Ad Dabbah Binatang Melata yang Muncul pada Akhir Zaman

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, pada edisi kali ini kami insya Allah akan membahas salah satu tanda-tanda besar kiamat, sebagai kelanjutan dari pembahasan yang telah kita lewati pada edisi-edisi sebelumnya. Tanda hari kiamat tersebut adalah keluarnya ad Dabbah (binatang melata) dari bumi.

Waktu Kemunculannya  

Tentang waktu munculnya ad Dabbah ini Allah – subhanahu wa ta’ala – berfirman (yang artinya):

Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” (An Naml: 82).

Ada beberapa penafsiran dari para ulama tentang makna الْقَوْلُ (perkataan) pada ayat tersebut. Sebagian menafsirkannya dengan ‘adzab’, apabila manusia telah rusak dan berhak mendapatkan adzab maka ad Dabbah akan keluar dari bumi. Sebagian lagi menafsirkannya dengan ‘murka dari Allah’.

Kapankah umat manusia dikatakan berhak mendapatkan adzab dan murka dari Allah?

Berkata sebagian ulama di antaranya sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa hal tersebut terjadi ketika manusia sudah tidak lagi mengajak kepada perkara-perkara ma’ruf (kebaikan) dan tidak pula melarang dari perkara-perkara kemungkaran ketika mengetahuinya. Kita berlindung kepada Allah dari adzab dan murka-Nya.

Ulama yang lain menafsirkan الْقَوْلُ dengan ‘bukti-bukti yang nyata dari Allah’, termasuk dalam bukti-bukti yang nyata tersebut adalah tanda-tanda besar kiamat yang telah muncul sebelumnya seperti keluarnya dajjal dan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam. Setelah ‘bukti-bukti kekuasaan Allah tersebut nampak maka Allah akan mengeluarkan ad Dabbah dari bumi.

Ad Dabbah akan keluar pada akhir zaman, pada saat manusia telah berada dalam keadaan lemah iman dan rusak, sebagaimana yang dijelaskan oleh al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir ayat tersebut, “Binatang melata ini keluar pada akhir zaman ketika manusia telah rusak dan meninggalkan perintah-perintah Allah, serta mereka merubah agama yang benar. Allah mengeluarkan suatu binatang melata dari dalam bumi kemudian mengatakan kepada mereka hal tersebut” (‘Umdatut Tafsir hal 667).

Munculnya ad-dabbah berdekatan dengan waktu terbitnya matahari dari arah barat. Tidak diketahui apakah ad-dabbah muncul terlebih dahulu ataukah terbitnya matahari dari barat. Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَوَّلّ الْآيَاتِ خُرُوْجًا طُلُوْعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا فَالْأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيْبًا

“Sesungguhnya   tanda-tanda (kiamat) yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari arah tenggelamnya (barat) dan keluarnya binatang melata kepada manusia pada waktu dhuha, yang mana saja dari keduanya terjadi terlebih dahulu maka yang lainnya menyusul sesaat setelahnya” (H.R. Muslim no 7570).

Dari hadits tersebut pula, diketahui bahwa kemunculan ad Dabbah tersebut adalah waktu dhuha, yaitu waktu di antara saat naiknya matahari setinggi tombak hingga saat matahari berada di puncak/tengah langit.

Ciri-ciri  ad Dabbah      

Sebagian ulama menyebutkan ciri-ciri ad Dabbah tersebut, namun tidak satu pun ciri-ciri yang disebutkan ditopang oleh dalil baik dari ayat Al Qur`an maupun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Maka cukuplah bagi kita untuk mengimani apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ad Dabbah, tanpa perlu menetapkan ciri-cirinya secara mendetail, karena perkara tersebut termasuk hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dari wahyu berupa ayat Al Qur`an ataupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Al ‘Allamah As Sa’dy berkata dalam lanjutan tafsir ayat 82 dari surat An Naml di atas: “Allah dan Rasul-Nya tidaklah menyebutkan bagaimana wujud binatang melata ini, akan tetapi beliau menyebutkan dampak dan maksud dari dikeluarkannya binatang tersebut. Bahwasanya ia adalah termasuk dari tanda-tanda kekuasaan Allah, ia berbicara kepada manusia dengan cara yang di luar kebiasaan ketika telah jatuh ketetapan atas mereka, dan ketika mereka meragukan ayat-ayat Allah, hingga ia menjadi hujjah dan bukti bagi orang-orang yang beriman dan hujjah atas orang-orang yang menentang” (Tafsir As Sa’dy hal. 581)

Tempat keluarnya          

Ulama juga berbeda pendapat tentang tempat keluarnya ad Dabbah tersebut. Sebagian dari pendapat tersebut didasarkan pada hadits yang sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada yang didasarkan pada perkataan shahabat, hanya saja baik hadits maupun atsar shahabat tersebut tidak ada yang shahih.

Walhasil, tidak ada suatu hadits shahih atau atsar shahih yang bisa menjadi dasar untuk menentukan di mana tempat keluarnya ad Dabbah tersebut. Maka sekali lagi sikap yang benar bagi kita adalah hendaknya kita mengimani tentang keluarnya ad Dabbah, adapun mengenai di mana tempat keluarnya maka hal itu adalah urusan Allah dan kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

Apa saja yang dilakukan ad Dabbah?        

Adapun tentang hal-hal yang dilakukan ad Dabbah, maka pada permasalahan ini telah datang pengabaran dari ayat Al Qur`an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Ulama menyimpulkan bahwa yang akan dilakukan ad Dabbah ada tiga hal:
1. Berbicara kepada manusia
2. Memberi tanda kepada orang-orang kafir.
3. Memberi tanda kepada kaum mukminin, membuat terang wajah mereka hingga bersinar cemerlang.

Pada ayat An Naml: 82 yang telah kita lewati, Allah – subhanahu wa ta’aa – berfirman (yang artinya):

Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” (An Naml: 82).

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam penafsiran lafazh “تُكَلِّمُهُمْ” pada ayat tersebut.

Pendapat pertama: mengajak bicara mereka (manusia), dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dalam satu riwayat, al Hasan al Bashri, Qatadah, dan diriwayatkan dari Ali.

Pendapat yang kedua: melukai mereka, yakni orang-orang kafir diberi tanda pada hidung mereka dengan cara melukainya. Ini adalah penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam riwayat yang lain.

Penafsiran ini sesuai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Imam Ahmad rahimahullah dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Akan keluar ad Dabbah kemudian memberikan tanda pada hidung-hidung mereka (yakni orang-orang kafir – pent) maka mereka akan hidup di antara kalian, sampai-sampai ketika seseorang membeli binatang ternak kemudian dia ditanya: dari siapa engkau membelinya? Maka dia menjawab: dari orang yang memiliki tanda pada hidungnya”. Hadits ini dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albany rahimahullah.

Hadits ini menunjukkan bahwa pada saat ad Dabbah tersebut keluar, maka ia akan memberikan tanda yang nampak jelas pada hidung orang-orang kafir sampai-sampai mereka dapat dikenali manusia dengan tanda tersebut.

Pendapat ini cocok dengan qiraah (riwayat bacaan) Abu Zur’ah ibn ‘Amr atas ayat An Naml: 82 tersebut, di mana beliau meriwayatkan ayat tersebut dengan lafazh “تَكْلَمُهُمْ” yang bermakna melukai.

Pendapat yang ketiga: bahwa lafazh “تكلمهم” memiliki kedua makna yang telah disebutkan pada kedua pendapat di atas, ini berarti ad Dabbah ketika keluar mengerjakan dua hal tersebut, mengajak bicara manusia dan juga memberikan tanda dengan melukai orang-orang kafir. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam satu riwayat.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah menyifati pendapat ketiga ini: “Itu adalah pendapat yang bagus, dan tidak ada pertentangan”. Yang beliau maksudkan adalah tidak ada pertentangan antara pendapat pertama dengan pendapat kedua.

Adapun tentang perbuatan ad Dabbah yang akan memberikan tanda berupa cahaya pada wajah orang-orang yang beriman adalah berdasarkan suatu hadits yang diperselisihkan keshahihannya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah, At Tirmidzy, dan Al Imam Ahmad rahimahumullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Ad Dabbah akan keluar bersama cincin Sulaiman bin Dawud, dan tongkat Musa bin ‘Imron ‘alaihimassalam, kemudian ia akan memberi cahaya pada wajah orang yang beriman dengan tongkat serta menandai hidung orang kafir dengan cincin, sampai-sampai orang-orang yang mengitari meja makan berkumpul kemudian berkata salah seorang dari mereka (kepada orang yang bersinar wajahnya): wahai orang beriman, lalu ia menjawab kepadanya (orang yang memiliki tanda di hidungnya): wahai orang kafir”, yaitu orang-orang ketika itu saling mengenali siapa yang beriman di antara mereka, dan siapa yang kafir dengan tanda yang dibuat ad Dabbah tersebut.

Hadits ini digolongkan oleh Al ‘Allamah Al Albany sebagai hadits yang dha’if, adapun Asy Syaikh Ahmad Syakir maka beliau menshahihkannya, wallahu a’lam bis shawab.

Perkataan yang disampaikan oleh ad Dabbah      

Sebagaimana dalam ayat An Naml: 82 di atas, ketika keluarnya ad Dabbah akan mengajak bicara manusia. Lalu apa perkataan yang akan disampaikannya?

Sebagian ulama mengatakan bahwa ad Dabbah akan berkata pada manusia bahwa sesungguhnya mereka dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam lafazh ayat tersebut. Dan di antara ayat-ayat Allah adalah tanda-tanda hari kiamat yang telah dikabarkan kemunculannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah keluarnya ad Dabbah. Ini menunjukkan bahwasannya seorang mukmin haruslah benar-benar beriman kepada tanda-tanda kiamat tersebut tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hati.

Sebagian lagi berkata bahwa ad Dabbah akan menyampaikan kepada manusia bahwa seluruh agama selain Islam adalah agama yang bathil. Ulama yang lain berpendapat bahwa ad Dabbah akan berbicara kepada orang-orang kafir dengan perkataan buruk yang tidak menyenangkan mereka. Demikianlah sekelumit pembahasan tentang binatang melata yang akan muncul pada akhir zaman, mudah-mudahan dapat memperkuat keimanan kita kepada hari kiamat yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam bish shawab

Penulis: Ustadz Abu Ahmad Purwokerto

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *