RAMADHAN, PENGHAMBAAN ATAU KEBIASAAN? –JADIKAN BULAN PUASA LEBIH BERMAKNA–

Pembaca, bagaimana kabar Anda hari ini? Kami berharap, Allah selalu menjaga Anda, keluarga Anda dan kita semua. Kami juga berharap Allah tetap menjadikan kita cinta terhadap ilmu agama, memberi kita istiqamah dalam beribadah hingga hari tua. Amin. Saya yakin, pada sebagian pembaca sudah tersedia buah kurma, menu buka puasa sebulan ke depan telah diagendakan, hidangan lebaran juga sudah direncanakan, atau bahkan baju baru lebaran telah ada di gantungan. Alhamdulillah.

Pembaca, hari-hari begitu cepat bergulir. Minggu berubah menjadi bulan. Bulan berganti menjadi tahun. Dan tahun-tahun itu, yang jumlahnya banyak, telah berlalu.

Sekarang, kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban (awal Ramadhan). Dan untuk kali ini, sudah keberapa kalinya kita memasuki bulan yang penuh barokah ini? Hitung saja dengan bantuan umur Anda masing-masing! Ternyata, memang sudah banyak.

Sudah Puasa! Sudah Takwa?

Kiranya, ayat 183 surah al-Baqarah sudah menjadi menu wajib para khatib di bulan Ramadhan. Allah berfirman (artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada kaum sebelum kalian, agar kalian bertakwa!”   (al-Baqarah: 183)

Pembahasan kita bukan pada tafsir ayat di atas. Namun, kita akan mencoba mengaplikasikan ayat di atas pada diri kita, orang-orang yang alhamdulillah sudah berpuasa. Hal ini bertujuan sebagai bentuk evaluasi dan muhasabah. Apakah tujuan dari puasa telah tercapai? Apakah setelah menahan makan dan minum, kita sudah menjadi pribadi yang bertakwa?

Pembaca, coba sekarang, Anda menanyakan kepada diri Anda, sudah berapa Ramadhan yang sudah Anda lewati? Satu kali, dua kali, tiga kali atau lebih dari itu? Nah, dengan melewati momen Ramadhan tersebut apa yang Anda rasakan?

Apakah tujuan utama puasa telah terealisasi? Apakah Anda sudah menjadi orang yang bertakwa? Apakah setelah melewati sekian Ramadhan itu, Anda telah menjadi hamba yang peduli terhadap sesama? Apakah dan apakah?

Jawabannya ada pada diri Anda masing-masing. Jawaban itulah nilai dari puasa Anda. Berhasil atau tidaknya puasa, tergantung pada jawaban tadi.

Realita

Realitanya, kenapa pada sebagian kita, begitu banyak kesempatan Ramadhan dilewati namun seolah tidak memberi arti. Bagi sebagian orang selesainya Ramadhan pertanda selesainya ibadah, berhentinya Ramadhan alamat berhentinya taat, berakhirnya Ramadhan simbol berakhirnya berbagai kebaikan. Allahulmusta’an.

Artinya, puasa tersebut belum optimal, atau bisa jadi belum berhasil. Kemungkinan lain, puasa tersebut tidak bernilai lagi tidak berpahala. Lebih buruk lagi, yang didapat hanyalah  lapar dan haus (na’udzubillah mindzalik). Kenapa ya?

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu agak susah. Jelasnya, jika terjadi hal yang demikian menunjukkan kualitas puasa kita masih di bawah standar. Senyatanya, puasa kita belum seperti yang diinginkan oleh Allah. Bisa jadi, banyak kekurangan di sana-sini.

 

Berguru kepada Masa Lalu

Dari pengalaman masa lalu tersebut, mari berbenah. Ayo kita perbaiki Ramadhan ini, bisa jadi momen penuh barokah ini yang terakhir bagi kita. Semoga, kualitas ibadah puasa kita semakin bermakna.

Oleh karena itu, kami akan mengajak saudara pembaca untuk merenungi bimbingan dan nasihat ulama ketika menghadapi Ramadhan. Harapannya, dengan bimbingan tersebut nilai ibadah dalam puasa semakin terasa. Ramadhan tidak lagi sebatas kebiasaan, tapi lebih identik sebagai sebuah penghambaan dan pengabdian.

 

Bimbingan Ramadhan

Bimbingan kali ini bukan terkait hukum dan tata cara puasa Ramadhan. Akan tetapi, lebih menitikberatkan pada persiapan batin dalam bulan Ramadhan. Untuk hukum fikih Ramadhan, pembaca bisa merujuk pada edisi-edisi mendatang, insya Allah.

  1. Sambut dengan bahagia

Di antara nasihat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada kaum muslimin di penghujung Sya’ban (awal Ramadhan), “Sambutlah bulan tersebut dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan.”

Kenapa kita harus bahagia? Tentu karena berbagai keutamaan yang Allah siapkan di bulan tersebut.[1]  Perasaan bahagia dan senang terhadap sesuatu itu juga akan melahirkan semangat dan tekad. Dengan demikian, ia akan menjalani bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amal kebaikan.

Jangan sampai muncul perasaan sedih dan terpaksa. “Duh, lagi-lagi puasa! Lagi-lagi tidak boleh makan dan minum sepuasnya!” ungkapan-ungkapan ini tidak sepantasnya terlintas apalagi terucap dari seorang mukmin.

  1. Bertekad kuat

Setelah seseorang merasa bahagia dengan datangnya Ramadhan, hendaknya sejak awal mula Ramadhan, ia sudah membulatkan tekad untuk menghidupkan Ramadhan. Berasal dari tekad inilah, terlahir berbagai amal shalih.

Bahkan, disebutkan dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab bahwa para salaf mempersiapkan diri mereka menghadapai Ramadhan sejak empat bulan sebelum datangnya bulan tersebut. Luar biasa bukan?

Lebih menakjubkan lagi, empat bulan berikutnya, mereka gunakan untuk melakukan koreksi, evaluasi dan interopeksi terhadap amalan mereka ketika Ramadhan. Bisakah kita seperti mereka?

Pembaca, untuk membangun tekad, Anda membutuhkan niat ikhlas. Dengan inilah amal seseorang akan mendapatkan balasan. Rasulullah bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amalan-amalan itu hanya tergantung pada niat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dengan keikhlasan, ibadah puasa tidak lagi sebatas kebiasaan. Karena ikhlas, dia berpuasa bukan karena merasa malu dengan temannya, atau terpaksa, ikut-ikutan. Dengan niat ikhlas pula, yang berpuasa pun akhirnya tidak sekedar mulut saja, tapi segenap anggota badan yang lain termasuk hati.

  1. Berlomba dalam kebaikan

Anda yang ingin sukses di bulan Ramadhan, terapkan prinsip ini! Selalu berlomba dalam kebaikan. Setiap kali Anda melihat kawan bersedekah, ikutlah bersedekah. Bila ada kawan yang berhasil mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan, kenapa saya tidak? Dengan begitu Ramadhan dipenuhi dengan amal kebaikan.

Berlomba-lomba itu bukan dalam urusan dunia, akan tetapi kita diperintahkan untuk berlomba-lomba  dalam urusan akhirat. Sebagaimana firman Allah (artinya),

“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (al-Baqarah: 148)

Maka, jika ada kawan yang bisa mengkhatamkan al-Qur’an dua kali di bulan Ramadhan, ada teman yang selalu di shaf depan dalam shalat berjamaah, ada saudara yang bisa ibadah ini dan itu, saya pun harus bisa! Bukankah begitu? Barakallahufikum.

  1. Bertaubat dari dosa

Sebenarnya, bertaubat dari dosa itu dituntut kapan saja, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hanya saja, ketika menjelang Ramadhan, taubat itu lebih dituntut. Kenapa? Agar kebiasaan dosa itu tidak terbawa ketika di bulan Ramadhan.

Jika sebuah kebiasaan buruk tidak ditinggalkan, dengan mudah kebiasaan buruk itu akan terulang kembali. Secara tidak sadar, kebiasaan buruk itu akan merusak ibadah puasa seorang hamba. Hal ini sebagaimana sabda Nabi (artinya),

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta perbuatan bodoh maka Allah tidak butuh terhadap amalannya dari menahan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari no. 1804)

 

Renungan Sisipan:

Makan dan minum di luar Ramadhan itu halal, di bulan Ramadhan ditinggalkan. Sedangkan dusta, di luar Ramadhan sudah haram, kenapa pada saat Ramadhan justru dikerjakan? Wajar, bila Allah  tidak butuh terhadap puasanya.

Pembaca, perhatikanlah seruan Rasulullah, “Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian

يَا بَاغِيَ اْلخَيْرِ أَقْبِلْ     يَا بَاغِيَ الشَرِّ أَقْصِرْ

“Wahai pencari kebaikan, sambutlah Ramadhan! Wahai pelaku kejelekan, hentikanlah!”  (HR. at-Tirmidzi)

  1. Amar ma’ruf nahi mungkar

Untuk menghidupkan Ramadhan prinsip ini juga tidak kalah penting. Mengingatkan keluarga, saudara, dan kawan agar terus berbuat baik dan menjauh dari maksiat hendaknya ditempuh.

         Rasulullah sendiri membangunkan keluarganya di bulan Ramadhan, terlebih di sepuluh hari terakhir. Aisyah menuturkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Adalah Nabi apabila memasuki 10 hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Bersungguh-sungguh

Bersungguh-sungguh akan menjadi sebab tercapainya tujuan. Allah  berfirman (artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, maka Kami akan benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan-jalan Kami.” (QS. al-‘Ankabut: 69)

  1. Bersabar

Bersungguh-sungguh belum cukup. Berapa banyak orang yang bersungguh-sungguh, ketika menemui jalan buntu, dia berhenti. Kadang ada rasa malas, kadang ada rasa bosan, sabar-lah solusinya. Sehingga butuh adanya kesabaran. Dengan kesabaran akan diraih hasil.

Jalan itu tidak mulus. Jika di lautan, pasti ada ombak menerjang. Jika di daratan, akan ada lubang dan tikungan. Jika di udara, maka ada awan tebal dan badai menghadang.

  1. Tepat di atas syariat

Inilah prinsip yang paling urgen. Agar ibadah puasa diterima, Anda harus melandasinya dengan ilmu. Dengan menghadiri berbagai kajian, mendengar CD ceramah, membaca buku dan majalah, adalah di antara metode mencari ilmu.

Pembaca, tunggu apa lagi? Ramadhan sudah di depan mata. Lakukan yang terbaik untuk Ramadhan kali ini. Bisa jadi, ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita. Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

[1]  Keutamaan tersebut seperti; dibukanya pintu surga, ditutup pintu neraka dan dibelenggu setan, dimudahkan berbuat ketaatan dan dipersulit kemaksiatan, dilipatgandakan pahala amal shalih, diampuni dosa dan dihapus berbagai kesalahan, barangsiapa berpuasa dan melaksanakan shalat tarawih karena iman dan penuh harapan, akan diampuni dosanya yang telah lalu, adanya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *