Al-Masih ad-Dajjal (2) Fitnah Terbesar Sepanjang Sejarah [Beriman terhadap Hari Akhir (6)]

Telah dijelaskan pada edisi sebelumnya, betapa besar fitnah Dajjal, bahkan merupakan fitnah terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Sampai-sampai tak seorang nabi pun kecuali pasti memperingatkan umatnya dari bahaya fitnah Dajjal, disertai penjelasan sifat-sifatnya. Sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam lebih keras lagi dalam memperingatkan umatnya akan bahaya fitnah Dajjal. Beliau merinci sifat-sifatnya, menyebutkan sepak terjang dan tipu dayanya, dengan penjelasan yang benar-benar nyata tak tersamarkan.

Berlindung Dari Fitnah Dajjal

Karena besarnya kasih sayang Baginda Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam kepada umatnya, beliau tidak hanya memperingatkan umatnya dari bahaya fitnah pendusta terbesar ini dengan segenap rinciannya, tapi juga beliau sertai dengan cara berlindung dari bahaya fitnah tersebut.

Di antara cara yang disebutkan oleh Rasululullah n:

1. Berpegang Teguh dengan Dinul Islam dan Bersenjatakan Iman. Hendaknya seorang muslim mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan Nama-Nama-Nya yang indah dan Sifat-Sifat-Nya yang Mulia. Allah Maha sempurna dari segala sisi. Sehingga ia mengerti bahwa Dajjal adalah manusia biasa, yang penuh kekurangan. Adapun berbagai keajaiban yang ada pada Dajjal, maka itu semata-mata dengan izin Allah sebagai ujian bagi manusia.

2. Memohon Perlindungan dari Fitnah Dajjal, terutama di penghujung shalat

Sebagaimana hadits dari shahabat Abu Hurairah RadhiyAllahu ‘Anhu: Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bertasyahhud maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan berdo’a:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dan dari adzab kubur, dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian, dan dari kejelekan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim: 588)

2. Menghafal Sepuluh Ayat Pertama atau Terakhir dari Surat al-Kahfi.

Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda,

«مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ» وفي رواية : «مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ»

“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal surat al-Kahfi, maka dia akan dijaga dari Dajjal.” dalam riwayat lain : “dari akhir surat al-Kahfi” (HR. Muslim: 809)

3. Tinggal Di Makkah atau Madinah.

Karena dua kota suci tersebut dijaga oleh para Malaikat sehingga tidak dimasuki oleh Dajjal. Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda,

«لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ، إِلَّا مَكَّةَ، وَالمَدِينَةَ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا، ثُمَّ تَرْجُفُ المَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، فَيُخْرِجُ اللهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ»

“Tidak satu negeri pun kecuali dimasuki oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak satu lorong pun kecuali ada sejumlah malaikat berbaris menjaganya. Kemudian Madinah akan bergoncang sebanyak tiga kali, maka Allah keluarkan semua orang kafir dan munafiq.” (HR. al-Bukhari 1881, Muslim 2943)

4. Menjauh Darinya ketika Dajjal Benar-Benar Telah Keluar.

Nabi ntelah memperingatkan kita agar tidak bertemu dengan Dajjal. Beliau bersabda,

«مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ، مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ»

“Barangsiapa mendengar Dajjal (telah keluar) maka hendaknya ia menjauh darinya. Sungguh demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam kondisi dia yakin dirinya adalah seorang mukmin, ternyata akhirnya dia pun mengikutinya. Karena (kuat)nya syubhat-syubhat yang ia (Dajjal) tebarkan.” (HR. Abu Dawud 4319)

5. Barangsiapa yang Terpaksa Berjumpa dengan Dajjal, hendaknya ia mendatangi Sungai yang ia lihat sebagai api.

Nabi nbersabda,

«لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ مِنْهُ، مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ، أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ، مَاءٌ أَبْيَضُ، وَالْآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ، نَارٌ تَأَجَّجُ، فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ، فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا وَلْيُغَمِّضْ، ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ، فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ »

“Sungguh aku benar-benar lebih tahu apa yang dibawa oleh Dajjal daripada dia (Dajjal sendiri). Bersamanya ada dua sungai mengalir. Salah satunya secara pandangan mata terlihat sebagai air yang putih. Adapun yang kedua dalam pandangan mata terlihat sebagai api yang menyambar-nyambar. Maka apabila salah seorang berjumpa dengan Dajjal, maka hendaknya ia mendatangi sungai yang ia lihat sebagai api. Pejamkanlah mata, dan hendaknya dia merundukkan kepalanya, kemudian minum darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin.” (HR. Muslim 2934)

5. Banyak-Banyak Mengingat Dajjal, Agar Waspada Darinya.

Sebagaimana hadits,

“Tidak akan keluar Dajjal sampai umat manusia lupa dari mengingat (bahaya)nya, dan sampai para imam meninggalkan peringatan tentangnya di mimbar-mimbar.” (HR. Ahmad 16667, dihasankan sanadnya oleh Ibnu Katsir Rahimahullah)

Al-Imam as-Saffarini Rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap orang yang berilmu menyampaikan hadits-hadits tentang Dajjal kepada anak-anak, kaum wanita, juga kaum pria, … disebutkan dalam suatu riwayat bahwa di antara tanda-tanda kemunculan Dajjal ialah manusia telah lupa menyebut (mengingatkan) tentang Dajjal di mimbar-mimbar. … Apalagi pada zaman kita ini yang telah banyak fitnah dan ujian, sunnah-sunnah dianggap bid’ah, dan bid’ah dianggap sebagai syari’at yang harus diikuti Lahaula wala Quwwata illa billah!!” (Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah II/106-107)

Orang-orang Yang Mengingkari Dajjal

Sangat disesalkan, bersama dengan banyaknya hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam yang menerangkan tentang al-Masih ad-Dajjal dengan sangat jelas, bahkan mencapai derajat mutawatir, tetap muncul kelompok-kelompok atau tokoh-tokoh yang mengingkari al-Masih ad-Dajjal.

Kelompok Khawarij, Mu’tazilah, dan Jahmiyyah mengingkari keberadaan Dajjal. Demikian pula, pada masa ini muncul tokoh bernama Muhammad Abduh mengingkari Dajjal. Sebagaimana dinukil oleh muridnya yang bernama Muhammad Rasyid Ridha, “Dia (Muhammad Abduh) berpendapat bahwa Dajjal merupakan simbol tentang berbagai khurafat, kedustaan, dan kejelekan.”

Demikian pula, Muhammad Rasyid Ridha sendiri mengingkari berbagai keajaiban dan keluarbiasaan pada Dajjal. Tentu ini sangat disayangkan. Mereka tidak memiliki landasan dalam hal ini kecuali semata-mata logika akal dan hawa nafsu!!

Tentang mereka ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda,

أَلا وَإِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ بَعْدِكُمْ قَوْمٌ يُكَذِّبُونَ بِالرَّجْمِ، وَبِالدَّجَّالِ، وَبِالشَّفَاعَةِ، وَبِعَذَابِ الْقَبْرِ، وَبِقَوْمٍ يُخْرَجُونَ مِنَ النَّارِ بَعْدَمَا امْتَحَشُوا

“Ketauhilah, bahwa akan muncul setelah kalian kaum yang mendustakan hukum rajam, Dajjal, Syafa’at, adzab kubur, dan adanya kaum yang dikeluarkan dari api neraka setelah terbakar kulit mereka.” (HR. Ahmad I/23, dishahihkan oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir Rahimahullah).

Waspadalah wahai kaum muslimin. Jangan terpesona atau kagum dari kelompok atau orang-orang yang mendustakan ajaran agama. Walaupun dia terpandang sebagai tokoh besar atau terhormat!!

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ustadz Ahmad Alfian

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *