MERAIH KEUTAMAAN DI BULAN RAMADHAN

Rasulullah bersabda,

 إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

Apabila datang bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim no. 1793 dari shahabat Abu Hurairah )

Para pembaca yang berbahagia. Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa yang telah Allah pilih diantara bulan-bulan lainnya dalam setahun dengan berlimpah keutamaan dan keberkahan di dalamnya.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad – seorang ulama besar Arab Saudi yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi hingga saat ini – berkata, “Sebagaimana Allah telah memberikan keutamaan kepada sebagian manusia atas sebagian yang lain dan memberikan keutamaan pada sebagian tempat atas sebagian yang lain maka demikian pula Allah memberikan keutamaan pada sebagian waktu atas sebagian yang lain, diantaranya adalah Allah memberikan keutamaan pada bulan Ramadhan – yang diberkahi – dan memberikan keistimewaan padanya dibandingkan bulan- bulan yang lainnya serta memilih bulan Ramadhan untuk menjadi bulan wajib berpuasa bagi manusia. Allah berfirman,

“Dan Rabbmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.” (al-Qashash 68).” (Al-‘Ibrah fi Syahri Shaum hal. 2)

Dahulu Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para shahabat manakala bulan Ramadhan tiba dan menerangkan kepada mereka berbagai keutamaannya. Beliau memompa semangat para shahabat untuk bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh baik amalan yang wajib maupun yang sunah seperti shalat, shadaqah, berbuat baik dan bersabar dalam ketaatan kepada Allah.

Menghabiskan waktu siangnya dengan berpuasa dan waktu malamnya dengan melakukan shalat tarawih. Diselingi pula dengan membaca al-Quran dan berdzikir kepada Allah. Maka gunakanlah waktu di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Barangsiapa melalaikannya dan berpaling darinya maka ini merupakan tanda kerugian.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan suci Ramadhan mempunyai banyak keutamaan, antara lain:

  • Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta setan-setan dibelenggu. Hadits tersebut menerangkan berbagai keutamaan yang sangat agung pada bulan yang diberkahi ini (Ramadhan) yaitu:
  1. Pintu-pintu surga dibuka. Hal ini karena banyaknya amalan-amalan shaleh yang disyariatkan untuk diamalkan pada bulan tersebut yang dengannya akan memasukkan pelakunya ke dalam surga. Allah berfirman, “Masuklah ke dalam surga dengan sebab amalan yang telah kamu kerjakan.” (An-Nahl: 32)
  2. Pintu-pintu neraka ditutup pada bulan Ramadhan. Hal ini dikarenakan sedikitnya perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan pada bulan tersebut yang dengannya akan menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka. Allah berfirman, “Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya.” (an-Nazi’at: 37-39)
  3. Para setan dibelenggu. Yaitu para setan diikat dan dirantai pada bulan Ramadhan. Sehingga mereka tidak mampu untuk menggoda dan menyesatkan kaum muslimin dengan berbagai kemaksiatan dan juga tidak mampu memalingkan kaum muslimin dari beramal shaleh sebagaimana mereka biasa melakukannya di selain bulan Ramadhan. Terhalangnya para setan pada bulan yang diberkahi ini untuk melakukan amalan yang jelek merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kaum muslimin dalam rangka memberikan kesempatan untuk beramal kebaikan dan menghapus kejelekan. (Ittihaf Ahlil Iman bi Durus Syahri Ramadhan lil Fauzan, hal. 16).
  • Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah pilih sebagai bulan diturunkannya al-Quran. Allah berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan salah). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Al-Baqarah:185). Al-Imam Ibnu Katsir – seorang ulama ahli tafsir dan hadits dari kalangan Syafi’iyyah yang berasal dari kota Damaskus – menafsirkan, “(Dalam ayat tersebut) Allah memuji bulan puasa (bulan Ramadhan) diantara bulan-bulan yang lainnya yaitu dengan memilihnya diantara bulan-bulan lainnya untuk diturunkan al-Quran pada bulan tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/501)
  • Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah pilih sebagai bulan puasa yang mana Allah akan mengampuni dosa-dosa bagi siapa yang melaksanakannya. Rasulullah bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu baginya.” (HR. al-Bukhari no. 1875 dan Muslim no. 1268 dari shahabat Abu Hurairah). Ibnul Mundzir – seorang ulama ahli hadits dan fiqih dari kalangan Syafi’iyyah yang berasal dari kota Naisabur – berkata, “Makna kalimat ‘karena keimanan’ adalah karena membenarkan bahwasanya Allah telah mewajibkan puasa baginya.” (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Bathal, 4/149). Maksud kalimat ‘maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu baginya’ adalah bersifat umum – yang diharapkan bagi orang yang mengamalkan sebagaimana yang  disebutkan dalam hadits – yaitu akan diampuni baginya seluruh dosa-dosanya baik kecil maupun besar, dikarenakan tidak disebutkan padanya pengecualian dosa. (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Bathal, 4/149-150).

Apabila ada yang bertanya, “Orang yang terhalang berpuasa -misalnya- karena sakit sehingga dia meninggalkan puasa Ramadhan – sementara kalau dia tidak sakit maka dia akan berpuasa dan berniat untuk berpuasa – apakah juga akan mendapatkan keutamaan yang demikian?”

Jawabannya adalah iya, dia akan mendapatkan keutamaan yang demikian sebagaimana orang yang sakit kemudian shalat dalam keadaan duduk karena halangan tersebut maka dia tetap mendapatkan pahala seperti orang yang shalat dalam keadaan berdiri. (Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari, 2/125)

  • Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang sangat mulia yang sangat diharapkan kedatangannya oleh orang-orang yang beriman yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu? Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik daripada 1000 bulan.” (Al-Qadar: 1-3). Maksud ayat ‘lebih baik daripada seribu bulan’ diterangkan oleh Dr. Shaleh bin Fauzan al-Fauzan – seorang ulama besar Arab Saudi dan sekarang menjabat sebagai anggota Majelis Ulama Senior dan anggota Komite Tetap Penelitian Dan Fatwa Arab Saudi– bahwa pahala amalan yang dilakukan pada malam yang mulia tersebut (Lailatul Qadar) adalah setara dengan (pahala) amalan yang dilakukan selama 1000 bulan (83 tahun) yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar. (Ittihaf Ahlil Iman bi Durus Syahri Ramadhan, hal. 66).

Subhanallah, keutamaan yang luar biasa, pahala amalan shaleh yang dikerjakan pada satu malam saja (Lailatul Qadar) setara dengan pahala amalan yang dikerjakan selama 83 tahun tanpa Lailatul Qadar. Apakah kita mampu secara terus menerus  beramal shaleh selama 83 tahun? Usia kita sendiri belum tentu mencapai 83 tahun. Oleh karena itu, bersemangatlah untuk bisa mendapatkan Lailatul Qadar.

Kapan kita bisa mendapatkan Lailatul Qadar?

Rasulullah bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no. 1878 dari shahabat Aisyah)

Penutup

Nabi kita Muhammad sangat bersemangat pada bulan Ramadhan melebihi semangatnya pada bulan-bulan yang lainnya meskipun beliau adalah orang yang bersungguh-sungguh untuk beribadah pada setiap waktu. Beliau benar-benar menyibukkan dan menghabiskan waktunya untuk beribadah pada bulan tersebut dengan melakukan amalan-amalan shaleh. Demikian pula generasi yang datang setelahnya, mereka mencontoh amalan  Rasulullah pada bulan tersebut.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifqi

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *