Ditiupnya sangkakala [Beriman kepada hari akhir 12]

Pagi itu adalah hari Jumat, manusia sedang berada pada kegiatannya masing-masing. Keadaan tampak normal sebagaimana hari-hari sebelumnya, namun siapa sangka bahwa hari itu adalah hari terakhir dalam sejarah kehidupan manusia di dunia.

Pagi hari itulah waktu yang sudah Allah pilih di mana Dia memerintahkan malaikat Israfil untuk meniupkan shur (sangkakala), suatu pertanda dimulainya prosesi hari kiamat.

Berapa kali ditiupnya sangkakala

Allah berfirman yang artinya,

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (an-Naml: 87)

Pada ayat yang lain Allah berfirman yang artinya,

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (az-Zumar: 68)

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa tiupan sangkakala terjadi dua kali sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnu Hajar, kedua tiupan tersebut yaitu:

  1. tiupan pertama yang mematikan seluruh makhluk hidup
  2. tiupan kedua yang membangkitkan manusia dari kuburnya.

Adapun tiupan yang membuat manusia terkejut yang disebutkan pada ayat an-Nam: 87 di atas tidak lain merupakan tiupan pertama, dan bukan tiupan tersendiri. Ini yang nampak dari zhahir ayat an-Naml: 68 di atas, demikian pula dalam sabda Rasulullah,

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّوْرِ, فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لَيْتًا وَرَفَعَ لَيْتًا قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوْطُ حَوْضَ إِبِلِهِ, قَالَ: فَيَصْعَقُ, وَيَصْعَقُ النَّاسُ, ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادَ النَّاسِ, ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْهِ أُخْرَى, فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُوْنَ

“Kemudian akan ditiup sangkakala maka tidak akan ada yang mendengarnya kecuali akan menolehkan lehernya atau mendongakkan lehernya. Yang pertama kali mendengarnya adalah seorang laki-laki yang sedang menambal tempat penampungan minum untanya, maka dia mati, lalu manusia pun mati. Kemudian Allah menurunkan hujan seperti embun maka dengannya jasad-jasad manusia (yang telah mati) akan tumbuh (kembali sempurna), kemudian sangkakala ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (HR. Muslim no. 2930 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr)

Semua makhluk akan mendengar dengan jelas tiupan sangkakala tersebut, dan saat mendengarnya mereka akan terkejut seraya menolehkan atau mendongakkan lehernya. Maka dalam hadits tersebut hanya terdapat dua kali tiupan sangkakala. Tiupan pertama, yang mengejutkan para makhluk, sekaligus tiupan di mana Allah akan mencabut nyawa makhluk-makhkluk-Nya. Adapun pada tiupan kedua Allah segera membangkitkan manusia untuk memperhitungkan amalan-amalan mereka.

Jarak antara dua tiupan

Dalam suatu hadits Rasulullah menjelaskan berapa lama jarak waktu antara tiupan pertama dengan tiupan kedua, beliau bersabda,

مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعِيْنَ

“Di antara dua tiupan ada jarak waktu empat puluh.”

Para perawi pun bertanya kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah apakah empat puluh hari?” Beliau menjawab, “Aku enggan.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Beliau menjawab: “Aku enggan.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh bulan?” Beliau menjawab, “Aku enggan.” (HR. al Bukhari: 4935 dan Muslim no. 2955 shahabat Abu Hurairah)

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘asqalany asy-syafi’i dalam kitab beliau Fathul Bari (8/702) tentang makna perkataan Abu Hurairah “Aku enggan”: yakni aku tidak mau untuk berbicara tentang penentuannya (secara persis) karena aku tidak memiliki dalil padanya

Kemudian Ibnu Hajar menyebutkan dua riwayat yang menunjukkan penentuan jaraknya secara persis, bahwa yang dimaksud adalah empat puluh tahun atau empat puluh bulan namun keduanya lemah. Maka tidak ada satu pun riwayat shahih yang menjelaskan apa yang dimaksud oleh Rasulullah dengan empat puluh dalam hadits tersebut.

Bentuk dan penamaan sangkakala

Sangkakala itu sendiri adalah berbentuk tanduk, ini dinyatakan sendiri oleh Rasulullah ketika ditanya oleh seorang arab badui, “Apa itu sangkakala?” Beliau bersabda,

الصُّوْرُ قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيْهِ

“Sangkakala adalah tanduk yang ditiup”

(HR. Abu Dawud no. 4742 dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Penyebutan sangkakala

Allah berulang kali menyebutkan peristiwa ditiupnya sangkakala ini di dalam al-Qur`an. Dalam penyebutan-penyebutan tersebut Allah tidak hanya menyebutkannya dengan satu nama, namun ada beberapa nama yang merujuk kepada satu peristiwa yang sama yaitu ditiupnya sangkakala. Di antaranya adalah ash-shaihah (الصَّيْحَةُ) yang bermakna teriakan. Allah berfirman yang artinya:

“Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya pengembalian.” (Shad: 15)

Allah juga menamakannya sebagai ash shakh-khah (الصّاخَّةُ) yang bermakna suara yang memekakkan, dinamakan demikian karena suara tiupan sangkakala tersebut sangat keras, memekakkan pendengaran dan hampir-hampir membuatnya tuli. Allah berfirman yang artinya:

“Dan apabila datang suara yang memekakkan, pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Dan bahkan Allah menamakan kedua tiupan sangkakala dengan dua nama yang berbeda, sebagaimana dalam firman Allah yang artinya,

“Pada hari ketika ar rajifah menggoncang alam, (kemudian) diiringi oleh ar radifah” (an-Nazi’at: 6-7)

Ar-rajifah secara harfiah bermakna “yang menggoncangkan”, sedangkan ar-radifah bermakna “yang mengikuti”. Ayat ini kemudian ditafsirkan oleh seorang shahabat yang dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud sebagai “Penafsir al-Qur’an terbaik”, yakni Ibnu ‘Abbas, bahwa ar-rajifah yaitu tiupan sangkakalan pertama, sedangkan ar radifah adalah tiupan kedua, penafsiran ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Sedangkan penamaan sangkakala,  disebutkan dalam al-Qur’an dengan dua istilah. Yang pertama adalah ash shur (الصور), yang bermakna tanduk. Ini Allah sebutkan dalam banyak ayat. Yang kedua yaitu an naqur (الناقور) yang Allah sebutkan dalam satu ayat saja, yaitu al-Muddatstsir ayat 8. Sedangkan dalam hadits Nabi datang penamaannya sebagai al-qarn (القرن) yang berarti tanduk. Adapun penyebutannya dengan sangkakala adalah padanan kata dari ash-shur dalam bahasa Indonesia. Pada asalnya sangkakala adalah sejenis alat tiup yang terbuat dari cangkang kerang yang biasa digunakan pada saat tertentu, seperti untuk meminta perhatian orang banyak atau ketika hendak mulai berperang dan mengumpulkan prajurit.

Malaikat peniup sangkakala

Sungguh malaikat peniup sangkakala sudah berada dalam keadaan siap siaga, menunggu perintah dari Allah untuk meniup, ia sama sekali tidak akan mendahului perintah Allah, namun apabila diperintah maka ia akan segera melaksanakannya tanpa ditunda. Rasulullah bersabda,

إِنَّ طَرْفَ صَاحِبِ الصُّوْرِ مُنْذُ وُكِّلَ بِهِ مُسْتَعِدٌّ يَنْظُرُ نَحْوَ الْعَرْشِ، مَخَافَةَ أَنْ يُؤْمَرَ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْهِ طَرْفُهُ، كَأَنَّ عَيْنَيْهِ كَوْكَبَانِ دُرِّيَّانِ

“Sesungguhnya mata malaikat peniup sangkakala semenjak diserahkan (kepadanya) sangkakala telah siap sedia selalu melihat ke arah ‘arsy, karena khawatir ia akan diperintahkan (untuk meniup sangkakala) sebelum sempat berkedip, kedua matanya laksana dua bintang yang berkilauan.” (HR Al Hakim dan dishahihkan oleh asy-syaikh al-Albani)

Rasulullah bersabda (artinya), “Bagaimana aku dapat menikmati hidup sedangkan pemegang tanduk (sangkakala) telah meletakkan bibirnya pada tanduk serta menaikkan dahinya, dan memusatkan pendengarannya menunggu kapan diperintah untuk meniupnya.” Kemudian kaum muslimin berkata, “Apa yang bisa kami katakan wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Katakanlah

  حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

(cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia-lah sebaik-baiknya pelindung, hanya kepada Allah kami bertawakkal)” (HR. Ahmad no. 11039 dari shahabat Abu Said al-Khudri)

Siapa nama malaikat peniup sangkakala tersebut? Telah datang hadits-hadits yang menyebutkan bahwa penamaan malaikat peniup sangkakala adalah Israfil, namun derajat dari hadits-hadits tersebut lemah dan tidak dapat dijadikan dalil penetapan nama Israfil bagi malaikat peniup sangkakala tersebut. Akan tetapi al-Imam al-Qurthuby menukilkan dalam tafsirnya kesepakatan umat yang ada bahwa yang meniup sangkakala adalah Israfil. Demikian pula Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/448) berkata: “Peringatan: telah masyhur bahwa peniup sangkakala adalah Israfil, dan al Hulaimy telah menukilkan ijma’ (kesepakatan ulama) tentang hal tersebut”, maka kesepakatan ulama ini cukup menjadi dalil bahwa nama malaikat peniup sangkakala adalah Israfil, terlebih lagi memang inilah nama yang sejak dahulu disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab aqidah dan tafsir.

Wallahu a’lam bish shawwab

Penulis: Ustadz Abu Ahmad Purwokerto

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *