Berpacu Menjadi Seorang Penderma, Pemaaf dan Tawadhu’

Rasulullah bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Amalan sedekah tidaklah mengurangi harta dan tidaklah seorang hamba memaafkan saudaranya melainkan Allah menambah untuknya kemuliaan serta tidaklah seorang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim no. 4689)

Para pembaca yang berbahagia.

Perlu kita ketahui, sesungguhnya pada diri kita ini ada beberapa sifat yang tidak baik yaitu kikir terhadap harta yang dimiliki, tidak mau memaafkan kesalahan orang lain dan bahkan menyimpan rasa dendam kepadanya serta bersikap sombong dengan menolak kebenaran atau merendahkan orang lain. Di dalam syariat Islam telah dijelaskan dengan panjang lebar kiat-kiat untuk menghilangkan sifat-sifat yang tidak baik tersebut. Yang pertama adalah anjuran bersedekah atau berinfak guna menghilangkan sifat kikir, yang kedua adalah anjuran memaafkan guna menghilangkan sifat dendam dan yang ketiga adalah anjuran tawadhu’ guna menghilangkan sifat sombong.

Jadilah Engkau Seorang Penderma

Sungguh rasul kita Muhammad memiliki akhlak yang sangat mulia yaitu suka memberi. Apabila ada seseorang meminta sesuatu kepada beliau maka beliau akan memberinya seberapapun kebutuhannya (dalam rangka mengikat hatinya agar masuk Islam). Sebagaimana pernah dikisahkan, ada seorang arab badui meminta sesuatu kepada beliau, maka beliau pun memberinya kambing yang memenuhi lembah dengan tujuan agar dia dan kaumnya masuk Islam. Kemudian kembalilah orang tersebut kepada kaumnya seraya mengatakan, “Wahai manusia, masuklah kalian ke dalam Islam karena sesungguhnya Muhammad adalah seorang penderma yang tidak takut menjadi miskin.” (Lihat Shahih Muslim no. 2312)

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, betapa besar pengaruh harta yang beliau sedekahkan kepada arab badui tadi hingga menjadi sebab keislaman dia beserta kaumnya.

Maka jangan dikira ketika kita menyedekahkan sebagian harta, bahwa yang demikian itu akan mengurangi harta yang kita miliki. Bahkan yang demikian itu akan menambah harta tersebut, semakin berkembang dan bertambah nilai keberkahannya. Maka balasan yang demikian ini adalah sebagai pengganti dari sebagian harta yang kita sedekahkan. Allah berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Baqarah: 261) Allah berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba: 39)

Demikian pula dengan harta yang kita sedekahkan maka Allah akan menjaga harta kita dari berbagai kotoran yang ada padanya dan membersihkan jiwa kita selaku pemilik harta. Lebih dari itu harta yang kita sedekahkan tersebut akan diganti oleh Allah dengan pahala besar yang berlipat di akhirat nanti.

Adapun setan, dia selalu menghembuskan kepada manusia perasaan takut miskin. Targetnya, sepaya menjadi orang yang bakhil. Sehingga terhalang dari barakah Ilahi. Allah berfirman: “Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (bakhil).” (QS. al-Baqarah: 268)

Tatkala seseorang hendak bersedekah maka setan pun membisikkan godaannya, “Jangan kamu bersedekah, sebab akan mengurangi hartamu, nanti kamu akan menjadi miskin, janganlah kamu bersedekah, tahanlah hartamu.”

Jadilah Engkau Seorang Pemaaf

Sikap memaafkan kesalahan orang lain merupakan sifat mulia yang tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan manusia. Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan berhati mulia sajalah yang bisa melakukan hal ini.

Apabila ada seseorang yang berbuat salah kepadamu seperti menyakiti tubuhmu, atau menyakiti hatimu atau mengambil hartamu, maka secara tabiat pasti engkau akan membalas perbuatan tersebut. Sesungguhnya yang demikian ini diperbolehkan dalam syariat. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Barangsiapa menyerang kamu maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu.” (QS. al-Baqarah 194) Allah juga berfirman: “Dan jika kamu membalas maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (QS. an-Nahl: 126)

Namun syariat pun memberikan pilihan yang lebih baik daripada itu yaitu memaafkan kesalahan-kesalahan tersebut. Allah berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah.” (QS. asy-Syura: 40) Allah berfirman: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang baik serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf: 199)

Akan tetapi pemberian maaf disini harus terkait pula dengan adanya perbaikan pada diri orang yang berbuat kesalahan tersebut. Apabila ternyata dengan memaafkannya tidak merubah perbuatannya dan justru semakin bertambah rusak maka tidak sepatutnya dimaafkan, bahkan yang lebih tepat baginya diganjar hukuman atas perbuatannya itu.

Orang yang mudah memaafkan maka akan ditambah kemuliaannya oleh Allah sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidaklah seorang hamba memaafkan saudaranya melainkan Allah menambah untuknya kemuliaan.”

Makna “Allah menambah untuknya kemuliaan” disini mengandung 2 penafsiran. Penafsiran pertama adalah mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan dunia dan penafsiran kedua adalah akan mendapatkan pahala di akhirat.
Sungguh, setan akan selalu menghembuskan godaannya kepada manusia tatkala memaafkan kesalahan saudaranya misalnya dengan mengatakan, “Mengapa kamu memaafkannya?! Jangan menghinakan diri kepadanya”. Padahal dengan memaafkan kesalahan saudara tersebut akan menjadikan orang tersebut mulia di sisi manusia dan di sisi Allah.

Jadilah Engkau Seorang Yang Tawadhu’

Tawadhu’ disini mengandung 2 pengertian. Pengertian pertama adalah ketundukan terhadap ajaran Islam dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan tidak bersikap sombong. Sedangkan pengertian kedua adalah bersikap rendah hati terhadap manusia karena Allah, bukan karena takut dan bukan pula karena mengharapkan sesuatu yang ada pada diri mereka, namun semata-mata karena Allah.

Dengan sikap tawadhu’ seseorang akan bisa meraih 2 keutamaan yaitu mendapatkan pahala dari Allah dan dimuliakan oleh manusia.

Lawan daripada sikap tawadhu’ adalah sombong yaitu tidak mau tunduk terhadap kebenaran dan meremehkan atau merendahkan orang lain.

Mari kita ambil contoh penerapan sikap tawadhu’ dalam kehidupan sehari-hari dari para pendahulu kita yang shaleh. Sungguh telah menjadi kebiasaan dari para pendahulu kita yang shaleh menjadikan orang yang lebih tua dianggap seperti ayah dan orang yang lebih muda dianggap seperti anak serta orang yang sebaya dianggap seperti saudaranya. Maka mereka menyikapi orang yang lebih tua dengan memuliakannya dan menyikapi orang yang lebih muda dengan menyayanginya serta menyikapi orang yang sebaya sebagaimana dirinya.

Barangsiapa yang tawadhu’ karena Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan di akhirat. Realitas ini dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa orang yang tawadhu’ akan mendapat kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, disebutkan kebaikannya dan dicintai oleh mereka.

Beberapa pelajaran penting dari hadits ini adalah sebagai berikut:

1. Anjuran untuk bersedekah dan jangan sampai seseorang tidak mau bersedekah karena takut jumlah hartanya menjadi berkurang ketika disedekahkan.

2. Kita mengetahui bahwa harta memang akan berkurang nominalnya dengan sebab sedekah namun di sisi lain keberkahannya menjadi bertambah, membersihkan segala bentuk kotoran harta, mendapatkan kemuliaan dari Allah dan balasan pahala yang berlipat.

3. Tidak sepantasnya bagi kita untuk menyandarkan diri kepada sesuatu yang bersifat materi. Nilai-nilai ukhrawi tak boleh sirna dari kehidupan kita. Sehingga tidak boleh bagi kita untuk mengatakan, “Apabila aku sedekahkan 10 bagian dari 100 hartaku, niscaya hartaku akan berkurang.” Siapa yang menyangka kalau ternyata Allah menakdirkan dengan sebab sedekahnya tersebut mendapatkan rezeki yang berlipat-lipat.

4. Anjuran untuk mudah memaafkan kesalahan orang lain. Sering kali orang mengira bahwa dengan memaafkan kesalahan orang lain berarti ia telah merendahkan diri dihadapannya. Yang demikian adalah tidak benar karena sesungguhnya Allah akan memuliakan seseorang yang memaafkan kesalahan saudaranya karena Allah.

5. Anjuran untuk bersikap rendah hati.

6. Hendaklah kita selalu menjaga keikhlasan, karena keikhlasan mempunyai pengaruh yang besar dalam meraih pahala dimana Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

7. Semakin bertambah ketaatan seorang hamba kepada Allah l dan ketundukannya terhadap perintah Allah maka akan semakin bertambah pula derajatnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifqi

Untuk mendapatkan buletin dalam bentuk file gambar/JPEG klik di sini: halaman 1, halaman 2, halaman 3, halaman 4.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *