada Serigala Lapar

Di antara sifat tercela yang akan muncul disebabkan kurangnya rasa syukur adalah tamak. Ambisi yang berlebihan untuk mengumpulkan materi duniawi merupakan perilaku yang merusak.

Ada sebuah permisalan, jika seandainya ada dua serigala lapar yang dilepas untuk memangsa seekor kambing, apa yang terjadi? Tentu kerusakan dan kerugian besar yang terjadi. Kerusakan yang disebabkan sifat tamak terhadap harta tidak kalah besarnya dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan dua serigala tersebut. Rasulullah n menggambarkan permisalan ini dalam sabdanya,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Dua serigala lapar yang dilepas untuk memangsa seekor kambing tidaklah lebih merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2298 dan Ahmad no. 15224)

Termasuk Syukur Kepada Allah adalah Berterima Kasih Kepada Orang Lain

Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah adanya kebaikan yang dilakukan orang lain kepada kita. Kita patut bersyukur kepada Allah dalam hal ini. Namun jangan lupa, Islam mengajarkan agar kita juga berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik tadi.

Dalam bentuk apa?

Dalam bentuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan yang sebanding. Kalau tidak mampu membalasnya, maka doakan kebaikan untuk orang tersebut. Hal ini sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi dalam haditsnya,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Jika ada yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah dengan kebaikan  yang sebanding. Jika tidak mendapati sesuatu yang bisa kalian jadikan untuk membalasnya, maka doakan kebaikan untuknya hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.” (HR. Abu Dawud no. 1424 dan an-Nasai no. 2520)

Bila kita tidak berterima kasih kepada orang lain, hakekatnya kita belum bersyukur kepada Allah k walaupun kita memuji dan menyanjung-Nya seribu kali.

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ

“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada orang lain, maka sebenarnya ia tidak bersyukur kepada Allah.”(HR. at-Tirmidzi no. 1878)

Wabillahi at-taufiq

Penulis: Ustadz Abu Abdillah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *