Digiringnya Manusia menuju MAHSYAR

   Setelah manusia dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkan mereka di mahsyar. Tempat di mana Allah akan menegakkan keadilan atas makhluk-makhluk-Nya. Pada saat itulah setiap insan akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia. Peristiwa inilah yang diistilahkan dalam ayat-ayat Qur`ani dan hadits-hadits Nabawi dengan al-Hasyr (pengumpulan manusia).

   Peristiwa al-Hasyr ini akan meliputi seluruh manusia, siapa pun dia tanpa terkecuali, Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami kumpulkan mereka, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (al-Kahfi: 47).
Keadaan manusia ketika digiring ke Mahsyar.

   Keadaan mereka ketika itu adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah, “Sesungguhnya kalian akan digiring dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan tidak dikhitan”, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya), “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya.” (al-Anbiya: 104)

   Kemudian beliau melanjutkan, “Dan sesungguhnya makhluk pertama yang akan dikenakan pakaian adalah Nabi Ibrahim al-Khalil.“ (HR. al-Bukhari no. 6526 dan Muslim no. 58 dari shahabat Ibnu Abbas)

   Dalam riwayat lain, Ummul Mukminin Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, para laki-laki dan perempuan, sebagian mereka akan melihat kepada sebagian yang lain?” yaitu dalam keadaan aurat mereka tidak tertutup. Rasulullah pun menjawab, “Urusan mereka lebih dahsyat daripada sekedar mempedulikan hal itu” (HR. al-Bukhari no. 6528 dan Muslim no. 2859)

   Dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan buhm. (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari shahabat Abdullah bin Unais dan dihasankan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani). Makna buhm sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut,

لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ

dijelaskan oleh para ulama bahwa maknanya adalah tidak membawa sesuatupun dari kekayaan yang dimilikinya saat di dunia.

Panggilan sang penyeru

   Para manusia ketika itu akan bergerak menyambut panggilan seorang malaikat penyeru, yakni malaikat Israfil sang peniup sangkakala. Allah berfirman yang artinya, “Pada hari itu para manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok.”
(Thaha: 108)

   Sang penyeru memanggil mereka menuju mahsyar untuk berkumpul di hadapan Allah. Seluruh manusia dapat mendengar panggilan tersebut. Mereka pun bergegas memenuhinya dengan penuh rasa cemas. Mereka mulai berjalan lurus mengikuti suara sang penyeru tanpa menoleh atau pun berpaling ke arah kanan atau Tkiri. (Tafsir as-Sa’di hal. 486)

   Pada kelanjutan ayat tersebut Allah menjelaskan tentang keadaan ketika itu, “Dan merendahlah semua suara kepada Allah Dzat yang Maha Pemurah. Maka kamu tidak mendengar kecuali suara pelan saja.” (Thaha: 108)

   Yang dimaksud bahwa pada hari itu yang terdengar hanyalah suara langkah-langkah kaki menuju padang mahsyar, atau suara bisikan-bisikan pelan semata. Mereka semua terdiam menunggu keputusan Allah.
(Tafsir as-Sa’di hal. 486)

Perbedaan keadaan orang yang bertakwa dengan orang yang durhaka

   Pada saat itu akan tampak dengan jelas perbedaan antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang durhaka. Allah berfirman (yang artinya), “(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang  yang bertakwa kepada Allah Dzat yang Mahapemurah sebagai perutusan yang terhormat dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (Maryam: 85)

   Orang-orang yang bertakwa akan dikumpulkan menuju Allah yang Maha pemurah, dalam keadaan terhormat dan dimuliakan sebagaimana kedatangan seorang utusan kepada Raja, di mana seorang utusan apabila akan menghadap Raja tentu saja ia memiliki harapan besar dalam hatinya bahwa sang Raja akan memberikan pemuliaan kepadanya. Demikian pula orang-orang yang bertakwa ketika datang kepada Allah, hati-hati mereka akan dipenuhi harapan dan rasa optimis bahwa mereka akan mendapatkan limpahan kasih sayang serta kenikmatan dari Allah di surga, negeri kemuliaan. Hal ini karena mereka selama di dunia telah menjalankan ketaatan dan ibadah yang Allah ridhai, dan Allah telah menjanjikan bagi mereka balasan berupa pahala di akhirat, maka mereka pun datang kepada Allah dengan rasa yakin bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya tersebut. (Tafsir as-Sa’di hal. 473)

   Sedangkan orang-orang yang durhaka, yakni orang-orang kafir, maka akan dihalau menuju neraka dalam keadaan haus. Lebih dari itu, Allah berfirman tentang keadaan mereka ketika itu, (artinya), “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) diatas wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.” (al-Isra: 97)

   Ini benar-benar menunjukkan bahwa  kehinaanlah yang mereka dapatkan pada hari kiamat. Mereka akan diseret di atas wajah-wajah mereka menuju padang mahsyar. Salah seorang dari shahabat ketika mengetahui hal itu terheran dan bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Nabi, bagaimana kiranya orang kafir dikumpulkan diseret di atas wajahnya?”, maka beliau menjawab, “Bukankah Dzat yang menjadikannya berjalan dengan dua kaki ketika di dunia mampu untuk menjadikan mereka berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?” (HR. al-Bukhari no. 6523 dan Muslim no. 54 dari Anas bin Malik).

   Allah juga akan mengumpulkan mereka dalam keadaan buta, tidak melihat segala sesuatu yang di sekelilingnya. Itu merupakan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka ketika di dunia, di mana mereka meninggalkan ayat-ayat Allah, tidak menghiraukannya dan tidak menjadikannya sebagai pegangan hidup.

   Allah berfirman, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu meninggalkannya dan begitu (pula) pada hari ini kamupun ditinggalkan”. (Thaha: 124-126)

Apakah yang selain manusia dan jin juga akan dikumpulkan?

   Permasalahan ini adalah sesuatu yang diperselisihkan di kalangan para ulama. Namun pendapat yang benar bahwa hewan-hewan pun akan dibangkitkan dan dikumpulkan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Qurthubi tdalam kitab at-Tadzkirah. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah pendapat Abu Dzar, Abu Hurairah, dan ‘Amr ibnu al-Ash dari kalangan shahabat. Demikian pula Hasan al-Bashri, dan yang selain mereka. Ini didasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (at-Takwir: 5)

   Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (al-Lauhul Mahfudz), kemudian kepada Rabblah mereka dihimpunkan.” (al-An’am: 38)

   Shahabat Abu Hurairah berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Allah akan menghimpun makhluk seluruhnya pada hari kiamat: binatang-binatang, burung-burung, hewan-hewan ternak dan segala sesuatu.  Keadilan Allah pada hari itu sampai kepada taraf dilakukannya pembalasan bagi kambing-kambing yang tidak bertanduk atas kambing-kambing yang bertanduk, kemudian Allah berfirman, “Jadilah tanah”, maka itulah firman Allah mengisahkan perkataan orang-orang kafir, dan orang kafir berkata, “alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (an-Naba: 40).”

Ini juga yang disebutkan dalam sabda Rasulullah,

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوْقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Sungguh benar-benar kalian akan menunaikan segala hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, sampai-sampai akan diadakan pembalasan bagi kambing yang tidak bertanduk kepada kambing yang  bertanduk (yang pernah menanduknya)” (HR. Muslim no. 2582 dari shahabat Abu Hurairah)

Keadaan bumi Mahsyar

Bumi yang ada pada hari kiamat sungguh sangat berbeda dengan bumi yang kita tinggali saat ini. Rasulullah menjelaskan keadaan bumi ketika itu dalam sabda beliau,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ, عَفْرَاءَ, كَقُرْصَةِ اللنَّقِيِّ لَيْسَ فِيْهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang putih, kemerahan, seperti roti pipih yang terbuat dari tepung bersih”, tidak ada padanya petunjuk jalan bagi seorang pun.” (HR. al-Bukhari no. 6521 dan Muslim no. 29 dari Sahl bin Sa’ad)

   Ulama pakar hadits, Ibnu Hajar  al-Asqalani menjelaskan bahwa hikmah dijadikan bumi dalam keadaan demikian karena hari itu adalah hari keadilan dan hari ditampakkan kebenaran, maka sudah sepantasnya hal tersebut terjadi di tempat yang bersih dari amalan kemaksiatan dan perbuatan aniaya. Juga karena pada hari tersebut Allah akan datang menampakkan diri-Nya di hadapan manusia, maka bumi dijadikan dalam keadaan demikian agar sesuai dengan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya.

   Lebih lanjut Ibnu Hajar al-Asqolani menyatakan bahwa dalam hadits ini tersirat bahwa bumi yang kita tinggali di dunia ini akan sirna dan musnah, kemudian akan diganti dengan bumi yang baru dalam keadaan yang jauh berbeda dengan keadaan bumi yang kita tinggali. Pada bumi yang baru itulah manusia akan dikumpulkan. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 47) (lihat Fathul Bari:11/456)

Wallahu a’lam bish shawab

Penulis: Ustadz Abu Ahmad

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *