KOBARKAN SEMANGAT IBADAH DIUSIA LANJUT

Rasulullah bersabda,

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

“Allah telah memberikan toleransi kepada seseorang dengan mengakhirkan kematiannya hingga usianya mencapai 60 tahun.”

(HR. al-Bukhari no. 5940 dari shahabat Abu Hurairah)

Para pembaca yang berbahagia. Hendaklah kita sadari bahwasanya keadaan akhir kehidupan seorang hamba di dunia akan sangat menentukan kebahagiaan dan kesengsaraannya pada kehidupan di akhirat kelak.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan melakukan amalan penduduk surga hingga tidak ada jarak antara dia dengan surga melainkan tinggal sejengkal saja. Kemudian takdir menentukan maka dia pun melakukan amalan penduduk neraka hingga diapun masuk ke dalam neraka. Dan sungguh salah seorang di antara kalian akan melakukan amalan penduduk neraka hingga tidak ada jarak antara dia dengan neraka melainkan tinggal sejengkal saja. Kemudian takdir menentukan maka dia pun melakukan amalan penduduk surga hingga diapun masuk ke dalam surga.” (HR. al-Bukhari no. 2969 dan Muslim no. 4781 dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud)

Maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk selalu istiqomah (kontinu) dalam beramal shalih, dan janganlah patah semangat meski telah lanjut usia (tua). Terlebih lagi tatkala usia masih muda, di saat semangat masih berkobar-kobar, jasmani masih sehat dan fikiranpun masih kuat, hendaklah lebih bersemangat lagi untuk memperbanyak amalan shalih, jangan sampai kalah dengan orang yang telah lanjut usia. Dikarenakan kita semua tidak mengetahui kapan ajal akan datang menjemput diri kita. Terkadang ajal menjemput seorang hamba tatkala usia masih muda belia, dan terkadang pula ajal menjemput seorang hamba di saat lanjut usia.

Penyesalan tiada guna akan dirasakan oleh para penghuni neraka kelak, tatkala mereka meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari neraka untuk dikembalikan lagi ke dunia agar bisa beramal shalih.

Maka Allah menyatakan,

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berfikir bagi orang yang mau berfikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?”

(Fathir: 37)

Para ulama pun berbeda pendapat di dalam menafsirkan kalimat “memanjangkan umurmu”, di antara berbagai tafsiran tersebut adalah: hingga mencapai usia 60th, 80th, 40th dan baligh.

Maka ayat ini menunjukkan bahwa semakin bertambah umur seseorang sudah sepantasnya baginya untuk berfikir, memikirkan masa depannya di akhirat nanti.

Sudah seberapa banyak bekal amal shalih yang akan dia bawa nanti di hadapan Allah? Tidak adakah keinginan baginya untuk menambah bekal tersebut dengan memperbanyak amal shalih?

Dan juga seberapa banyak kemaksiatan yang telah dia lakukan yang akan menjerumuskannya ke dalam jurang api neraka? Tidak adakah keinginan baginya untuk menghapus kemaksiatan tersebut dengan bertaubat kepada Allah?

Maka fikirkanlah wahai hamba-hamba Allah sebelum terlambat!

Makna Hadits

Dalam hadits diatas Rasulullah bersabda,

“Allah telah memberikan toleransi kepada seseorang dengan mengakhirkan kematiannya hingga usianya mencapai 60 tahun.”

Dari hadits ini difahami bahwa Allah telah memberikan toleransi usia kepada hamba-Nya hingga mencapai batas maksimal yaitu usia 60 tahun. Sehingga apabila seseorang telah dipanjangkan umurnya hingga mencapai usia 60 tahun maka tiada lagi toleransi atas kebodohannya terhadap ilmu agama. Terlebih lagi kalau dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin. Karena dengan rentang usia hingga 60 tahun, hakikatnya Allah memberikan kesempatan yang cukup panjang kepadanya agar dapat menuntut ilmu agama sehingga menjadi orang yang berilmu dari keadaan yang sebelumnya diliputi oleh kebodohan, untuk kemudian dia amalkan ilmu yang telah dipelajarinya tersebut.

Al-Imam Ibnu Baththal mengatakan, “Dijadikannya usia 60 tahun sebagai batas toleransi, dikarenakan usia tersebut adalah usia yang mendekati kematian dan usia (yang seharusnya) seorang hamba kembali (bertaubat) kepada Allah, khusyu dan mewaspadai datangnya kematian. Maka ini merupakan toleransi demi toleransi sebagai bentuk kelemah lembutan Allah kepada para hamba-Nya hingga mereka pun menjadi orang yang berilmu dari yang sebelumnya diliputi oleh kebodohan.” (Fathul Bari, juz 11, hlm. 240)

Subhanallah (Maha Suci Allah), sungguh betapa besar kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, hingga mereka masih diberikan kesempatan yang panjang untuk memperbanyak amalan shalih dan bertaubat dari berbagai dosa dan kesalahan. Namun sangat disayangkan, betapa sedikitnya manusia yang mau berfikir tentang hal ini.

Berbeda jauh dengan kondisi para salaf (generasi awal umat ini) dahulu, mereka telah mempersiapkan batasan usia tertentu khusus untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Malik, “Aku mendapati para ulama di negeri kami dalam keadaan mereka mencari dunia dan ilmu. Merekapun bergaul dengan masyarakat hingga salah seorang diantara mereka mencapai usia 40 tahun. Maka apabila usia mereka telah mencapai 40 tahun, merekapun akan mengasingkan diri dari manusia dan mulai menyibukkan diri dengan amalan ibadah hingga kematian datang menjemput.” (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal, juz 10, hlm. 152)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Maka yang wajib bagi seseorang untuk bersemangat (beramal) disaat lanjut usia, memperbanyak ketaatan kepada Allah, terlebih lagi pada perkara-perkara yang diwajibkan oleh Allah (seperti salat lima waktu) dan hendaklah memperbanyak kalimat istighfar (Astaghfirullah) dan tahmid (Alhamdulillah).“ (Syarh Riyadhush Shalihin, jilid 1, hlm. 132)

Batas Usia Umat Muhammad

Rasulullah bersabda,

اعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِيْنَ إِلىَ السَّبْعِيْنَ وَاَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ

 “Usia-usia umatku adalah antara 60 sampai 70 th dan sangat sedikit sekali yang bisa lebih daripada usia tersebut.” (HR. at-Tirmidzi no. 3473 dari shahabat Abu Hurairah)

Al-Imam Ibnu Baththal berkata, “Bahwasanya usia umat Muhammad antara 60 sampai 70 tahun adalah berdasarkan keumuman yang didukung dengan kenyataan, dan bahkan di antara mereka ada yang meninggal sebelum mencapai usia 60 tahun.” (Faidhul Qadir, juz 2, hlm. 15)

Dengan mengetahui hadits yang demikian, maka akan mendorong diri kita untuk segera memperbanyak amal shalih dan segera bertaubat dari kemaksiatan sebelum ajal datang menjemput diri-diri kita.

Hal ini sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah dari shahabat Abu Bakrah sebagai berikut,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah siapakah manusia yang paling baik?’, maka dijawab oleh Rasulullah, ‘Yaitu orang yang panjang usianya dan baik amalannya’. Kemudian dia bertanya kembali, ‘Siapakah manusia yang paling jelek?’, maka dijawab oleh Rasulullah, ‘Yaitu orang yang panjang usianya dan jelek amalannya’.”

(HR. at-Tirmidzi no. 2252 dari shahabat Abu Bakrah)

Keadaan Rasulullah

Menjelang Wafat

Sebagai umat Muhammad tentunya lebih pantas bagi kita untuk mengambil teladan dari beliau. Yaitu semangat beribadah kepada Allah di akhir hayat beliau. Menjelang wafatnya yang ditandai dengan turunnya ayat,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1)

Rasulullah memperbanyak ucapan dzikir berikut ini di dalam ruku’ dan sujudnya

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

 

“Maha suci Allah Rabb kami, dengan memuji Engkau, ampunilah kami.

(HR. al-Bukhari no. 775 dan Muslim no. 746 dari shahabat ‘Aisyah)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebelum meninggal, Rasulullah memperbanyak ucapan dzikir berikut di dalam ruku’ dan sujud:

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 “Maha suci Allah dan dengan memuji Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Muslim no. 747 dari shahabat ‘Aisyah)

Hal ini merupakan bentuk pengamalan perintah Allah dalam firman-Nya:

“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha Penerima Taubat.” (an-Nashr: 3)

Nasihat

Maka sudah sepantasnya bagi kita sebagai seorang muslim, untuk memperbanyak ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan kepada kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya baik di masa muda terlebih saat lanjut usia. Semoga Allah mematikan kita semua dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bish shawab

Penulis: Ustadz Abu ‘Abdirrahman Muhammad Rifqi

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *