AKIBAT BERMAKSIAT Bahan Evaluasi & Instropeksi-4

Alhamdulillah, Allah masih memberi kita kesempatan untuk bertemu kembali dalam ruang buletin al-Ilmu. Artinya, pintu kesempatan untuk menambah bekal amal saleh demi menghadap-Nya masih ada. Demikian juga kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala kekurangan dan kesalahan dengan bertobat kepada-Nya tetap terbuka. Semoga kesempatan tersebut tidak tersia-siakan. Mari manfaatkan kesempatan tersebut!

Pembaca, kita akan melanjutkan pembahasan tentang hukuman bagi pelaku maksiat. Semoga pembahasan ini bisa menjadi bahan evaluasi dan instropeksi. Amin.

TAKUT DAN CEMAS

Pelaku maksiat akan dirundung ketakutan dan kecemasan. Dua rasa tersebut Allah letakkan dalam hati pelaku maksiat. Tidaklah Anda melihat orang yang bemaksiat melainkan merasa takut dan cemas. Betul bukan? Gugup, was-was, tidak tenang dan perasaan lainnya betul-betul dirasakan oleh pelaku maksiat.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Sadarlah bahwa ketaatan adalah perlindungan dan penjagaan dari Allah. Ketaatan adalah benteng perlindungan terbesar. Barangsiapa masuk ke dalamnya, dia termasuk deretan orang-orang yang mendapatkan keamanan dari siksa dan hukuman, baik di dunia maupun akhirat.

Sebaliknya, barangsiapa keluar darinya, dia akan dikepung dengan berbagai ketakutan dari segala penjuru. Barangsiapa yang mentaati Allah maka apa saja yang ia takuti berubah menjadi aman. Sebaliknya, barangsiapa yang durhaka kepada-Nya maka hal-hal yang dia merasa aman darinya berubah menjadi yang ditakutinya.

Sehingga, siapa saja yang merasa takut kepada Allah maka Dia akan memberikan rasa aman kepadanya dari segala sesuatu. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Dia akan menjadikan dirinya merasa takut kepada segalanya. Kata seorang penyair,

بِذَا قَضَى اللَّهُ بَيْنَ الْخَلْقِ مُذْ خُلِقُوا
أَنَّ الْمَخَاوِفَ وَالأَجْرَامَ فِي قَرَنِ

Ketentuan Allah untuk makhluk sejak tercipta
Bahwa ketakutan dan dosa itu senantiasa bersama

HATI LIAR DAN ASING

Hukuman berikutnya adalah munculnya keliaran hebat dalam hati. Seorang yang berbuat dosa akan mendapati dirinya liar dan terasing. Ada jarak antara dirinya dengan Allah. Bahkan ada jarak antara dia dengan dirinya sendiri.

Jika dosa semakin besar maka rasa keterasingan dan keliaran itu semakin besar. Kehidupan paling pahit adalah kehidupan orang terasing. Sebaliknya, kehidupan paling membahagiakan adalah kehidupan orang yang dekat dengan Allah.

Bandingkan kenikmatan berbuat maksiat dengan ketakutan akibat perbuatan maksiat. Pilihlah yang terbaik! Jika tetap memilih maksiat, berarti ia telah menjual ketenangan, keamanan dan manisnya ketaatan dengan keliaran maksiat yang mendatangkan ketakutan dan bahaya baginya. Kata penyair,

فَإِنْ كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ
فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ

Jika Anda telah dibuat liar oleh dosa
Tinggalkanlah, Anda pasti bahagia

HATI MENJADI SAKIT

Pembaca, kemaksiatan akan memalingkan hati dari kondisi sehat dan istiqamah kepada kondisi sakit dan menyimpang. Hati tersebut terus menderita sakit. Ia tidak bisa mengambil manfaat dari berbagai petuah yang dengannya hati itu menjadi hidup dan baik.

MEMBUTAKAN MATA HATI

Hukuman kemaksiatan lainnya adalah bahwa kemaksiatan itu akan membutakan mata hati, memadamkan cahayanya, memudarkan sinarnya, menutup jalan-jalan ilmu, dan menghalangi pintu-pintu masuk hidayah.

Cahaya tersebut akan terus melemah dan meredup hingga akhirnya padam. Sementara kegelapan maksiat semakin kuat. Sampai-sampai hati menjadi seperti malam yang gelap gulita.

Padahal, sesuatu yang membinasakan pada kegelapan sangat banyak. Namun ia tidak mampu melihatnya. Ia seperti orang buta yang keluar di sebuah jalan penuh bahaya pada malam hari. Duhai betapa sulit baginya untuk selamat dan betapa cepatnya ia akan binasa.

Kemudian kegelapan itu semakin bertambah pekat dan kelam, yang awalnya di hati kemudian berangsur ke anggota badan. Wajah pun menjadi sasaran. Akhirnya wajah menjadi gelap sesuai dengan kadar kekuatan bertambahnya kegelapan.

Setelah kematian, kegelapan itu tetap akan terlihat di alam barzakh. Kubur dipenuhi dengan kegelapan. Sebagaimana sabda Nabi,

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مُمْتَلِئَةٌ عَلَى أَهْلِهَا ظُلْمَةً، وَإِنَّ اللَّهَ يُنَوِّرُهَا بِصَلاتِي عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya kubur ini memenuhi penghuninya dengan kegelapan. Allah hanya akan memberikan cahaya dan penerangan dengan sholatku untuk mereka.” (HR. al-Bukhari 458 dan Muslim 956)

Kemudian pada hari yang telah dijanjikan, ketika para hamba dikumpulkan, kegelapan itu benar-benar akan memenuhi wajah sehingga setiap orang bisa menyaksikan. Sampai-sampai wajah itu begitu pekat lagi kelam, hitam legam, seperti arang.

Aduhai, siksaan dan hukuman yang tidak bisa dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dunia–sejak awal hingga akhirnya–. Lantas bagaimana seorang hamba yang dahulu hidup susah payah, terlena lagi capai ketika di dunia padahal ia hanyalah impian sesaat saja? Allahul musta’an. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

JIWA MENJADI KERDIL

Kemaksiatan membuat jiwa menjadi kerdil, kecil, tidak berkembang dan hina. Sebaliknya, ketaatan akan membuat jiwa menjadi tumbuh dan berkembang, menyucikannya dan membuat jiwa menjadi besar. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10)

Makna ayat ini, sungguh beruntung orang yang membesarkan dan meninggikan jiwanya dengan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, sungguh merugi orang yang mengotori dan merendahkan jiwanya dengan kemaksiatan kepada Allah.

Duhai, tidak ada yang lebih merendahkan dan mengecilkan jiwa selain kemaksiatan. Dan tidak ada yang lebih mampu membesarkan, memuliakan dan meninggikan jiwa selain ketaatan.

PENJARA SETAN

Hukuman lain dari kemaksiatan adalah bahwa kemaksiatan senantiasa menjadikan pelakunya sebagai tawanan setan. Kemaksiatan juga menjebloskan dirinya ke dalam penjara syahwatnya, dikendalikan oleh hawa nafsunya. Dia pun menjadi tawanan, tahanan, budak yang dirantai dan dibelenggu.

Tidak ada tawanan yang lebih buruk dibandingkan seorang tawanan yang ditawan oleh musuh yang paling memusuhinya. Tidak ada penjara yang lebih sesak dibandingkan penjara hawa nafsu. Tidak ada belenggu yang paling sulit lepas darinya selain belenggu syahwat.

Lantas bagaimana mungkin hati yang sudah tertawan, dipenjara lagi dibelenggu mampu untuk berjalan meniti jalan menuju Allah dan kampung akhirat? Bagaimana mungkin dia bisa melangkahkan kakinya sekedar satu langkah saja?

Kalau hati sudah terbelenggu maka berbagai petaka akan menyerbu dari segala penjuru. Kenapa? Karena, hati itu ibarat seekor burung. Semakin terbang tinggi maka ia semakin jauh dari ancaman dan bahaya. Semakin terbang merendah maka bahaya dan ancaman siap mengepungnya.

Hati juga seperti seekor anak kambing. Seekor anak kambing tanpa penjaga yang berada di tengah-tengah sekumpulan serigala, tentu ia sangat cepat sekali untuk diterkam. Demikian juga seorang hamba yang tidak memiliki penjagaan dari Allah, maka serigalanya (setan) pasti dengan segera menyerang dan memangsanya.

Seorang hamba hanya akan mendapat penjagaan dari Allah dengan ketakwaan. Sesungguhnya ketakwaan itu adalah tameng dan perisai antara dirinya dengan serigalanya. Sebagaimana halnya ketakwaan itu adalah pelindung dirinya dari siksaan dunia maupun akhirat.

Semakin dekat seekor anak kambing dengan penggembalanya maka ia akan semakin selamat dari sergapan dan mangsa serigala. Sebaliknya, setiap kali seekor anak kambing jauh dari penggembala maka ia semakin dekat dengan kematiannya.

Sehingga jalan yang lebih selamat adalah saat anak kambing tersebut dekat dengan penggembala. Sesungguhnya seekor serigala itu hanya akan menerkam dan memangsa anak kambing yang sendirian, yaitu yang jauh dari penggembala.

Kesimpulan, jika hati semakin jauh dari Allah, bahaya akan semakin cepat mengancamnya. Sebaliknya, jika hati semakin dekat dengan Allah, ancaman bahaya tersebut akan semakin jauh.

Jauhnya hati dari Allah itu bertingkat-tingkat. Jauhnya hati karena kemaksiatan itu lebih besar dibandingkan jauhnya hati karena kelalaian. Jauhnya hati karena kebid’ahan lebih besar dibandingkan jauhnya hati karena kemaksiatan. Jauhnya hati lantaran sifat kemunafikan dan kesyirikan itu lebih besar dibandingkan semuanya.

Wallahu a’lam.

(Disarikan dari kitab al-Jawabul Kafi karya al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah oleh Ustadz Abu Abdillah Majdiy)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *