Menjaga Buah Hati Agar Tetap Diatas Fitrah Suci

Setiap bayi terlahir ke bumi di atas fitrah suci. Sebuah fitrah yang mengakui bahwa Allah sang Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur alam semesta. Sebuah fitrah yang mengharuskan seseorang beribadah hanya kepada Allah semata. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya saja, orang tua yang kemudian mengambil peran. Apakah orang tua tetap menjaga fitrah suci itu, ataukah sebaliknya.

Buah Hati dan Fitrah Suci

Pembaca yang kami hormati, itulah makna firman Allah,

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak   Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian  terhadap jiwa mereka, “Bukankah  Aku  ini   Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau adalah Rabb kami), kami menjadi saksi.” (al-A’raf: 172)

Dalam ayat lain, dinyatakan (artinya),

“Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif (menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya). Itulah fitrah Allah yang manusia diciptakan di atasnya.” (ar-Rum: 30)

Oleh karena itu, Rasulullah bersabda,

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ -وَفِيْ رِوَايَةٍ: عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ-

“Setiap anak terlahir di atas fitrah.” Dalam riwayat lain, “Di atas agama ini (Islam).” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Peran Utama Orang Tua

Itulah fitrah suci yang manusia diciptakan di atasnya. Namun, pada fase berikutnya, orang tua yang memiliki banyak peran terhadap terjaganya fitrah tersebut. Apakah orang tua mempertahankan fitrah tersebut atau justru merubahnya.

Makanya, dalam lanjutan hadits di atas, Rasulullah mengatakan, “Kedua orang tuanya yang akan menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Dari sinilah, peran orang tua sangat besar sekali. Baiknya orang tua menjadi kebaikan bagi anaknya.

Pembaca rahimakumullah, melalui buletin ini, kita akan menyimak bimbingan salah satu orang tua terbaik dalam menjaga sang buah hati agar tetap di atas fitrah suci. Dia bukan seorang nabi, bukan pula seorang rasul. Akan tetapi namanya diabadikan sebagai salah satu nama surah dalam al-Qur’an. Bahkan, nasehat-nasehatnya menjadi rangkaian ayat dalam surah tersebut. Benar, dia adalah Luqman al-Hakim.

Nasehat Luqman al-Hakim tersebut terdapat dalam surah Luqman ayat 13 – 19. Mari kita simak beberapa nasehat tersebut. Semoga kita bisa meneladani Luqman dalam mendidik putra dan putri. Allah berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik (mempersekutukan) Allah, sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezhaliman yang besar‘.” (Luqman: 13)

Pembaca, melalui dua ayat ini, tersirat pesan bahwa orang tua wajib menjaga fitrah suci sang buah hati. Setidaknya 3 poin penting yang dikandungnya, yaitu:

  1. Tetap bertauhid kepada Allah
  2. Jangan berbuat syirik
  3. Berbakti kepada orang tua

Tauhid, wasiat pertama

Nasehat pertama adalah perintah agar anak tersebut hanya beribadah kepada Allah semata serta larangan dari perbuatan syirik. Itulah pondasi utama dalam hidup manusia.

Sejak dini, ditanamkan kepada diri anak agar selalu kembali kepada Allah. Ditanamkan kepada anak bahwa Allah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi. Dia-lah tempat meminta, bukan yang lainnya.

Ditanamkan pula kepada anak, bahwa Allah Maha Mengetahui perbuatan hamba. Dengan begitu, sang anak akan menjadi shalih dimanapun dia berada. Ia merasa diawasi oleh Allah. Si anak tidak akan mengambil barang orang lain sembunyi-sembunyi, karena ia sadar bahwa Allah melihatnya.

Sikap ini –muraqabah/merasa diawasi Allah– harus ditanamkan sejak dini. Berapa banyak anak berbuat jelek ketika tidak mendapat pengawasan dari orang tua atau pengajar. Orang tua dan pengajar bisa lengah dan lalai dalam mengawasi. Karena mereka adalah manusia biasa. Sedangkan Allah tidak pernah lalai.

Metode pendidikan Rasulullah

Pendidikan tauhid sejak dini juga ditanamkan oleh Rasulullah kepada para shahabatnya. Kepada Abdullah bin Abbas yang masih belia, Nabi berpesan,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Wahai anak, jagalah Allah! Allah pasti akan menjagamu. Wahai anak, Jagalah  Allah! Niscaya kamu mendapati-Nya selalu menolongmu.” (HR. at-Tirmidzi no. 2516 dari shahabat Abdullah ibnu Abbas)

Menjaga Allah diwujudkan dengan menjaga syariat-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Demikian pula dengan mempelajari ilmu agama yang dengannya seseorang bisa melaksanakan ibadah dengan benar. Ini semua bentuk penjagaan terhadap Allah.

Allah tidak butuh seorangpun untuk menjaga-Nya. Namun, yang dimaksud “menjaga Allah” adalah menjaga agama dan syariat-Nya. Hal ini seperti pada firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, Dia pasti menolongmu.” (Muhammad: 7)

Dengan menjaga agama Allah, seseorang akan selalu ditunjukan kepada jalan kebaikan dan dihindarkan dari jalan keburukan. (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Di antara bentuk tauhid yang harus ditanamkan kepada anak adalah meminta dan bertawakal hanya kepada Allah. Perhatikan pesan Rasulullah kepada Abdullah ibnu Abbas,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

 “Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah dan jika kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi no. 2516 dari shahabat Abdullah ibnu Abbas)

Anak dilatih menggantungkan permintaan hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk, termasuk kedua orang tua. Meminta tolong juga hanya kepada Allah, bukan kepada selainnya. Karena Dia-lah Maha Pemberi rezeki. Karena Dia-lah Maha Kuasa. Jangan sampai seorang anak bersandar kepada makhluk.

“Nak, mintalah segala sesuatu hanya kepada Allah!” Demikian yang harus ditanamkan kepada mereka. Orang tua bisa meninggal dunia kapan saja. Sedangkan Allah Dzat yang Maha hidup tidak akan pernah mati selama-lamanya.

Disamping perintah agar bertauhid kepada Allah, dengan segala konsekuensinya, orang tua harus memperingatkan anak dari perbuatan syirik. Sebab, kesyirikan merupakan lawan dari tauhid.

Larangan untuk berbuat kesyirikan mencakup larangan agar tidak beribadah kepada selain Allah, tidak meminta dan tidak bernadzar kepada selain-Nya. Rasa takutnya tidak ditujukan kepada makhluk, akan tetapi hanya untuk Allah saja. Tanamkan pula kepada anak agar jangan menyandarkan pertolongan kepada makhluk, baik kepada pohon, batu besar, tempat keramat, jimat, dan lain sebagainya.

Tanamkan pada jiwa anak,

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (al-Fatihah: 5)

Berbakti kepada orang tua

Pesan kedua yang harus ditanamkan kepada seorang anak adalah agar anak berbakti kepada kedua orang tua. Dalam banyak ayat perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua sering digandengkan dengan perintah untuk bertauhid. Hal ini menunjukkan besarnya hak orang tua.

Di antara contohnya adalah firman Allah,

Rabb-mu telah mewajibkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.” (al-Isra’: 23).

Demikian pula pesan Luqman al-Hakim kepada putranya. Sebagaimana pada surah Luqman ayat 13 dan 14.

Kedua orang tua –ayah dan ibu–merupakan penyebab adanya seorang manusia. Tanpa mereka, seseorang tidak mungkin ada di dunia. Sehingga keduanya memiliki hak yang begitu besar agar seorang anak berbuat baik dan berbakti kepada keduanya.

Saking besarnya hak kedua orang tua, Rasulullah menggambarkan,

لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِداً إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكاً فَيَشْتَرِيْهِ فَيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak akan bisa membalas kebaikan orang tua kecuali apabila anak tersebut menemukannya sebagai seorang budak kemudian ia membelinya lalu memerdekakannya.” (HR. Muslim no. 1510 dari Abu Hurairah)

Di antara makna hadits ini adalah membalas kebaikan kedua orang tua dengan balasan setimpal merupakan hal mustahil. Karena betapa besarnya jasa mereka kepada anaknya. Tidak bisa dibalas dengan harta. Sebab, kasih sayang ayah dan ibu tidak ternilai harganya.

Demikian beberapa bimbingan Islam agar anak tetap berada di atas fitrah suci. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk membimbing anak-anak kita dengan bimbingan Islam. Wallahu a’lam.

Penulis: Ust. Abu Abdillah Majdiy

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *