Keteladanan para salafush shalih dalam beramal

Para pembaca rahimakumullah, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Hanya dengan taufik dan rahmat Allah semata kita dapat melaksanakan rangkaian ibadah di bulan suci tersebut, bulan yang penuh berkah. Kelak pada hari kiamat ia akan menjadi saksi bagi masing-masing kita. Saksi yang akan menguntungkan dan membela kita di hadapan Allah atau saksi yang akan memberatkan kita karena kejelekan dan kemaksiatan yang kita lakukan pada bulan tersebut.

Para salaf, generasi terbaik umat ini, mereka adalah orang-orang  yang senantiasa menjalankan ketaatan dan amalan ibadah kepada Allah. Akan tetapi bersamaan dengan itu mereka gusar, khawatir dan ketakutan jikalau amalan-amalan mereka bukan untuk Allah dan tidak diterima di sisi-Nya.

Mereka adalah orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan (melakukan) apa yang telah mereka berikan (lakukan), dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (al-Mu’minun: 60)

Yaitu dalam keadaan mereka yakin akan dibangkitkan kelak pada hari kiamat & akan berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan segala perbuatan mereka.

Ummul mukminin Aisyah bertanya kepada Rasulullah,

أَهُوَ الَّذِي يَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُ؟ قَالَ: لَا، يَا ابْنَةَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْه

“Apakah dia (orang yang takut jika amal kebaikannya tidak diterima) itu adalah orang yang berzina, meminum khamr dan mencuri?” Rasulullah berkata: “Tidak wahai putri ash-shiddiq akan tetapi mereka adalah orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah dalam keadaan dia takut jikalau amalannya tidak diterima oleh Allah.”  (Syarhul Aqidah ath-Thawiyah 2/449)

Demikian pula disebutkan oleh al-Imam Abdul Aziz Ibnu Rawwad,

أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُوْنَ فِي العَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوْهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الهَمُّ، أَيَقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟

“Aku mendapati para ulama salaf, mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan amalan shalih. Tatkala mereka selesai melakukan amalan tersebut, mereka khawatir apakah amal perbuatan mereka diterima (oleh Allah) atau tidak.” (Tafsir Ibnu Rajab 2/29)

Wasiat yang demikianlah yang disampaikan oleh as-salafus shalih dari kalangan para shahabat. Disebutkan oleh shahabat Ali bin Abi Thalib,

كُونُوا لِقَبُولِ أَعمَالِكُم أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنكُم بالعمل، ألم تَسْمَعُوا اللَّهَ عزَّ وجلَّ يقولُ: (إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّه من المُتَّقِيْنَ)

“Jadilah kalian orang-orang yang lebih memperhatikan diterimanya amalan-amalan kalian daripada pelaksanaan amalan-amalan tersebut. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: Sesungguhnya Allah hanya menerima dari hamba-hamba-Nya yang bertaqwa (al-Maidah: 7).” (Tafsir Ibnu Rajab 2/29)

Artinya, apabila seorang muslim menjalankan amal ibadah, hendaklah melakukannya dengan penuh perhatian. Dia melaksanakannya dengan sebaik mungkin. Dia berusaha untuk menjaga keikhlasan dan kekhusyu’an amal ibadahnya. Dia betul-betul memperhatikan agar amal ibadahnya terlaksana dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi yang lebih penting daripada hal itu, bagaimana caranya agar amalan tersebut diterima oleh Allah. Amalan yang diridhai dan dapat menyelamatkannya dari azab Allah pada hari kiamat kelak.

Tidak semua orang yang beramal kebaikan akan diterima amalannya. Hal inilah yang membuat para ulama salaf khawatir. Mereka takut jika ibadah dan ketaatannya tidak diterima oleh Allah.

Disebutkan oleh al-Imam Fudhalah Bin Ubaid,

لَأَنْ أَكُوْنَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِن خَرْدَلٍ أَحَبُّ إلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا؛ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُوْلُ: (إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّه مِنْ المُتَّقِيْنَ)

“Jika seandainya aku tahu bahwa Allah menerima amalan shalihku walaupun sebesar biji sawi. Maka hal itu lebih baik bagiku daripada dunia dan seisinya. Karena Allah berfirman: Sesungguhnya Allah hanya menerima dari hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.” (Tafsir Ibnu Rajab 2/29)

 Oleh karena itu Ibnu Rajab mengatakan,

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ. ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

“Dahulu mereka (para ulama salaf) berdoa kepada Allah 6 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Mereka memohon agar Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertemu bulan Ramadhan.” (Tafsir Ibnu Rajab 2/29)

Sehingga mereka bisa beribadah di bulan yang dilipatgandakan pahala dan diampuni segala dosa. Mereka mengisi hari demi harinya dengan berbagai ibadah dan amal shalih. Mereka berharap mendapatkan bulan tersebut.

“Setelah Ramadhan berlalu mereka kembali berdoa, memohon kepada Allah 6 bulan berikutnya agar Allah menerima ibadah mereka.” (Tafsir Ibnu Rajab 2/29)

Demikianlah keteladanan dari generasi terbaik umat ini. Melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya. Penuh keikhlasan kepada Allah dan sesuai tuntunan Rasul-Nya. Setelah itu mereka banyak-banyak berdoa, banyak memohon kepada Allah agar amal ibadahnya diterima oleh Allah.

Ramadhan, bulan tarbiyyah

Ramadhan adalah madrasah bagi setiap muslim untuk banyak bertaqarrub kepada Allah dengan segala kebaikan & amal shalih. Harapannya hal itu berkelanjutan di bulan-bulan berikutnya.

Rabb yang dia ibadahi selama Ramadhan adalah Rabb yang dia ibadahi pula di bulan syawwal, dzulqa’dah dan seterusnya.

Oleh sebab itu para ulama salaf menyebutkan

بِئْسَ القَوْم لَا يَعْرِفَوْنَ اللَّهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ

“Sejelek-jelek orang adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya pada bulan Ramadhan.” (Syarh Sunan Abi Dawud 3/167)

Hanya di bulan Ramadhan dia semangat beribadah kepada Allah. Melakukan berbagai macam kebaikan dan ketaatan, meninggalkan berbagai kemaksiatan dan dosa. Namun setelah itu dia kembali seperti sedia kala.

Janganlah kita menjadi orang-orang semacam ini. Hendaknya Ramadhan menjadi pemicu bagi kita untuk kembali & selalu bertaqarrub kepada Allah. Memperbanyak amal ibadah kepada Allah di setiap hari dalam usia yang Allah berikan.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita agar selalu taat dan beribadah kepada-Nya, selalu menjauh & menyelamatkan diri kita dari berbagai kemaksiatan yang dimurkai oleh-Nya.

Kita selalu berharap dan memohon kepada Allah agar hidup kita diberkahi dan diridhai di dunia serta di akhirat.

(Ditranskrip dari khutbah jum’at al-Ustadz Usamah Mahri di Masjid Ma’had as-Salafy Jember dengan sedikit perubahan)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *