HUKUMAN MAKSIAT (Bahan Evaluasi & Instropeksi – 3)

Hati manusia itu sering kaku, sekeras batu. Terkadang, hati itu bisa lebih keras daripada itu. Mungkin di antara kita ada yang pernah mengalaminya. Diberi nasihat berkali-kali, hati sulit menerimanya. Ketika diingatkan, tidak jarang hati yang kaku justru membantahnya. Termasuk ketika dinasihati agar tidak berbuat maksiat, sering hati itu berontak. Nasihat dan peringatan tak ubahnya dongengan saja. Ia menganggap peringatan itu tidak akan terbukti. Bahaya dosa yang sering disampaikan ibarat sebuah cerita tidak nyata.

Pembaca rahimakumullah, manusia memang sering berbolak-balik. Kadang bertobat, dan seringnya kembali bermaksiat.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Di antara sebabnya adalah karena lemahnya keyakinannya terhadap bahaya dosa. Karena dosa itu termasuk perkara yang tidak bisa disaksikan mata kepala. Ini adalah ujian dari Allah. Kalau saja, setiap kali berbuat dosa pelakunya langsung mendapat hukuman di dunia, tentu semua orang akan menjauh dari dosa. Seperti halnya jika balasan setiap amal ketaatan itu bisa ia dapatkan di dunia, tentu semua orang akan berbuat taat.

Namun sekali lagi, ini semua adalah ujian. Ujian yang diberikan untuk mengetahui sejauh mana kejujuran iman seseorang. Untuk mengukur sebesar apa rasa percayanya terhadap firman dan janji Allah. Agar membedakan mana yang benar-benar beriman ataukah sekedar ikut-ikutan.

Dan inilah ciri orang yang bertakwa, percaya dan beriman terhadap perkara ghaib. Allah berfirman (artinya), “(Orang-orang yang bertakwa) adalah yang beriman terhadap perkara ghaib.” (QS. al-Baqarah: 3)

Pembaca, pahala dan dosa termasuk perkara ghaib. Akhirat, surga dan neraka juga termasuk perkara ghaib. Berikut ini akan kami sampaikan sebuah hukuman bagi pelaku dosa yang pernah disaksikan oleh Rasulullah. Semoga kisah berikut bisa menjadi bahan renungan.

***

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Samurah bin Jundab, pada suatu pagi Rasulullah bercerita kepada para sahabat,

Tadi malam ada dua orang mendatangiku dalam mimpi. Kedua orang tersebut diutus kepadaku. Keduanya berkata, “Ayo pergi!” Aku pun pergi bersama kedua orang tersebut. Lalu kami pun sampai kepada seorang laki-laki yang tengah berbaring dan seorang lagi berdiri membawa sebuah batu besar. Tiba-tiba dia menjatuhkan batu tersebut tepat mengenai kepala orang yang sedang berbaring. Kepala itu pecah. Batu demi batu jatuh berserakan lalu diambilnya kembali. Begitu ia kembali kepadanya, kepala orang tersebut telah kembali seperti semula. Laki-laki yang membawa batu besar itu pun mengulangi perbuatannya.

Nabi melanjutkan,

Lalu aku bertanya, “Subhanallah, kenapa dua orang ini?” Kedua orang yang membawaku berkata kepadaku, “Pergilah, ayo pergi!” Kami pun pergi (melanjutkan perjalanan). Setelah itu kami mendatangi seorang laki-laki yang tidur terlentang dan seorang lagi yang berdiri di atasnya sambil membawa pengait besi. Lalu ia mendatangi sebagian sisi wajahnya. Ia mencabik-cabik dagunya hingga tengkuknya, lalu hidungnya hingga tengkuknya, lalu matanya hingga tengkuknya,  dengan besi itu. Kemudian ia mendatangi bagian lain dari wajahnya dan melakukan hal yang sama seperti pada saat yang pertama tadi. Begitu selesai mengerjakan sisi yang lain dari wajahnya, bagian tersebut utuh kembali seperti semula. Lalu, ia melakukan hal yang sama seperti perbuatan yang pertama.

Kembali Rasulullah berkisah,

Lalu aku bertanya lagi, “Subhanallah, kenapa dua orang ini?” Kedua orang yang membawaku berkata kepadaku, “Pergilah, ayo pergi!” Kami lantas pergi dan mendatangi sebuah bangunan. Bangunan tersebut seperti tungku tempat memasak roti. Suara gaduh dan ramai terdengar dari dalam bangunan tersebut.

Rasulullah mengisahkan,

Kami pun menengok ke dalamnya. Ternyata di dalam bangunan itu terdapat sejumlah laki-laki dan wanita yang tidak berbusana. Tiba-tiba muncullah kobaran api dari bawah kaki mereka. Mereka pun berteriak keras dan mengerang-ngerang karena kepanasan.

Beliau melanjutkan,

Aku kembali bertanya, “Siapa mereka ini?” Kedua orang itu kembali berkata kepadaku, “Pergilah, pergilah!” Sekali lagi kami pergi dan mendatangi sebuah sungai yang airnya merah seperti darah. Ternyata di dalam sungai tersebut ada seseorang yang sedang berenang. Kemudian di pinggir sungai ada seorang lagi yang telah mengumpulkan banyak batu. Orang yang berenang terus berenang sesuai yang dikehendaki oleh Allah hingga ia mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu. Orang tersebut segera membuka mulutnya lebar-lebar dan disuapkanlah batu tersebut ke dalam mulutnya. Ia lalu pergi dan berenang kembali. Kemudian dia kembali ke pinggir sungai. Setiap kali ke pinggir sungai, ia membuka mulutnya lebar-lebar dan orang yang mengumpulkan batu pun menyuapkan batu-batu tersebut ke dalam mulutnya.

Rasulullah berkata, aku bertanya kepada kedua orang yang membawaku, “Kenapa ini?” Namun keduanya malah menjawab, “Pergilah, pergilah!” Pergilah kami hingga kami mendatangi seseorang dengan penampilan yang sangat menyeramkan. Seolah aku belum pernah menyaksikan orang yang lebih menyeramkan darinya. Ternyata di sampingnya ada api yang ia kobarkan. Ia terus mengobarkan dan berlari-lari di sekelilingnya.

Lagi-lagi aku bertanya, “Kenapa dia?” Keduanya menjawab, “Pergilah, pergi!” Kami pergi sampai di sebuah taman yang penuh dengan warna warni bunga di musim semi. Seorang laki-laki tinggi sedang berdiri di tengah-tengahnya. Tinggi sekali. Hampir-hampir aku tidak dapat melihat kepalanya, karena sangat tingginya hingga menjulang ke atas langit. Di sekitar orang tersebut banyak anak-anak yang belum pernah aku saksikan sebelumnya.

Lalu aku bertanya, “Siapa orang tinggi ini? Dan siapakah anak-anak kecil itu?” “Pergilah, ayo pergi!” Jawab keduanya. Kami pun lantas pergi. Kami mendatangai sebuah kebunyang yang amat luas. Rasanya aku belum pernah melihat kebun yang lebih luas dan lebih indah darinya. “Naiklah ke kebun itu!” Kata kedua orang yang bersamaku. Kami semua naik ke kebun tersebut. Sampailah kami ke sebuah kota yang dibangun dari batu bata emas dan perak.

Beliau melanjutkan kisahnya,

Kami lalu mendatangi pintu kota. Kami meminta pintu tersebut dibukakan. Terbukalah pintunya. Lalu kami masuk ke dalamnya. Sejumlah orang bertemu dengan kami. Sebagian penampilannya sangat tampan, setampan orang tertampan yang pernah engkau saksikan. Namun, sebagian penampilannya sangat jelek. Sejelek penampilan paling jelek yang pernah engkau saksikan.

Rasulullah meneruskan,kedua temanku berkata kepada mereka, “Pergilah kalian semua dan masuklah kalian semua ke dalam sungai itu!” Tiba-tiba aku melihat sungai yang sangat lebar. Airnya pun sangat bening. Sepertinya air murni. Laki-laki itu pun pergi menuju sungai yang dimaksud dan masuk ke dalamnya. Kemudian mereka kembali kepada kami. Penampilan buruk dan jelek mereka telah hilang dari mereka. Kedua rekanku berkata kepadaku, “Ini adalah surga ‘Adn. Dan di sanalah tempatmu nanti!”

Rasulullah melanjutkan,

Aku kemudian menengadahkan wajahku ke atas. Tiba-tiba aku melihat sebuah istana seperti kerajaan yang berwarna putih. Kedua rekanku berkata, “Ini adalah tempatmu.” Aku katakan kepada keduanya, “Semoga Allah memberkahi engkau berdua.” Keduanya menerbangkanku sehingga aku masuk ke dalam istana tersebut. Namun, keduanya berkata, “Adapun sekarang, engkau belum boleh masuk ke dalamnya.”

Aku berkata kepada keduanya lagi, “Sejak semalam aku melihat keanehan. Lalu apakah yang telah aku saksikan tadi?”

“Sekarang aku akan memberitahumu,” jawab keduanya. “Orang pertama yang engkau datangi dengan kepala pecah terkena batu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an. Namun, ia menolaknya dan ia tidur dari shalat-shalat wajib. Sedangkan orang kedua dengan dagu, hidung dan matanya dicabik-cabik hingga tengkuknya adalah orang yang pergi dari rumahnya pada pagi hari, lantas menyebarkan kedustaan hingga berbagai penjuru. Para lelaki dan wanita tidak berbusana yang berada di dalam bangunan seperti tungku pembakar roti adalah para pezina laki-laki dan wanita. Laki-laki yang engkau datangi sedang berenang di sungai dan menelan batu adalah pemakan riba. Laki-laki dengan penampilan menyeramkan di samping api yang ia kobarkan sambil berlari-lari di sekelilingnya adalah malaikat Malik penjaga Jahannam. Laki-laki tinggi di tengah-tengah taman adalah nabi Ibrahim. Sedangkan anak-anak kecil yang berada di sekelilingnya adalah anak-anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah.”

Sebagian kaum muslimin bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak-anak musyrik?” Rasulullah menjawab, “Demikian juga dengan anak-anak musyrikin.”

Keduanya melanjutkan, “Sedangkan laki-laki yang separoh penampilannya tampan dan separoh yang lain buruk adalah orang-orang yang mencampurkan amalan saleh dengan amalan buruk. Kemudian Allah mengampuni mereka.”

***

Pembaca, apa yang disampaikan Rasulullah di atas adalah nyata. Bukan mimpi dan dongeng semata. Sebab, beliau adalah seorang ash-Shadiqul Mashduq, yang jujur lagi bisa dipercaya. Mimpi seorang nabi adalah wahyu yang datang dari Allah. Semoga kita bisa  mengambil pelajaran darinya.

Wallahu a’lam.

Penulis: Ust. Abu Abdillah Majdiy

Untuk mendapatkan buletin dalam bentuk file gambar/JPEG klik di sini: halaman 1, halaman 2, halaman 3, halaman 4.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *