BILAL BIN RABAH Pejuang Islam Muadzin Rasulullah

Kerap kali, kemuliaan diukur dengan standar materi dan kedudukan duniawi. Pemilik harta dimuliakan karena hartanya, sementara banyak orang ditokohkan karena nasab, pangkat atau jabatannya. Sebagiannya lagi, dielu-elukan lantaran keelokan rupa atau semacamnya. Konsekuensinya, orang yang miskin, jelata atau buruk rupa tak akan punya kemuliaan bahkan tak jarang dihinakan.

Para pembaca rahimakumullah

Sungguh Allah telah memilih di antara hamba-hamba-Nya, orang-orang yang mulia dengan keimanan. Inilah keluhuran yang sebenarnya, dinilai dengan timbangan yang hakiki dalam kehidupan dunia dan akherat kelak. Salah satu yang terpilih adalah Bilal bin Rabah. Menyelami perjalanan hidupnya akan mengantarkan pada kesadaran tentang arti sejati sebuah kemuliaan. Meruntuhkan keangkuhan para pemilik kemuliaan yang semu tiada bermakna.

Mengenal Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah al-Habasyi. Dilahirkan oleh ibunya yang bernama Hamamah dari kabilah Bani Jumah. Ayah dan ibunya adalah tawanan dari Habasyah (Ethiopia, Afrika). Sementara beliau dilahirkan di Mekkah. Bilal memiliki seorang saudara laki-laki bernama Khalid dan seorang saudara perempuan bernama Ghufrah. Di antara istri beliau adalah saudari dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf al-Qurasyi. Seorang yang berkulit hitam kelam, berperawakan tinggi ramping dan berambut lebat. Salah satu shahabat yang dipersaksikan oleh Nabi akan menghuni Jannah kelak.

Siksaan di Awal Keislamannya

Bilal menjadi salah satu di antara segelintir orang yang terdahulu masuk Islam dan menampakkan keislamannya. Ketika itu hanya ada tujuh orang yang secara terang-terangan menyatakan keislamannya. Mereka adalah Rasulullah, Abu Bakr, ‘Ammar bin Yasir, ibunya Sumayyah, Bilal, Shuhaib, serta al-Miqdad. Nabi dan Abu Bakr mendapatkan perlindungan dari kaumnya. Sementara yang lainnya harus mengalami beratnya siksaan dari kaum musyrikin. Semuanya dengan berat hati terpaksa mengikuti kemauan mereka, mengucapkan kalimat kekufuran, kecuali Bilal. Bilal adalah seorang budak hitam yang telah mendapatkan sentuhan hidayah Islam. Keimanan yang benar telah kokoh menghunjam di dalam hatinya. Tak beliau hiraukan siksaan bertubi-tubi yang seolah siap merenggut nyawanya. Tubuhnya dihinakan oleh kaumnya, dipermainkan oleh anak-anak kecil mengelilingi kampung-kampung kota Mekkah. Bahkan kaum musyrikin mengarak beliau dalam keadaan tali melingkar di lehernya, mengelilingi jalanan kota Mekkah yang keras berbatu. Sementara Bilal terus berucap, “Ahad…, Ahad…!”

Tatkala tengah hari yang panas menyengat, Umayyah bin Khalaf, majikannya menelentangkan tubuh Bilal di atas kerikil-kerikil Mekkah yang panas, lalu diperintahkan untuk diletakkan sebuah batu besar di atas dadanya. Berkatalah Umayyah, “Demi Allah, kamu akan terus seperti ini hingga kamu mati atau kamu mengingkari Muhammad, kamu menyembah Lata dan ‘Uzza.” Dalam keadaan demikian, Bilal berucap dengan kekokohan hatinya, “Ahad…, Ahad…!” Suatu ketika, majikan-majikan Bilal menelentangkan Bilal di atas perutnya dan menyiksanya. Bahkan tubuh Bilal ditimbun bebatuan. Mereka mengatakan, “Agamamu adalah Lata dan ‘Uzza!” Bilal menjawab, “Rabbku adalah Allah, Ahad…, Ahad…!” Bilal tetap tegar, istiqamah di atas keimanannya. Saat itulah Abu Bakr melewati mereka. Mereka pun berkata, “Belilah saudara seagamamu ini!” Abu Bakr lalu membeli Bilal seharga 40 Uqiyyah kemudian memerdekakannya. Majikan-majikan Bilal pun berkata, “Seandainya engkau enggan membelinya kecuali seharga satu Uqiyyah saja niscaya kami akan menyerahkannya.” Maka Abu Bakr menimpali, “Demi Allah, kalau saja kalian enggan menjualnya kecuali seharga sekian dan sekian (nilai yang besar), niscaya aku akan membelinya!”

Demikianlah, Abu Bakr menjadi figur yang berperan besar dalam kehidupan Bilal. Hingga pada masa berikutnya, tatkala ada sekelompok manusia yang melebihkan Bilal atas Abu Bakr, maka Bilal dengan tegas berujar, ”Bagaimana mereka melebihkanku dari beliau, padahal aku hanyalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikannya.”

Kehidupannya di Masa Nabi

Sejak saat itu, jadilah Bilal seorang yang merdeka. Beliau curahkan apa yang beliau mampui demi Islam. Bilal turut andil dalam dua perang besar di awal-awal Islam, Badr dan Uhud. Di medan perang Badr, Allah memberikan kemampuan kepada Bilal hingga beliau dapat menghabisi nyawa Umayyah bin Khalaf, tokoh musyrik yang telah menimpakan beragam siksaan kepadanya di masa lalu. Berikutnya, Bilal terjun pula ke berbagai gelanggang pertempuran setelahnya.

Kedudukan yang sangat menonjol dari kehidupan Bilal, adalah posisi beliau sebagai muadzin yang dipilih Rasulullah. Bahkan beliau menjadi orang yang pertama kali mengumandangkan adzan dalam Islam. Bilal adalah satu dari empat muadzin di masa Rasulullah. Bilal menjadi muadzin tetap, baik pada hari-hari biasa maupun tatkala safar.

Ketika berlangsungnya Fathu Makkah (Pembukaan Kota Mekkah), Rasulullah bersama Bilal memasuki Ka’bah. Lalu Nabi memerintahkan Bilal agar mengumandangkan adzan demi membangkitkan kemarahan kaum musyrikin. Naiklah Bilal ke atas Ka’bah lalu mengumandangkan adzan dengan suaranya yang lantang. Sampai-sampai sebagian orang dari kabilah Bani Sa’id berkata geram, “Sungguh Allah telah memuliakan Sa’id tatkala mematikannya sebelum mendengar sosok yang hitam ini di atas Ka’bah.”

Demikianlah, Bilal senantiasa menunaikan tugas mulianya sebagai muadzin di kota Madinah selama hidup Rasulullah. Tak hanya itu, beliau juga selalu mengikuti adzan yang dikumandangkannya dengan shalat dua rakaat. Beliau selalu menjaga dirinya agar terus dalam keadaan suci dari hadats. Tidaklah berhadats, kecuali beliau berwudhu untuk mensucikannya, lalu mengerjakan shalat dua rakaat.

Amalan-amalan inilah yang paling beliau harapkan menjadi sebab masuknya beliau ke dalam Jannah. Sebagaimana Rasulullah telah mendengar suara sandal Bilal mendahului beliau di Jannah, hingga kemudian Bilal menyampaikan kepada Nabi tentang amalan-amalan tersebut.

Sepeninggal Rasulullah

Setelah Rasulullah wafat, Bilal terpanggil untuk meraih keutamaan jihad fi sabilillah dan berjaga di wilayah perbatasan. Beliau pun mendatangi khalifah Abu Bakr. Kepada sang Khalifah, muadzin Rasulullah ini mengutarakan maksud sekaligus meminta izin untuk melaksanakan tekadnya. Sebenarnya Khalifah berat melepaskan Bilal. Hingga suatu ketika berkatalah Bilal kepada Abu Bakr yang sedang duduk di mimbar pada hari Jum’at, “Apakah dulu Anda memerdekakanku karena Allah atau karena pribadi Anda?” Abu Bakr menjawab, “Karena Allah!” “Maka izinkan saya untuk berperang!”, lanjut Bilal. Akhirnya Khalifah pun mengizinkannya untuk berangkat.

Sejak saat itu, Bilal mengabdikan dirinya dalam medan jihad, siaga menghadapi gempuran musuh demi menjaga keselamatan kaum muslimin. Beliau pun pergi ke Syam dan menetap di sana. Dalam waktu yang lama sepeninggal Nabi, Bilal tak lagi mengumandangkan adzan. Terasa berat bagi dirinya untuk mengucapkan kalimat syahadat Muhammad Rasulullah dalam adzannya. Hingga pada suatu hari, ‘Umar yang telah menjadi khalifah sepeninggal Abu Bakr datang ke Jabiyah, Syam dalam peristiwa penaklukan Baitul Maqdis. Kaum muslimin meminta kepada Khalifah agar menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Bilal memenuhi permintaan tersebut dan kalimat adzan pun menggema dengan suara lantangnya. Sehingga belum pernah terlihat satu hari pun yang padanya manusia menangis lebih banyak dari hari itu. Isak tangis ribuan umat Islam mewarnai sudut-sudut kota itu. Linangan air mata membasahi wajah-wajah mereka lantaran teringat akan masa-masa bersama Rasulullah.

Dulu, Rasulullah mempersaudarakan Bilal dengan Abu Ruwaihah. Suatu ketika, dua bersaudara ini mendatangi Dariya, sebuah tempat di Khaulan, Syam. Mereka berdua lalu menemui sebuah kaum di sana. Kemudian keduanya berkata, “Sesungguhnya kami mendatangi kalian sebagai dua orang yang hendak melamar. Dulunya kami berdua kafir lalu Allah menunjuki kami kepada Islam. Kami dahulu adalah dua orang budak lalu Allah memerdekakan kami. Dan kami tadinya adalah dua orang yang fakir lalu Allah mencukupi kami. Jika kalian menikahkan kami, maka alhamdulillah. Namun jika kalian menolak kami, maka la haula wa la quwwata illa billah.” Kaum itupun menikahkan keduanya. Adalah Hindun al-Khaulaniyah yang menjadi istri Bilal. Segala puji hanya milik Allah. Sejumlah shahabat senior semisal Abu Bakr dan ‘Umar telah mengambil ilmu dari Bilal. Demikian pula sederetan tabi’in senior di Madinah, Syam, serta Kufah turut meriwayatkan hadits dari beliau.

Akhir Hayat Beliau

Demikianlah, Islam telah menjadikan sosok yang tadinya hina di mata banyak manusia menjadi sangat mulia lantaran keshalihannya. Pantaslah jika ‘Umar yang memahami tentang hakikat kemuliaan berkata, “Abu Bakr adalah tuan kita, memerdekakan Bilal tuan kita pula.” Hingga akhirnya, di usia 60 tahun lebih, Allah berkehendak memenuhi janji-Nya dengan mewafatkan Bilal. Beliau meninggal di Damaskus ketika terjadinya wabah tha’un (sejenis penyakit pes) pada tahun 20 H. Semoga Allah meridhainya.

Para pembaca yang mulia, tak sedikit dari umat manusia yang mengaku sedang mencari kebenaran. Namun, kerap kali mereka tak kuasa menghadapi badai cobaan. Sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah yang sempat digenggam. Allah berkehendak menguji hamba-hamba-Nya dengan adanya rintangan. Dengan takwa, jalan keluar dari segala permasalahan akan didapatkan. Dengan takwa pula, berbagai kemudahan akan mengikis kesukaran. Disadari, keimanan dan ujian tidak dapat dipisahkan. Karena, keimanan tanpa diiringi ujian adalah sebuah kenistaan.

Wallahu a’lam bish shawab

Penulis: Ustadz Muhammad Hadi

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *