Saat Kita Berobat

Di antara ketetapan Allah (sunnatullah) bagi hamba-Nya adalah sebagaimana yang tertuang dalam sebuah ayat,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan  dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya`: 35)

Yakni  akan adanya ujian yang menyapa baik berupa keburukan maupun kebaikan. Keburukan semisal musibah, dan kebaikan semisal kebahagiaan. Fungsinya adalah sebagai pembeda dan penyeleksi, siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Abdullah Ibnu Abbas ketika menjelaskan ayat ini mengatakan, “Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, maksudnya yaitu dengan kesempitan dan kelapangan hidup, kesehatan dan kesakitan, kekayaan dan kemiskinan,  halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan lalu Kami akan membalas amalan-amalan kalian.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/300)

Dengan adanya ketetapan ini, terkhusus dalam menyikapi keburukan dan musibah, bukan hal aneh jika masing-masing orang akan berusaha mencari solusi.

Para pembaca rahimakumullah, pada edisi kali ini Kami akan sedikit membahas tentang permasalahan berobat. Sebagaimana yang kita maklumi bersama, berobat merupakan salah satu usaha manusia dalam mencari solusi dari sakit yang sedang menimpanya.

Hal-hal Penting Saat Berobat

Hukum berobat.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab beliau Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zadil Mustaqni’, beliau membagi dan merinci hukum berobat dalam beberapa keadaan,

  1. Jika diketahui atau diyakini bahwa berobat sangat bermanfaat, disertai adanya kemungkinan buruk jika meninggalkannya, maka wajib untuk berobat.
  2. Jika diyakini bahwa berobat sangat bermanfaat dan tidak ada kemungkinan buruk jika meninggalkannya, maka lebih utama berobat.
  3. Jika keadaannya berimbang antara efek positif dan efek negatif, maka meninggalkan berobat lebih utama agar seseorang tidak terjatuh kepada kejelekan tanpa dia sadari.

Berobat tidak menafikan tawakal.

Para pembaca rahimakumullah, seseorang yang berobat bukan berarti tidak bertawakal kepada Allah. Justru usahanya untuk mengobati penyakitnya merupakan salah satu bentuk tawakal  kepada Allah. Bahkan lebih dari itu, usaha tersebut merupakan bentuk penyempurna tauhidnya kepada Allah.

Al-Imam Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau yang berjudul Zadul Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibad (4/14) setelah menyebutkan dalil-dalil anjuran untuk berobat, beliau menyatakan, “Maka pada hadits-hadits shahih ini terdapat perintah untuk berobat dan bahwasanya berobat tidaklah menafikan tawakal. Sebagaimana menghilangkan rasa lapar, haus, panas dan dingin dengan mengerjakan lawannya (yakni dengan makan, minum dan seterusnya) juga tidak menafikan tawakal. Bahkan tidaklah sempurna tauhid yang hakiki melainkan dengan melakukan sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sesuai dengan akibat-akibatnya secara pengalaman maupun syariat. Disisi lain mengabaikan berobat justru merupakan bentuk kekurangan pada sikap tawakal.”

Berobat dengan cara-cara yang diperbolehkan (mubah) dan tidak bertentangan dengan syariat.

Tidaklah ada sesuatu dari makhluk-makhluk Allah kecuali ada lawannya. Termasuk penyakit, ada obatnya sebagai lawan darinya. Jika obat itu tepat dan mampu mengatasi penyakit, seseorang akan sembuh dengan izin Allah. Tatkala Allah telah mencukupi kita dengan obat-obatan yang bermanfaat dan mubah, Allah melarang pula dari berobat dengan obat-obatan yang haram. Nabi bersabda,

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, namun jangan berobat dengan obat yang haram.” (HR. ad-Daulabi)

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda tentang khamr (minuman keras),

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

 “Sesungguhnya khamr itu bukanlah obat akan tetapi ia penyakit.” (HR. Muslim no. 1984 dari Thariq bin Suwaid)

Berobat yang paling dilarang adalah dengan metode pengobatan yang berbau kesyirikan. Sebut saja berobat kepada para dukun dan paranormal yang tentunya tidak diragukan lagi tentang kerjasama mereka dengan jin dan setan. Amalan-amalan nyeleneh yang mereka resepkan pun mau tidak mau dilakukan. Dari menyembelih hewan dengan ciri tertentu yang dipersembahkan untuk selain Allah, menulis tulisan-tulisan arab atau bahkan terkadang ayat-ayat al-Qur’an di secarik kertas atau kain untuk kemudian diletakkan di tempat khusus atau digantungkan, mandi tengah malam dengan ramuan 7 lembar kembang yang berbeda dan amalan-amalan yang menjatuhkan seseorang pada praktek kesyirikan lainnya.

Dikisahkan dalam riwayat al-Imam Ahmad bahwa suatu hari Rasulullah melihat seseorang mengenakan sebuah gelang di tangannya. Beliau bertanya “Apa ini?” “Ini untuk pencegah penyakit.” Jawab orang tersebut. Nabi lalu bersabda “Buang benda ini! Benda ini tidaklah menambah pada dirimu melainkan kelemahan. Jika engkau meninggal dunia sementara benda ini masih ada padamu maka sungguh engkau tidak akan beruntung selamanya.”

Maka, cukupkan dengan pengobatan yang mubah dan tidak bertentangan dengan syariat karena segala penyakit pasti ada jalan keluarnya.

Berobat hanya sekedar sarana.

Suatu hal yang harus terpatri dalam diri setiap insan bahwa berobat bukan sebagai penjamin datangnya kesembuhan. Ia hanya sekedar sarana dan bentuk usaha untuk mencapai kesembuhan. Yang demikian itu karena kesembuhan mutlak datangnya dari Allah, bukan dari obat atau orang yang mengobati. Obat akan manjur dan mengantarkan kepada kesembuhan dengan izin Allah dan kehendak-Nya. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit pasti ada obatnya. Bila sebuah obat tepat untuk sebuah penyakit maka dia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 2204 dari shahabat Jabir)

Allah mengabarkan ucapan Nabi Ibrahim,

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’ara`: 80)

Beranjak dari sini, tidak boleh bagi seorang hamba meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan sakitnya. Namun wajib baginya bersandar dan bergantung kepada Allah yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah tabaraka wa ta’ala.

Berobat dan istirahat.

Para pembaca rahimakumullah, tidak mengapa seseorang yang sedang sakit banyak menggunakan waktunya untuk istirahat. Hanya saja yang perlu diingat, tidak kemudian segala hal ikut diistirahatkan. Terlebih jika penyakit yang menimpa masih dalam taraf ringan. Sangat disayangkan, masih kita dapati sebagian orang di saat masa-masa pengobatan bermudah-mudahan meninggalkan shalat 5 waktu. Ironis memang, saat dirinya sedang menderita dan sangat butuh terhadap pertolongan Allah justru menjauh dari-Nya. Lebih memprihatinkan lagi manakala kemaksiatan malah dilakukan.

Semoga kita dijauhkan dari sikap yang demikian.

 

Doa, pengiring saat berobat.

Disamping berobat yang merupakan usaha  dalam memperoleh  kesembuhan, maka langkah selanjutnya adalah berdoa dan memohon pertolongan Allah. Karena doa merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Allah, Dzat Yang Maha mampu menyembuhkan dan menghilangkan segala kesulitan.

Allah berfirman,

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi?” (an-Naml: 62)

Di ayat yang lain Allah menyatakan;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu terbimbing dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Nabi mengingatkan kita semua;

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah merasa lemah!” (HR. Muslim no. 2664 dari shahabat Abu Hurairah)

Terkadang seseorang tertipu dengan kemampuan dirinya. Merasa bahwa apa yang dia upayakan dan usahakan pasti membuahkan apa yang diharapkan. Tatkala melihat dirinya memiliki kemampuan untuk berobat, timbul rasa takjub dan menyandarkan kesembuhan terhadap usaha yang dilakukannya hingga akhirnya lupa untuk berdoa, bersandar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha memberikan kesembuhan.

Oleh karena itu dalam hadits di atas Rasulullah mengingatkan kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memperoleh kebaikan kemudian mengiringinya dengan berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah.  Sungguh kalaulah bukan karena pertolongan Allah, maka tidak ada sedikitpun daya dan upaya yang bisa kita lakukan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab, .

Penulis: Ustadz Abdullah Imam

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *