TINJAUAN SINGKAT TENTANG AGAMA SYIAH

JUDUL EDISI6

Keberadaan Syiah, acap kali mengusik tatanan dalam peradaban Islam. Beragam sisi pandang turut dikemukakan dalam menyikapinya di berbagai belahan dunia. Hingga kini, Syiah masih dipahami oleh sebagian masyarakat sebagai sebuah madzab dalam Islam. Masih dianggap sekedar beda fikih dengan keumuman kaum muslimin. Padahal, agama bentukan seorang Yahudi ini demikian sarat dengan ajaran menyimpang.


Tulisan berikut ini mengetengahkan sejumlah penyimpangan mereka yang termuat dalam kitab-kitab ulama Syiah itu sendiri. Sebuah tinjauan singkat yang bersentuhan langsung dengan akidah umat Islam.

Al-Qur’an Menurut Agama Syiah
Ulama Syiah bernama Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini dalam kitabnya al- Kafi (kitab tersebut bagi kaum Syiah seperti kedudukan Shahih Bukhari bagi kaum muslimin), meriwayatkan secara dusta atas Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, bahwasanya beliau berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad ` berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi 2/134)
Artinya, hampir 2/3 bagian telah hilang dari al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam menurut agama Syiah. Dengan kata lain, al-Qur’an milik Syiah (Mushaf Fathimah) dua kali lebih banyak dari kitab suci umat Islam.
Ulama Syiah bernama al-Majlisi berkata seusai menyebutkan beberapa riwayat, “Sesungguhnya berita ini dan masih banyak lagi berita yang shahih, dengan jelas menyebutkan terjadi kekurangan dan perubahan pada al-Qur’an.” (Mir’atul ‘Uqud 12/525)

Para Sahabat menurut Agama Syiah
Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan secara dusta atas Abu Ja’far Muhammad bin Ali al-Baqir, bahwasanya beliau berkata, “Manusia telah murtad setelah wafatnya Nabi kecuali tiga orang.” Beliau ditanya, “Siapakah ketiga orang itu?” Beliau menjawab, “Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (al-Kafi 12/321-322, beserta Syarh Jami’, karya al-Mazindarani)
Bahkan, ketiga sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut tidak pula selamat dari celaan kaum Syiah. Mereka meriwayatkan secara dusta atas Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata, “Seandainya Abu Dzar mengetahui isi hati Salman, niscaya dia akan membunuhnya.” (Rijal al-Kisysyi, hlm. 17)
Kaum Syiah menyebutkan hadits palsu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Salman, kalau ilmumu diberikan kepada Miqdad, niscaya dia akan menjadi kafir. Wahai Miqdad, kalau ilmumu diberikan kepada Salman, niscaya dia akan menjadi kafir.” (Rijal al-Kisysyi, hlm. 11)

Para Istri Nabi menurut Agama Syiah
Ulama Syiah yang bernama at-Thusi menyebutkan secara dusta atas Ibnu Abbas, bahwasanya beliau berkata kepada Aisyah, “Engkau tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah `.” (Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, hlm. 57-60)
Ali bin Ibrahim al-Qummi, ulama Syiah menerangkan sebab turunnya ayat ke-28 dari surah al-Ahzab, “Sebab turun ayat itu ketika Rasulullah ` pulang dari Perang Khaibar, beliau membawa harta keluarga Abul Haqiq. Maka mereka (para istri Nabi) berkata, “Berikan kepada kami apa yang engkau dapatkan.” Beliaupun bersabda, “Aku akan bagikan kepada kaum muslimin sesuai dengan perintah Allah.”
Dia lalu melanjutkan, “Marahlah mereka (mendengar itu) lalu berkata, “Sepertinya engkau menganggap kalau sekiranya engkau menceraikan kami, maka kami tidak akan menemukan para lelaki berkecukupan yang akan menikahi kami.” Maka Allah menenteramkan hati Rasul-Nya dan memerintahkan untuk berpaling dari mereka. Akhirnya beliaupun meninggalkan mereka.” (Tafsir al-Qummi 2/192)

Umat Islam menurut Agama Syiah
Diriwayatkan secara dusta atas Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, bahwa beliau berkata, “Darahnya (seorang muslim) adalah halal (untuk ditumpahkan). Akan tetapi saya mengingatkan, jika engkau mampu merobohkan tembok kepadanya, atau menenggelamkannya di dalam air agar orang lain tidak menyaksikan kejadian tersebut, maka lakukanlah.” (‘Ilal as- Syara’i’, hlm. 601)
Ulama Syiah pada masa ini bernama Ayatullah Khumaini berkata, “Pendapat yang paling kuat adalah menghukumi an- Nawashib (umat Islam) sebagaimana Ahlul Harb (orang kafir yang diperangi), yang boleh diambil hartanya sebagai ghanimah (harta rampasan perang), dan dikeluarkan seperlimanya (dari harta itu). Bahkan yang nampak, hartanya boleh dirampas dimanapun berada dan wajib untuk mengeluarkan seperlimanya.”(Tahrirul Wasail 1/352)
Yusuf al-Bahrani, ulama Syiah menegaskan, “Seorang muslim secara umum adalah tidak boleh dirampas hartanya dari segi hukum Islam. Hal ini bertentangan dengan pernyataan kelompok yang berada di atas kebenaran (Syiah), baik salaf (terdahulu) maupun khalaf (sekarang), bahwa hukum an-Nashib (seorang muslim) adalah kafir, najis, hartanya boleh diambil, bahkan diperbolehkan untuk dibunuh.” (al-Hadaiq an-Nadhirah 12/323-324)

Para Imam menurut Agama Syiah
Al-Imamah (kepemimpinan) adalah doktrin Syiah tentang wajibnya meyakini kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu beserta anak keturunannya (12 imam), dengan menampakkan permusuhan atas para penentangnya serta mengafirkan mereka.
Ni’matullah al-Jazairi, ulama Syiah berkata, “Ke-imamah-an yang bersifat umum merupakan kedudukan di atas tingkatan kenabian dan kerasulan.” (Zahrur Rabi’, hlm. 12)
Al-Majlisi, ulama Syiah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Syiah Imamiyyah (Rafidhah) bersepakat atas kemaksuman para imam -’alaihimus salam-dari berbagai dosa, yang kecil maupun yang besar. Mereka sama sekali tidak memiliki dosa, baik secara sengaja, lupa, keliru dalam penakwilan, maupun Allah yang menjadikannya lalai.” (Biharul Anwar 25/211)

Taqiyyah menurut Agama Syiah
Taqiyyah versi Syiah adalah menampakkan sesuatu dengan menyelisihi yang disembunyikan, atau menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang mereka sembunyikan. Tujuannya adalah agar kaum muslimin tidak mengetahui penyimpangan mereka. Dengan kata lain, taqiyyah adalah perbuatan dusta dan persaksian palsu.
Diriwayatkan secara dusta atas Ali bin Musa ar-Ridha, bahwa beliau berkata, “Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling banyak melakukan taqiyyah.” Ada yang bertanya kepadanya, “Wahai anak Rasulullah, sampai kapan?” Dia menjawab, “Sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu munculnya al-Qaim (imam Mahdi). Barang siapa meninggalkan taqiyyah (baca; dusta) sebelum munculnya al-Qaim, maka dia bukan dari golongan kami.” (Ikmal ad-Din, hlm. 355)

Ibadah Haji menurut Agama Syiah
Diriwayatkan secara dusta atas Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, bahwasanya beliau berkata, “Seandainya aku beritakan kepada kalian tentang keutamaan ziarah ke kuburannya (Husain bin Ali) dan keutamaan kuburannya, niscaya kalian akan meninggalkan amalan haji. Tidak ada seorangpun dari kalian yang akan menunaikan haji.”
Beliau lalu melanjutkan, “Celaka engkau, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah menjadikan tanah Karbala sebagai tanah suci yang aman dan penuh berkah sebelum Makkah dijadikan sebagai tanah suci.” (Biharul Anwar 33/101)

Amalan Jihad menurut Agama Syiah
Diriwayatkan secara dusta atas Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, bahwa beliau berkata, “Setiap bendera (jihad) yang dikibarkan sebelum munculnya al-Qaim al- Mahdi, maka pengibarnya adalah thaghut yang diibadahi selain Allah.” (al-Kafi 8/295)
Diriwayatkan secara dusta pula atas Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, bahwa beliau pernah ditanya mengenai para mujahidin yang berperang di daerah perbatasan. Beliau menjawab, “Celaka bagi orang-orang yang mempercepat kematiannya di dunia maupun di akhirat. Demi Allah, tidaklah mati syahid kecuali bagi kelompok kita (Syiah), walaupun mati di atas tempat tidurnya.” (Wasail asy- Syi’ah 11/21)

Penjelasan Para Ulama 4 Madzhab
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah mengetahui ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, karya adz-Dzahabi 2/27-28)
Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang Syiah yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Aisyah) itu sebagai orang Islam.” (as- Sunnah, karya al-Khallal 1/493)
Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka (Syiah) itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau adalah orang saleh, niscaya para sahabatnya orang-orang saleh pula.” (ash- Sharimul Maslul, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, hlm. 580)
Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya tentang darimana hendaknya mempelajari riwayat-riwayat hadits. Beliau menjawab, “Dari setiap orang yang adil dalam menyikapi hawa nafsunya, kecuali kaum Syiah. Karena sesungguhnya pokok dari berbagai akidah mereka adalah menyesatkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (al- Kifayah Fi ‘Ilmir Riwayah, karya al- Khathib al-Baghdadi, hlm. 126)

Seruan terbuka untuk Umat Islam
Para pembaca yang mulia, penilaian tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama sejak dahulu telah melakukan penelitian yang mendalam. Kajian ilmiah yang tidak dicampuri kepentingan politik. Ajaran Syiah yang awalnya disuarakan oleh Abdullah bin Saba’ al-Himyari berketurunan Yahudi di akhir pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Mereka berkeinginan untuk menghancurkan Islam dengan cara meruntuhkan sendi-sendinya.
Kita selayaknya berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayah, taufiq, dan kekuatan-Nya kepada pemerintah Indonesia. Sehingga mereka bisa memberikan kebijakan yang berguna bagi kaum muslimin terkait permasalahan Syiah ini. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Penyusun: Ustadz Muhammad Hadi hafidzahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *