Keteladanan Para Ulama di Bulan Ramadhan

Bagi umat Islam, perjumpaan dengan bulan Ramadhan merupakan momen istimewa. Harapan untuk bertemu dengannya selalu mengisi sanubari di sepanjang perjalanan. Ibarat seorang pengusaha, peluang emas meraih keuntungan yang melimpah hadir di depan mata.

Pada kehidupan generasi terdahulu (salaf), begitu terasa keistimewaan bulan yang penuh berkah ini. Mereka pun melaluinya dengan penuh kesungguhan. Para pembaca, marilah kita bersama menengok keteladanan para ulama dalam meraih keutamaan bulan Ramadhan. Berbagai kisah yang menakjubkan terangkai dalam tulisan berikut ini.

Persiapan Menyambut Ramadhan

Ketika hati merasakan kerinduan, harapan untuk berjumpa demikian besar. Maka hamba-hamba Allah yang shaleh bersiap, menyambut kedatangan bulan penuh ampunan.

Dahulu, para ulama berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Selepas bulan Ramadhan, mereka juga senantiasa berdoa selama 6 bulan berikutnya agar Allah menerima amalan mereka.

Dahulu, Yahya bin Abi Katsir berdoa memohon perjumpaan dengan bulan Ramadhan, “Ya Allah Rabb kami, selamatkanlah aku agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan, selamatkanlah aku agar berhasil menjalani Ramadhan, serta terimalah amalanku.”

As-Subki memiliki kebiasaan apabila memasuki bulan Sya’ban, maka beliau tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Hal ini beliau kerjakan hingga datang bulan Ramadhan.

‘Amru bin Qais menutup tokonya bila memasuki bulan Sya’ban. Tidak ada kegiatan yang beliau kerjakan pada saat itu selain membaca al-Qur’an.

Membaca al-Qur’an

Bulan Ramadhan, bulan al-Qur’an. Para ulama bersemangat mengisi waktu di bulan ini dengan bacaan al-Qur’an. Mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Al-Imam asy-Syafi’i biasa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 30 kali setiap bulannya. Adapun di bulan Ramadhan, beliau senantiasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali.

Al-Imam al-Bukhari senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an setiap harinya pada siang bulan Ramadhan. Adapun malam hari, beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari selepas shalat Tarawih.

Waki’ bin al-Jarrah biasa membaca al-Qur’an pada setiap malam bulan Ramadhan sekaligus mengkhatamkannya.

Al-Aswad bin Yazid biasa mengkhatamkan al-Qur’an setiap enam hari sekali. Adapun pada bulan Ramadhan, beliau senantiasa mengkhatamkannya selama dua hari.

Sa’id bin Jubair pun demikian. Beliau biasa mengkhatamkan al-Qur’an selama dua hari di bulan Ramadhan.

Zuhair bin Muhammad biasa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 90 kali di bulan Ramadhan.

Qatadah biasa mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga hari di bulan Ramadhan. Adapun pada sepuluh hari terakhir, beliau dapat mengkhatamkannya pada setiap malam.

Yahya bin Ma’in senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan.

Ibnu ‘Asakir biasa mengkhatamkan al-Qur’an selama sepekan. Adapun di bulan Ramadhan, beliau senantiasa mengkhatamkannya setiap hari.

Demikian pula Ibrahim an-Nakha’i. Beliau rutin mengkhatamkan al-Qur’an selama tiga hari di bulan Ramadhan.

Aisyah, istri Nabi, beliau senantiasa membaca mushaf al-Qur’an di bulan Ramadhan. Setiap hari, beliau membacanya mulai selepas shalat Shubuh hingga waktu matahari terbit, kemudian beliaupun istirahat sejenak.

Adapun al-Qazwini. seusai mengerjakan shalat Tarawih, beliau membuka pelajaran tafsir. Beliau menafsirkan surat demi surat hingga tiba shalat Shubuh. Kemudian, al-Qazwini melanjutkan mengajar seperti biasanya di keesokan harinya.

Bila tiba bulan Ramadhan, Zabid al-Yami senantiasa menghadirkan mushaf dan murid-muridnya berkumpul di sekitarnya.

Mengerjakan Shalat Tarawih

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, keutamaan mengerjakan shalat malam menjadi bertambah besar. Mereka yang menjalankan dengan keimanan dan mengharapkan balasan dari Allah, maka baginya janji berupa dihapusnya dosa-dosa yang telah lalu.

Umar bin al-Khaththab memerintahkan Ubay bin Ka’b dan Tamim ad-Dari untuk mengimami kaum muslimin pada shalat Tarawih. Mereka biasa membaca 200 ayat (dalam satu rakaat) hingga jamaah shalat bersandar kepada tongkat-tongkat mereka karena lamanya berdiri. Kaum muslimin menyelesaikan shalat Tarawih mendekati waktu Shubuh.

Abdullah bin Umar biasa mengimami kaum muslimin pada shalat Tarawih dengan bacaan yang lama hingga mendekati waktu shalat Shubuh pula.

Abu Raja’ mengimami shalat Tarawih. Beliau membaca tiga juz dalam satu kali shalatnya.

Di bulan Ramadhan, Sa’id bin Jubair mengimami shalat Tarawih dengan dua qira’at (bacaan), qira’at Ibnu Mas’ud serta Zaid bin Tsabit.

Ali bin Nashr mengerjakan shalat Tarawih dengan mengkhatamkan al-Qur’an setiap malamnya hingga kedua kakinya membengkak.

Sikap Dermawan

Sedekah dan infak adalah ibadah yang dicintai Allah. Namun, tatkala hal ini dilakukan di bulan Ramadhan, maka balasan akan dilipatgandakan bagi pelakunya.

Hammad bin Abi Salamah biasa memberi jamuan berbuka kepada 100 orang tiap hari pada bulan Ramadhan. Beliau juga menyedekahkan pakaian dan uang 100 dirham kepada masing-masing mereka pada malam Idul Fitri.

Al-Imam Ibnu Syihab senantiasa memberi makan kepada sejumlah kaum muslimin ketika memasuki bulan Ramadhan.

Dahulu, Abdurrahman bin Abi Ni’am menyediakan hidangan berbuka puasa sebanyak dua kali saat Ramadhan. Maka kawan-kawannya berkata, “Bagaimana keadaanmu wahai Abul Hikam?”. Maka beliau berujar, ”Apabila kita adalah para pelaku kebaikan, maka betapa mulia orang-orang yang bertakwa. Apabila kita adalah para pendosa, maka betapa hina orang-orang celaka.”

Mencari Lailatul Qadar

Allah telah memilih Ramadhan dengan mengutamakannya dibandingkan semua bulan. Allah pun memilih malam Lailatul Qadar yang lebih utama daripada seribu bulan. Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar karena iman dan penuh harap, maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah lalu.

Para shahabat Nabi beri’tikaf di dalam masjid ketika memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Apabila menduga adanya Lailatul Qadar, maka Anas bin Malik mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaiannya. Demikian pula dengan Tamim ad-Dari, beliau segera mengenakan pakaiannya seharga seribu dirham.

Ayyub as-Sakhtiyani segera mandi, mengenakan dua baju barunya, dan mengharumkan diri dengan mijmarah (sejenis dupa wangi) pada malam yang diharapkan terjadi Lailatul Qadar. Demikian pula Tsabit al-Bunani dan Humaid ath-Thawil mengenakan pakaian terbaiknya, memakai wewangian, lalu mengharumkan masjid dengan nadhuh dan dukhnah (sejenis dupa wangi). Adapun Ibrahim an-Nakha’i selalu mandi tiap malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Abu Bakrah demikian bersungguh-sungguh dalam beribadah apabila memasuki sepuluh hari terakhir. Sa’d bin Ibrahim biasa mengkhatamkan al-Qur’an pada malam yang diduga Lailatul Qadar. Sejumlah ahli ibadah sengaja berdoa pada malam itu dan Allah mengabulkan doa mereka.

Di Penghujung dan Seusai Ramadhan

Bulan yang penuh dengan keutamaan pun berlalu. Beragam janji kebaikan, apakah bisa diraih? Sekian amalan shaleh, apakah diterima? Demikian kiranya gejolak hati hamba-hamba yang mengharap ridha-Nya.

Di penghujung Ramadhan, Ali bin Abi Thalib berujar, “Aduhai, sekiranya aku mengetahui siapa yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah yang ditolak amalannya agar aku mengucapkan bela sungkawa kepadanya.” Kalimat senada juga diungkapkan oleh Ibnu Mas’ud.

Sebagian ulama malah menampakkan kesedihan pada hari raya Idul Fitri. Hingga seseorang datang menanyakan, “Sesungguhnya hari ini adalah hari berbahagia dan bersenang-senang. “

Maka ulama tersebut menjelaskan, “Engkau benar, akan tetapi aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mengerjakan suatu amalan untuk-Nya. Maka aku tidak mengetahui apakah amalanku diterima atau tidak.”

Dahulu, Wahb bin al-Ward apabila melihat kaum muslimin tertawa-tawa di hari Idul Fitri, maka beliau mengatakan, “Jika mereka termasuk orang-orang yang diterima ibadah puasanya, maka hal ini bukanlah amalan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersyukur. Apabila mereka termasuk orang-orang yang ditolak ibadah puasanya, maka hal ini bukanlah amalan yang dikerjakan oleh orang-orang yang takut (kepada Allah).”

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, kisah demi kisah yang terlewati membuat jiwa-jiwa ini merasa kecil. Serasa tak akan mampu diri kita berbuat hal yang sama. Tetapi, apakah seorang yang bijak akan meninggalkan semua, padahal dia mampu mengerjakan walaupun sedikit.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga di bulan Ramadhan nan penuh keberkahan. Dan semoga Allah merahmati penduduk negeri ini, menghilangkan berbagai musibah, serta memberi taufik agar umat Islam bertobat dan kembali kepada agama-Nya. (Sumber bacaan: Al-Bidayah Wa Nihayah, Siyar A’lamin Nubala’, Hilyatul Auliya’, Lathaiful Ma’arif).

Wallahu a’lam bishshawab

Penulis: Ustadz Muhammad Hadi

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *