Untuk Segenap Orang Tua -serial pendidikan anak dan keluarga-

Di zaman sekarang ini, pendidikan keluarga menjadi suatu yang amat penting dan harus diprioritaskan. Jika orang tua tidak bisa menyikapi dan memperlakukan anak-anak secara tepat dan bijak, maka orang tua itu sendiri yang akan menanggung akibatnya. Sendi-sendi keluarga keropos karena digerogoti dari dalam. Era teknologi begitu berpengaruh dan mengoyak-oyak keluarga muslim. Bahkan, tidak sedikit benteng sosial terakhir itu menjadi roboh. Bermacam-macam modusnya. Mari kita ikuti ulasan selengkapnya, semoga Allah merahmati dan memberkahi Anda beserta keluarga!

Anak-anak di mata orang tua

Anak adalah karunia terindah bagi setiap orang tua. Sebuah karunia yang tidak ternilai dan tidak bisa diukur dengan materi maupun harta. Anak-anak adalah harta paling berharga dalam sebuah keluarga.

Bagi Anda yang belum dikarunia putra, kehadiran mereka selalu dinanti. Keberadaannya di dunia terus dirindu. Anak adalah tumpuan masa depan, sebagai pewaris dan penerus generasi yang telah tua. Ia adalah penyejuk hati, pelipur lara, dan tempat mencurahkan kasih sayang maupun cinta. Keberadaannya di dunia menjadikan kehidupan ini terasa begitu indah dan bahagia.

Adalah fitrah bagi setiap manusia untuk cinta terhadap putra. Ia adalah perhiasan yang begitu indah, yang menarik pesona dan memikat jiwa setiap orang tua. Ketiadaan putra membuat hidup serasa kurang sempurna.
Allah berfirman (artinya), “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46)

Tak lengkap dan tak bahagia bila kedua orang tua tak bersanding dengan belahan jiwa. Baginya kehidupan itu seolah hampa. Sebab, tidak ada yang bisa menjadi penerus dan pewarisnya. Tidak ada yang bisa diajak bercanda dan tertawa bersama.

Rumah terasa sunyi, tanpa ada gelak tawa atau tangis putra-putri. Tiada lambaian tangan mungil yang menyambut ayah sepulang kerja, yang mengusap setiap peluh keringat yang mengucur di dada, yang membasahi kerongkongan yang didera dahaga, dan yang akan memupus lelah dan penat di akhir senja.

Orang tua dalam keluarga

Di rumah, ayah adalah pemegang tampuk kepemimpinan rumah tangga. Dialah pucuk pimpinan tertinggi yang memiliki otoritas penuh. Kata-katanya didengar dan dipatuhi oleh semua anggota keluarga. Sedangkan ibu, dia adalah sosok penjaga kehormatan yang menebarkan kasih sayang dan cinta.
Allah berfirman (yang artinya), “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. an-Nisa’: 34)
Anak-anak harus tunduk kepada orang tua, suka atau tidak suka. Mereka harus patuh dan menurut kepada kedua orang tua, bahkan berusaha untuk mencari ridhanya. Demikianlah, keberadaan dan posisi orang tua di dalam keluarga. Dan ini yang kita rasakan ketika kita masih kanak-kanak dulu.

Anak dan kenyataan

Namun, di sebagian keluarga, anak tidak diperlakukan dengan baik. Tidak ada kasih sayang dan pendidikan di dalam rumahnya. Sehingga, ia mencari pengganti di luar rumah tanpa berpikir lebih jauh akibat yang akan ditimbulkan. Orang tua baru sadar saat anaknya sudah jauh dari agama dan tata krama.

Dulu, di masyarakat kita, masyarakat Timur yang dikenal sebagai masyarakat Islami, rumah memiliki wewenang yang tinggi atas anak-anak. Hal tersebut didukung oleh masyarakat dan lingkungan. Ada dua kalimat pantangan yang berlaku di masyarakat, “ini haram” dan “ini aib”. Yang pertama karena alasan agama dan yang kedua karena alasan tradisi Islami. Keduanya memiliki tempat di hati. Dua kalimat ini dipegang erat secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Bila ada individu yang melanggar dua kalimat tersebut, ia akan mendapatkan sanksi.

Kemudian, datanglah suatu generasi yang mempertanyakan kenapa ini haram dan kenapa itu aib. Pertanyaan itu muncul karena iman telah rapuh dan masuknya pengaruh budaya-budaya Barat (negara-negara kafir). Iman rapuh karena sebagian keluarga telah mulai jauh dari agama. Mereka menganggap bahwa peradaban dan budaya negara Barat dinilai sebagai kemajuan. Sehingga, mereka tidak lagi percaya diri dengan adat ketimuran yang menjadikan ajaran agama sebagai pedoman utama.

Sekedar membandingkan

Dulu, memang demikian. Orang tua di mata anak adalah teladan. Anak bagi orang tua adalah harapan. Sehingga, kedua belah pihak menempatkan posisinya sebagaimana porsinya. Dulu, ayah disegani, ibu dihormati. Dulu, dulu, anak disayangi dan diajari pendidikan agama, karena sadar bahwa pendidikan agama adalah segala-galanya.

Sekarang, segalanya telah berbalik. Ayah berusaha menuruti kemauan istri. Kini, ayah harus pontang-panting mengikuti setiap rengekan anak. Ibu tak lagi mampu menolak kemauan anak-anak, sekalipun kemauan tersebut berbahaya bagi diri si anak, disadari atau tidak disadari. Kesimpulannya, orang tua tunduk kepada anak-anak.

Sekarang, segalanya telah berbalik. Anak-anak cenderung keras kepala. Mereka berani mendesak dan bahkan mengancam orang tua untuk memenuhi segala tuntutan, yang sebenarnya tuntutan tersebut tidak masuk akal atau bahkan tidak bisa dibenarkan. Singkat kata, anak-anak sudah berani kepada orang tua.

Salah satu penyebabnya

Dulu, orang-orang ramai membicarakan suatu bangsa yang akan menghancurkan umat manusia. Bangsa tersebut akan datang dari luar angkasa dengan menggunakan ‘piring terbang’. Mereka adalah alliens, kata orang-orang. Semua orang merasa ngeri dan ketakutan. Semua siaga, waspada, dan bertanya-tanya, “Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi ancaman berbahaya itu?”

Padahal, kebenaran makhluk cebol angkasa itu masih diragukan. Namun, orang-orang lupa kalau ada ‘piring terbang’ lain yang sudah menghancurkan mereka. Piring terbang itu telah menyerbu kita, rumah tangga muslim, dengan begitu tenang. Dan, dampaknya benar-benar mengerikan. Piring terbang itu kini sedang mendarat dan bertengger di atap-atap rumah sebagian kita, dan kita menyambutnya dengan bahagia. Itulah parabola.

‘Piring terbang’ itu juga menyusup ke dalam kamar-kamar putra-putri kita. Ia menyusup ke sebuah alat yang bernama VCD player. Semua alat-alat itu masuk ke rumah-rumah kita, sedangkan kita merasa aman dari bahayanya. Dengan asyiknya, keluarga dan anak-anak menyaksikan berbagai acara yang disajikan oleh piring terbang itu.

Padahal, sebenarnya mereka tengah menikmati sajian yang membahayakan mental dan mencemari akal. Sementara itu, kita hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa, atau bahkan kadang ikut tersenyum. Lalu senyum itu akhirnya hilang, karena ternyata sudah terlambat.

Coba renungkan!

Tidak ada rumah yang aman manakala telah disusupi internet. Internet masuk dengan halus, tapi pasti, menghembuskan rayuan setan yang memikat. Tidak sedikit, orang pintar dan alim sekalipun bisa terpikat. Sudah banyak bukti jerat-jerat internet merubah kepribadian orang. Seakan-akan, internet telah mengumandangkan perang.

Ternyata, salah satu penyebab utama kehancuran putra-putri kita adalah media-media yang ada, baik elektronik maupun cetak, yang audio maupun visual. Sudah saatnya kita cerdas dan selektif dalam memilihkan media yang tepat buat putra-putri kita, sebelum terlambat.

Imunisasi dan vaksinasi

Para orang tua yang saya cintai, kita begitu rajin membawa putra-putri kita ke layanan posyandu setiap bulannya. Bahkan, bagi orang tua yang mampu, ia akan memilih dokter spesialis anak untuk memantau perkembangan kesehatan belahan jiwanya. Berbagai jenis vitamin, atau suntikan vaksinasi diberikan demi menangkal penyakit yang kemungkinan bisa menyerang putra-putri kita.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, sudah sebesar apakah perhatian kita sebagai orang tua melakukan tindakan pencegahan atau pengobatan demi menghadapi penyakit yang menimpa moral dan mental buah hati kita? Seberapa seringkah kita mengantar harapan kita ke “para dokter kejiwaan anak”? Sudahkah kita memberi vaksinasi dan imunisasi anti dekandanasi moral dan degradasi iman? Padahal penyakit mental dan moral jauh lebih ganas dan lebih berbahaya dibandingkan penyakit jasmani. Inilah tugas berat keluarga di era carut-marut ini.

Mari berbuat, sebelum terlambat!

Memang, kewajiban orang tua terkait pendidikan anak amatlah berat. Namun, selama seseorang mau berusaha dan berikhtiar, yang berat itu akan menjadi mudah. Yang terpenting bagi orang tua adalah memberi teladan terbaik kepada anak-anak. Bukan sekedar nasihat kosong maupun perintah yang orang tua sendiri justru melanggarnya. Inilah yang disebut dengan pendidikan perilaku. Dan inilah yang lebih diikuti oleh seorang anak. Kata pepatah,

رُبَّ سُكُوتٍ أَبْلَغُ مِنْ كَلاَمٍ

artinya, “Bisa jadi sikap diam itu (diiringi perbuatan nyata) lebih mengena dibandingkan ucapan.”

Saat ini, orang tua memikul tanggung jawab berat. Ia dituntut mendidik anak secara tepat. Bukan hanya pendidikan fisik, melainkan juga pendidikan iman, pendidikan akhlak, mental, spiritual, dan sosial.

Dengan demikian, orang tua harus istiqamah dan bersungguh-sungguh membentengi keluarga dari segala hal yang buruk. Rumah harus bersih dari segala bentuk perilaku negatif, seperti kesyirikan, berbohong, membuka aurat, makan harta haram, mabuk-mabukan, melecehkan tetangga, menghina orang lain, melalaikan shalat, menghabiskan waktu di depan TV, selalu merasa jenuh dan bosan, menghamburkan harta, dan lain-lainnya.

Sebaliknya, rumah harus diisi dengan ibadah, akhlak terpuji, budi pekerti, amal saleh dan ketaatan, serta hal-hal positif lainnya. Lingkungan yang baik begitu besar pengaruhnya terhadap kepribadian anak. Dan lingkungan terkecil itu adalah keluarga. Sehingga, Anda, wahai bapak, adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarga Anda.

Lingkungan yang baik akan melahirkan pula putra-putri yang baik insya Allah. Saksikanlah anak-anak kecil yang tumbuh di sekitar Nabi, sahabat dan tabi’in. Semua, atau sebagian besar mereka, tampil menjadi sosok pilihan. Mereka tumbuh di lingkungan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Akhirnya, mereka menjadi sosok sejati yang alim dan kokoh.

Panggilan Sang Pencipta

Anda, wahai nahkoda bahtera, telah dipanggil oleh Sang Pencipta, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan!” (QS. at-Tahrim: 6)
Semoga menginspirasi keluarga Anda!

Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdy

Untuk mendapatkan buletin dalam bentuk file gambar/JPEG klik di sini: halaman 1, halaman 2, halaman 3, halaman 4.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *