HUMANISME KERAJAAN ARAB SAUDI

Nabi Ibrahim telah memohon kepada Allah:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman…”  (Ibrahim : 35)

Arab Saudi, negeri aman sentosa, makmur dan sejahtera

Kota Makkah al-Mukarramah – kota suci utama kaum muslimin – kini berada di bawah wilayah Kerajaan Arab Saudi. Berkat rahmat Allah kemudian kerja keras dan perjuangan pemerintah Arab Saudi yang didukung oleh para ulamanya, negara tersebut hingga kini merupakan negara yang makmur, stabilitas politik, ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanannya sangat kuat. Rakyat tidak disibukkan dengan hiruk pikuk dan kegaduhan politik.  Angka kriminalitas sangat minim, narkoba tak diberi kesempatan sedikitpun, radikalisme dan liberalisme tak dapat tempat.

Namun banyak tuduhan negatif terhadap negara Islam yang mulia ini. Mulai dari tuduhan Wahabisme, antek Yahudi dan Amerika, sampai pada tuduhan radikal dan mendalangi terorisme.

Maka pada edisi kali ini, kami menampilkan salah satu sisi penting terkait Kerajaan Arab Saudi yang jarang diungkap di publik. Dengan harapan, sebagai pencerahan dan materi pembanding terhadap tuduhan negatif tersebut, sehingga dapat bersifat objektif dan proporsional.

Kepedulian arab saudi terhadap kaum muslimin

Salah satu yang menjadi perhatian dan tanggung jawab Kerajaan Arab Saudi adalah menebar dakwah, keamanan, dan kasih sayang ke seluruh dunia Islam.

Hal ini berdasarkan firman Allah: “Kaum mukminin dan kaum mukminat, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah : 71)

Bertolak dari prinsip-prinsip Islam yang menanamkan ikatan Ukhuwwah Islamiyyah, Kerajaan Arab Saudi tampil terdepan dalam memberikan kepedulian terhadap penderitaan dan duka nestapa yang dialami oleh saudara-saudaranya seiman.

Mengenal Lembaga-Lembaga Sosial dan Kemanusiaan Arab Saudi

Setidaknya ada tiga lembaga resmi yang telah dibentuk oleh Pemerintah Arab Saudi,

  1. Organisasi Bantuan Negara-Negara Islam International
  2. Forum International Pemuda Islam
  3. Lembaga Donasi Arab Saudi

Menyusul berikutnya : Raja Salman Centre, untuk Bantuan Kemanusian.

Ketika mendampingi kunjungan resmi Menteri Agama ke Arab Saudi atas undangan Menteri Urusan Islam Kerajaan Arab Saudi, salah seorang Konsul Haji di Konsulat Jenderal RI mengungkapkan dalam tulisannya, “Ada wajah humanis yang menguat di benak penulis tentang Arab Saudi.” Dia juga mengatakan, “Realita humanisme Saudi berlanjut walau tanpa peliputan masif media, mengungguli humanisme Barat yang cenderung lebay dan penuh agenda. Fakta dan data berbicara lebih kuat dan humanisme Saudi bukan basa-basi.”

Sekelumit Fakta dan Data

  • Raja Arab Saudi melalui Yayasan Makkah al-Mukaramah perwakilan Indonesia telah membangun 850 masjid selama kurun waktu 12 tahun (2003 – 2015) di Indonesia.
  • Bantuan terhadap kaum muslimin Aceh dalam musibah Tsunami, tahun 2004 silam. Bantuan tersebut berjalan sejak 2004 hingga 2014, total mencapai 70 juta Dolar Amerika. ”Begitu musibah terjadi, Raja Fahd mengimbau rakyat Arab Saudi untuk mengumpulkan bantuan,” kata perwakilan Arab Saudi. Dia menyampaikan bahwa anak-anak di Saudi dengan sukarela menyisihkan uang jajannya dan ibu-ibu memberikan perhiasannya. ”Itu menunjukkan solidaritas yang diberikan masyarakat Saudi kepada Indonesia,” tegasnya.
  • Santunan terhadap Aceh terus dilanjutkan pada masa pemerintahan Raja ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz. Pada masa beliau, Arab Saudi telah menyalurkan beasiswa melalui OKI Indonesia kepada lebih dari 13 ribu anak yatim di Aceh. Hingga 2014, sebanyak 5.310 anak yatim Aceh aktif menerima bantuan beasiswa setiap bulannya. Pada September 2014 sebanyak 105 anak yatim korban Tsunami asal Aceh diundang secara khusus oleh Raja Abdullah untuk menunaikan ibadah haji.
  • Arab Saudi pada tahun 2008 mendonasikan dana sebesar US$ 500 juta (±Rp 4,5 Triliun) dalam upaya membantu mencapai jumlah total US$755 juta yang ingin diraih oleh Program Pangan Dunia milik PBB untuk memerangi krisis harga pangan dunia
  • Pasca hujan deras dan banjir besar yang menimpa sebagian besar negeri Sudan. Raja Arab Saudi memerintahkan untuk memberikan US$10 juta (±Rp 120 Miliar) bantuan darurat untuk korban banjir besar di Sudan. Ini pada tahun 2013.
  • Bantuan untuk kaum muslimin Rohingya di Myanmar. Tatkala dunia international bungkam, tak berbuat apa-apa terhadap muslimin Rohingya, Arab Saudi tampil mengulurkan tangannya. Selain menampung pengungsi Rohingya di negaranya semenjak tahun 1968 dan memberikan status kewarganegaraan gratis pada 250.000 pengungsi, pada Agustus 2012 atas perintah Raja Abdullah pemerintah Arab Saudi juga telah memberikan bantuan dana sebesar US$50 juta (Rp 486 miliar) kepada Rohingya.
  • Pada musim haji tahun 2015 terjadi bencana badai yang mengakibatkan robohnya crane milik perusahaan Bin Ladin di Masjidil Haram, yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa dari berbagai negara. Raja Salman bin Abdul ‘Aziz berinisiatif mengeluarkan santunan dari harta pribadinya kepada para korban. Bantuan diberikan kepada setiap keluarga korban yang wafat atau cacat tetap dengan besaran SR 1.000.000 (berkisar Rp 3,8 miliar) dan kepada korban yang mengalami luka sebesar SR 500.000 (±Rp 1,9 miliar), disebutkan pula tentang undangan berhaji bagi keluarga korban. Kedubes Saudi untuk Indonesia pada november 2016 kemarin mengatakan, “Pemerintah Saudi tetap pada janjinya akan memberikan santunan sesuai dengan janji.”

Kepedulian untuk kaum muslimin Palestina

Adapun bantuan Kerajaan Arab Saudi untuk  kaum  muslimin tertindas di Palestina, maka tak terhitung lagi berapa kali dan berapa besarnya. Di antaranya, pada hari Ahad 13 Juli 2014 Raja Abdullah bin Abdul ‘Aziz Aalu Su’ud mengucurkan bantuan dana kepada Palestina di Gaza sebesar 200 juta riyal Saudi (Rp 620 miliar) untuk korban dampak konflik antara Israel-Gaza. Kemudian dua pekan setelahnya, pada 25 Juli 2014 sebesar SR 100 Juta (US$27 juta) kepada Kementrian Kesehatan Palestina, karena serangan dari Israel (baca : Yahudi) tak kunjung berhenti.

Pada 17 Agustus 2014, dalam pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam, Perdana Menteri Palestina menyatakan terima kasih dan apresiasinya kepada Raja dan Kerajaan Arab Saudi untuk segala dukungan, bantuan, rekonstruksi, kepemimpinan dan untuk selalu berdiri di sisi Palestina. Arab Saudi juga menutupi kebutuhan belanja Palestina untuk tiga bulan terakhir pada tahun 2014 dengan bantuan langsung tunai sebesar US$60 juta.

Kepedulian untuk kaum muslimin Suriah

Demikian pula bantuan untuk kaum muslimin tertindas di negeri Suriah, terlalu banyak untuk dihitung. Yang paling baru, paska bombardir terhadap kota Aleppo pada Desember 2016 lalu oleh Rezim Syi’ah Basyar Assad, yang menelan sekian banyak korban dari kaum muslimin yang lemah, maka Raja Salman bin Abdul ‘Aziz mengajak rakyatnya menggalang bantuan untuk warga Suriah korban perang, khususnya warga Aleppo. Raja sendiri telah menyumbangkan uang dana pribadi sebesar 20 juta Riyal Saudi (Rp 70 Miliar), diikuti Pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdul Aziz sebesar 10 juta Riyal dan Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz sebesar 8 juta Riyal. Serta mengalokasikan dana Negara 100 juta Riyal atau sekitar Rp 483,6 miliar. Beberapa hari setelahnya, terkumpul dana dari rakyat Arab Saudi sebesar 223 juta Riyal atau sekitar Rp 780 miliar.

Belum lagi bantuan Arab Saudi terhadap jihad di Afghanistan dari kekejaman penjajah Komunis Uni Soviet. Arab Saudi memberikan dukungan berupa bantuan sosial dan bantuan tenaga para mujahidin. Juga bantuan terhadap tragedi yang menimpa kaum muslimin Bosnia, akibat kekejaman Serbia.

Demikian pula tatkala meletus perang Teluk, akibat invasi militer Saddam Husein ke Kuwait. Dengan dukungan fatwa para ulama yang duduk di Majelis Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Raja Fahd tampil aktif menghentikan kejahatan Saddam Husein.

Sekali lagi, apa yang tersaji di atas, hanya sekelumit saja dari lembaran catatan berbagai sumbangan, dana bantuan, dan bentuk kepedulian Arab Saudi terhadap Dunia Islam. Di antara yang masih belum diuraikan di atas, pencetakan mushaf al-Qur’an dan pembagiannya ke seluruh dunia, pembangunan masjid-masjid di berbagai penjuru dunia, pembangungan Islamic Centre di banyak negara dan pembangunan perguruan tinggi Islam di banyak negeri muslimin.

Namun, mungkin sangat sedikit yang tahu bahwa ternyata Arab Saudi merupakan negara yang sangat humanis. Kenapa demikian?  Kenapa berbagai “jasa baik” Arab Saudi tersebut seakan tak terekspos? Dijelaskan oleh Konsul Haji di Konsulat Jenderal RI, bahwa setidaknya ada dua faktor:

Pertama, kecenderungan sebagian media yang terjebak dalam kampanye terorisme Barat. Seolah radikalisme, fundamentalisme dan terorisme itu dari Wahabisme dengan tujuan politis, ekonomis, bahkan ideologis. Anggapan ini tentu keliru, bahkan Saudi menjadi salah satu negara Timur Tengah yang paling keras perlawanannya terhadap radikalisme, fundamentalisme dan terorisme.

Kedua, ikhlas tanpa publikasi. Sengaja pihak Saudi tidak memublikasikan bantuan, karena memang ajaran Islam tidak menganjurkan publikasi kebajikan yang telah diberikan.  Allah berfirman,

“Sesungguhnya kami memberi makanan kalian hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki dari kalian adanya balasan dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”  (al-Insan : 9)

Semoga Allah mengokohkan dan terus memberkahi perekonomian dan stabilitas keamanan Kerajaan Arab Saudi. Menjaga pemerintah, ulama, dan rakyat Arab Saudi dari berbagai kejelekan dan makar jahat musuh-musuhnya. Demikian pula tentunya, negara kita Indonesia. Amin.

Wallahu a’lam Bish Shawab

Penulis: Ustadz Alfian

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *