Mengelilingi al Jannah (Surga), Berkenalan dengan Penghuninya

Allah berfirman (artinya): “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (Ar-Ra’d: 35)

Dahulu, selepas perang Hunain pada tahun 8 H, didatangkanlah para tawanan kepada Rasulullah. Tiba-tiba ada seorang tawanan wanita yang nampak panik, berjalan cepat ke sana kemari. Kelihatannya ada sesuatu yang ia cari. Begitu melihat ada seorang bayi, ia pun segera mengambil bayi tersebut dan mendekapnya. Lalu ia susui bayi tersebut dengan penuh kasih sayang.

Demi melihat pemandangan seperti itu, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Bagaimana menurut kalian, apakah wanita ini tega melemparkan bayinya ke dalam api?” Para sahabat pun menyahut, “Tentu tidak, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah bersabda, “Sungguh kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya itu jauh lebih besar daripada kasih sayang wanita ini kepada bayinya.” (Lihat Shahih al-Bukhari no. 5999 dan Shahih Muslim no. 2754)

Masuk al-Jannah Karena Kasih Sayang-Nya

Pembaca rahimakumullah. Betapa besar kasih sayang Allah. Betapa luas tak terkira rahmat-Nya. Di antara besarnya kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya adalah diciptakannya al-Jannah yang disediakan untuk mereka. Hidup di al-Jannah merupakan kenikmatan tiada tara.

Amal saleh yang dilakukan oleh hamba bukanlah satu-satunya penyelamat dari siksa neraka. Kasih sayang dan keutamaan-Nya lah yang akan menjadi kunci pembuka untuk seseorang masuk ke dalam al-Jannah-Nya nan abadi. Pembaca, mohonlah kasih sayang-Nya.

Berita Tentang al-Jannah

Pemandangan menakjubkan yang ada di dalamnya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik di benak manusia sekalipun.

Allah sebutkan gambaran al-Jannah dalam al-Qur’an. Itu hanya sebatas gambaran. Hakekat sebenarnya jauh lebih indah, lebih nikmat, dan lebih mempesona. Benar-benar tidak bisa dibayangkan oleh ilusi manusia.

Surga adalah tempat tinggal abadi. Luasnya seluas langit dan bumi. Di dalamnya mengalir sungai-sungai. Ada sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya. Sungai dari susu yang tidak berubah rasanya. Sungai dari khamar yang lezat rasanya, dan sungai dari madu yang disaring lagi manis tiada bandingannya.

Ada pula sungai yang pinggirannya terdapat kemah-kemah dari permata. Airnya adalah misik nan amat harum. Itulah al-Kautsar yang Allah anugerahkan kepada Nabi-Nya. (HR. Al-Bukhari no. 4964)

Kesibukan penghuni al-Jannah hanyalah bersenang-senang. Benar-benar kehidupan yang lapang. Tiada duka, tiada pula lara. Problem hidup tidak pernah menghimpit, tiada pernah pula merasakan ekonomi yang sulit.

Pendamping Hidup di al-Jannah. Semakin Hari Semakin Jelita

Mereka tidak bersendirian. Teman hidupnya adalah gadis-gadis sebaya yang senantiasa perawan. Di atas dipan bertahtakan emas dan permata, serta kasur yang tebal nan empuk mereka bertelekan.

Itulah bidadari bermata jeli yang akan menjadi sang istri. Tubuhnya senantiasa menebarkan aroma semerbak mewangi. Harum abadi. Rasulullah memberitakan, “Kalau seandainya wanita al-Jannah menampakkan diri kepada penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi jagad ini. Bumi ini pun bakalan penuh dengan aroma wangi. Penutup kepalanya saja lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Al-Bukhari no. 2796)

Para bidadari itu tidak akan diam berpangku tangan. Mereka ungkapkan cintanya kepada sang suami dengan penuh kelembutan. Para bidadari tiada yang diam membisu. Mereka mendendangkan nyanyian nan amat merdu. Keindahan suaranya belum pernah didengar oleh seorangpun. Di antara yang mereka lantunkan:

Kami adalah para wanita yang baik nan jelita.

Para istri orang-orang yang mulia.

Yang melihat dengan pandangan penyejuk mata. (Lihat HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam ash-Shagihir no. 734)

Bertambah hari, bertambah pula ketampanan dan kecantikan suami istri. Rasulullah telah memberitakan, bahwa di al-Jannah ada sebuah pasar yang biasa didatangi oleh penduduknya setiap hari Jum’at. Berhembuslah angin utara yang lantas menerpa wajah-wajah dan baju-baju mereka. Sehingga bertambahlah kebagusan dan keelokannya.

Kemudian mereka kembali kepada keluarganya dalam keadaan keluarganya juga semakin cantik jelita. Maka keluarganya pun berkata, “Demi Allah, kalian bertambah tampan dan rupawan setelah pergi meninggalkan kami. “Mereka pun menyahut, “Dan kalian juga, bertambah cantik jelita setelah kami tinggalkan.” (Lihat HR. Muslim no. 2833)

Pakaian yang mereka kenakan adalah sutera. Tiada pernah lusuh, apalagi usang. Sementara perhiasannya adalah gelang-gelang dari emas, perak, dan mutiara.

Setiap penduduk al-Jannah akan berlezat-lezat bersama pasangannya dalam kehidupan yang kekal. Selalu sehat, tidak pernah sakit. Selalu muda, tidak pernah tua. Pun fisiknya selalu prima, dan kebugarannya tidak akan pernah sirna. (Lihat HR. Muslim no. 2836 dan no. 2837)

Hidangan Penduduk al-Jannah

Apa yang diingini, pasti terpenuhi. Mereka dikelilingi oleh wildanun mukhalladun (anak-anak muda yang tetap muda), dengan membawa gelas, cerek, dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Semuanya telah terhidang.

Segala macam dan jenis buah-buahan, ada di dalam al-Jannah. Amat dekat dan mudah memetiknya. Makan dan minum sekehendaknya, tanpa harus berpikir dari mana mendapatkannya. Penduduk al-Jannah tidak akan buang air besar, tidak beringus, tidak meludah, dan tidak pula buang air kecil. Aroma sendawa yang keluar dari mulut mereka seperti aroma parfum misik. (Lihat HR. Muslim no. 2835)

Mengenal Penghuni al-Jannah

Siapakah yang berhak menghuni al-Jannah? Jawabannya: “Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ar-Ra’d: 35)

Orang yang menyandang predikat takwa, dialah penghuni al-Jannah. Demikianlah yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Gelar pejabat dan status konglomerat bukan jaminan untuk meraih tiket menuju al-Jannah. Baik penguasa maupun rakyat jelata, tidak gampang begitu saja masuk al-Jannah kalau dia tidak punya bekal takwa.

Apakah takwa itu?

Al-Imam Thalq bin Habib menjelaskan, “Takwa adalah menjalankan ketaatan kepada Allah sesuai dengan cahaya (bimbingan) syariat-Nya, dalam rangka mengharapkan pahala dari-Nya. Di sisi lain ia meninggalkan kemaksiatan kepada Allah sesuai dengan cahaya (bimbingan) syariat-Nya, dalam rangka takut akan siksa-Nya.”

Dari definisi takwa di atas, marilah kita bersama-sama mengintrospeksi amalan kita. Sudahkah ketaatan yang kita jalankan sesuai dengan bimbingan syariat Allah? Sudahkah motivasi kita dalam beribadah untuk mengharapkan pahala dari-Nya? Ataukah kita beramal demi mencari sesuap materi duniawi?

Bersamaan dengan itu, apakah upaya kita untuk meninggalkan kemaksiatan sudah maksimal? Atau sebaliknya, justru kita bermudah-mudahan berbuat maksiat terhadap Sang Pencipta? Hari demi hari, banyak dosa yang kita lakukan. Semakin menumpuk dosa kita. Belum sempat bertaubat dari dosa yang kemarin, hari ini sudah terjatuh ke dalam dosa yang baru.

Nastaghfiruka wanatubu ilaika yaa Allah.

Semoga Allah memudahkan kita meniti jalan menuju ketakwaan kepada-Nya.

Rindu al-Jannah

Berikut adalah penggalan kisah sahabat Nabi yang rindu al-Jannah. Bukan rindu yang hanya terpendam di hati, namun benar-benar rindu yang nampak terukir dalam tindakan nyata.

Adalah Umair bin Al-Humam Al-Anshari, di tengah berkecamuknya perang Badar, begitu mendengar berita bahwa al-Jannah itu luasnya seluas langit dan bumi, ia segera bertanya kepada Nabi, “Benarkah demikian wahai Rasulullah? al-Jannah itu luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah menegaskan, “Ya!!” Sontak Umair bin Al-Humam pun berujar, “Bakh… Bakh… (ungkapan yang menunjukkan rasa kagum).” Rasulullah balik bertanya, “Apa yang membuatmu kagum sehingga mengatakan bakh… bakh?” Umair menjawab, “Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah. Demi Allah, aku hanya berharap termasuk penghuni al-Jannah.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penduduk al-Jannah.” Lalu Umair mengeluarkan beberapa butir kurma dari tabung tempat senjatanya, lantas memakannya. Kemudian ia berkata, “Kalau aku hidup sampai aku habiskan kurmaku ini, maka sungguh betapa lamanya hidupku.” Langsung saja ia melempar kurma-kurma yang tersisa dan kemudian maju berperang hingga terbunuh (sebagai syahid). (Lihat HR. Muslim no. 1901)

Surga, Harapan Orang yang Bertakwa

Yang benar, setiap muslim harus berharap masuk al-Jannah. Anda ingin beramal ibadah? Iringi niat Anda untuk mengharap pahala dan memohon al-Jannah-Nya. Jangan seperti yang dilakukan oleh sebagian kalangan yang mengatakan:

“Yaa Allah, aku beribadah kepada-Mu bukan karena mengharapkan al-Jannah-Mu, dan bukan pula karena takut neraka-Mu.”

Hindarkan lantunan doa seperti ini. Seorang muslim justru dihasung untuk banyak berdoa dan memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam al-Jannah dan dijauhkan dari siksa neraka. Rasulullah bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الْجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنْ النَّارِ.

“Barangsiapa yang memohon kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam al-Jannah tiga kali, maka al-Jannah akan berkata: Yaa Allah, masukkan dia ke dalam al-Jannah. Barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari neraka tiga kali, maka neraka akan berkata: Yaa Allah, lindungilah dia dari neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2495, An-Nasa’i no. 5426)

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah

* Catatan:
Beberapa berita tentang al-Jannah yang tidak kami sebutkan sumbernya bisa pembaca lihat di surat Al Hajj: 23, Yasin: 55-58, Ad-Dukhan: 51-56, Muhammad: 15, Al-Waqi’ah: 10-40, Al-Insan: 12-21, An-Naba’: 31-38, Shad: 49-54, dan beberapa ayat yang lain.

Untuk mendapatkan buletin dalam bentuk file gambar/JPEG klik di sini: halaman 1, halaman 2, halaman 3, halaman 4.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *