Sekilas tentang Karamah

Para pembaca rahimakumullaah, permasalahan karamah para wali merupakan salah satu permasalahan yang penting untuk dibahas dan dipahami. Hal itu disebabkan banyaknya manusia yang salah paham dan salah penerapan. Bahkan sampai-sampai ada yang bertanya apakah karamah itu memang benar ada di kehidupan dunia ini atau hanya sebatas khayalan saja? Kalaupun ada apakah setiap orang yang punya “kelebihan” meskipun tidak jelas asal-usul dan sebab-musababnya bisa dianggap seorang wali dan “kelebihan”nya disebut karamah? Maka untuk bisa memahami dengan benar permasalahan ini, insya Allah, mari kita ikuti pembahasan ini.

 

Apakah Karamah Itu?

Kita mulai pembahasan dengan memahami makna karamah itu sendiri. Karamah secara bahasa bermakna suatu nikmat yang khusus. Adapun secara istilah adalah suatu hal yang terjadi di luar kebiasaan manusia yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa berikan kepada para wali-Nya. Karamah ini khusus diberikan kepada para wali semasa hidup mereka sebagai bentuk pertolongan dan pengokohan dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa dalam menjalani kehidupan serta dalam menegakkan agama-Nya.

Karamah berbeda dengan mukjizat. Mukjizat adalah kelebihan yang terkait dengan para rasul ‘alaihimus salaam ketika mereka menyampaikan risalah kepada umat mereka. Adapun karamah itu untuk selain para rasul ‘alaihimus salaam.

Lalu siapakah wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa itu? Disebutkan oleh para ulama (di antaranya adalah Ibnu Taimiyyah rahimahullaah) bahwa yang dimaksud dengan wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa adalah orang yang mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan Allah subhaanahu wa ta’aalaa, meninggalkan segala sesuatu yang dilarang dan bersabar dengan takdir yang telah ditetapkan baginya. Mereka mencintai Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa -pun mencintai mereka. Ditambahkan oleh ulama yang lain bahwa mereka bukanlah dari golongan para nabi ‘alaihimus salaam.

Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):

“Ketahuilah bahwa para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan rasa sedih pada mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (Yunus: 62-63)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullaah berkata menafsirkan ayat ini, “(Pada ayat ini) Allah mengabarkan tentang para wali dan para kekasih-Nya, menyebutkan amalan-amalan, sifat-sifat, dan pahala-pahala mereka.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Lalu Allah menyebutkan sifat mereka, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir yang baik dan yang buruk. Mereka pun jujur dalam keimanan tersebut dengan menjalankan ketakwaan, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sehingga setiap orang yang beriman dan bertakwa maka termasuk wali Allah.”

Dari pengertian di atas kita mengetahui bahwa pengakuan dan sangkaan semata bukanlah sesuatu yang menjadikan seseorang disebut sebagai wali. Tolok ukurnya adalah keimanan dan ketakwaan. Dan kita pun bisa mengetahui bahwa setiap mukmin yang bertakwa serta senantiasa bersemangat, istiqamah di atas ketakwaan tersebut, dan bukan seorang nabi, maka ia termasuk wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa.

Ibnu Katsir rahimahullaah berkata, “Wali-wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah tentang mereka, sehingga setiap orang yang bertakwa adalah wali-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/422)

Pembagian Manusia dalam Menyikapi Karamah

Manusia menjadi tiga kelompok dalam menyikapi karamah:

1. Kelompok yang menolak dan meniadakan keberadaan karamah seperti kaum Mu’tazilah dan ahli filsafat. Mereka berpendapat kalau seandainya sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada pada para wali maka tidak akan terbedakan antara seorang nabi dengan yang lainnya. Karena tentunya perbedaan antara nabi dan yang lain adalah dengan adanya mukjizat yang merupakan suatu hal di luar kebiasaan manusia.

2. Kelompok yang berlebihan dalam menyikapi keberadaan karamah. Kelompok ini adalah yang menganggap setiap kejadian luar biasa adalah karamah walaupun hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bertakwa. Bahkan sekalipun hal itu terjadi pada orang-orang yang banyak bermaksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan menyelisihi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Yang pada hakikatnya itu adalah sihir yang bersumber dari setan kemudian dianggap sebagai karamah, seperti: masuk ke dalam api, memukul tubuh dengan senjata tajam, mengabarkan berita gaib, dan yang lainnya. Bahkan tak jarang yang terjerumus dalam kubangan kesyirikan.

3. Kelompok yang meyakini adanya karamah para wali Allah dan menetapkannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dan dijelaskan oleh syariat. Inilah yang benar dan merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jawaban untuk kelompok pertama, bahwa sungguh sangat berbeda keadaan nabi dan wali. Dikarenakan para wali tidaklah mengaku sebagai nabi. Jikalau mereka mengaku nabi, maka sungguh sunnatullah yang akan berbicara bahwa siapa saja mengaku nabi padahal ia bukan nabi maka akan binasa sebagaimana telah terjadi pada Musailamah al-Kadzdzab dan yang lainnya. Demikian pula mukjizat yang ada pada para nabi terjadi di luar kebiasaan seluruh makhluk termasuk jin, adapun karamah terjadi hanya di luar kebiasaan manusia saja. Dan juga telah tetap dalil-dalil di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menjelaskan tentang keberadaan karamah.

Adapun jawaban untuk kelompok kedua, karamah itu berbeda dengan sihir dan semisalnya. Karena meskipun sihir juga terjadi di luar kebiasaan namun bukan berada pada para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa melainkan pada musuh-musuh Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Mereka (para penyihir) bukanlah para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa melainkan wali setan, dan apa yang ada pada mereka bisa jadi kedustaan, atau bisa jadi fitnah dan ujian bagi diri mereka dan orang lain yang tidak memahami hakikat permasalahan sebenarnya.

 

Beberapa Hal yang Terkait dengan Karamah

Karamah yang terjadi ternyata memiliki hikmah yang begitu besar, di antaranya:

1. Karamah merupakan salah satu perkara terbesar yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan kebesaran-Nya. Lihatlah bagaimana Allah Maha mampu memberikan suatu kelebihan dan kemampuan di luar akal dan kemampuan manusia yang lemah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para wali-Nya.

2. Karamah yang ada dan terjadi pada para wali pada hakikatnya merupakan bagian dari mukjizat yang dimiliki para nabi dan rasul. Karena tentunya karamah tersebut tidaklah bisa ada dan terjadi kecuali dengan sebab para wali tersebut menerima dan mengikuti serta mengamalkan risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul.

3. Karamah merupakan salah satu kabar gembira tentang keutamaan mereka kelak di akhirat, yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa segerakan saat masih hidup di dunia ini. Akan tetapi, bukan berarti para wali yang mendapatkan karamah itu lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang tidak mendapat karamah. Hal ini karena karamah tidak terjadi pada kebanyakan para sahabat g dan lebih banyak terjadi pada para tabi’in rahimahumullaah, sementara para sahabat radhiyallaahu ‘anhum lebih mulia derajatnya dibandingkan dengan para tabi’in rahimahumullaah.

 

Beberapa Realita Terjadinya Karamah

1. Kisah Ashabul Kahfi yang hidup di tengah kaum musyrikin. Namun mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Demi menyelamatkan keimanan mereka, akhirnya mereka keluar dari negeri tersebut. Kemudian Allah subhaanahu wa ta’aalaa mudahkan mereka untuk menetap di sebuah gua di atas gunung. Gua tersebut menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak bisa masuk ke dalamnya. Mereka tinggal di dalamnya selama 309 tahun dalam keadaan tertidur. Panas dan dingin tidak mempengaruhi tubuh mereka. Mereka tidak merasakan lapar serta dahaga. Keadaan ini berlanjut hingga akhirnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa bangunkan mereka dari tidur yang panjang tersebut dalam keadaan negeri telah terbebaskan dari noda kesyirikan, sehingga selamatlah mereka. Allah subhaanahu wa ta’aalaa menyebutkan kisah ini di dalam Al-Qur`an surat Al-Kahfi.

2. Kisah al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallaahu ‘anhu yang merupakan salah seorang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kisah beliau ketika berjalan bersama pasukannya menuju sebuah negeri hingga akhirnya mereka sampai di tepi laut yang memisahkan antara mereka dengan negeri tersebut. Kemudian beliau berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa meminta pertolongan dan jalan keluar untuk bisa menyeberangi laut tersebut. Kemudian Allah subhaanahu wa ta’aalaa mengabulkan doa tersebut dengan dimudahkannya beliau bersama pasukan berjalan di atas laut dan akhirnya mencapai negeri tersebut.

 

Apakah Karamah Akan Senantiasa Ada sampai Hari Kiamat?

Ketahuilah bahwa karamah akan senantiasa ada di dunia ini sampai hari kiamat. Di antara dalil yang menunjukkan tentang hal ini adalah:

1. Sebuah kisah yang akan terjadi yang telah disebutkan rasul tentang Dajjal dengan seorang pria. Dikisahkan bahwa seorang pria mendatangi Dajjal kemudian ia mengatakan, “Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” Lalu Dajjal membunuhnya, kemudian Dajjal menghidupkannya kembali (dengan izin Allah subhaanahu wa ta’aalaa) dan pria tadi hidup kembali. Dajjal lalu memaksa kembali agar pria itu mau mengakui ketuhanannya. Namun pria tadi tetap pada pendiriannya semula bahkan dia berkata, “Hari ini aku lebih yakin lagi bahwa engkau adalah seorang pendusta.” Maka Dajjal berusaha untuk membunuhnya untuk kedua kalinya, namun kali ini dia tidak mampu membunuhnya. Ketidakmampuan Dajjal untuk membunuh pria tadi merupakan karamah yang dimilikinya. Dan kita ketahui bersama bahwa Dajjal tidaklah muncul kecuali ketika hari kiamat telah dekat.

2. Selama sebab adanya karamah masih ada, yaitu dengan masih ada para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa di muka bumi ini maka karamah itu pun akan senantiasa ada dan mengiringi mereka sampai Allah subhaanahu wa ta’aalaa hembuskan angin yang akan mematikan seluruh orang yang beriman.

Para pembaca rahimakumullaah, dari pembahasan di atas ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:

1. Karamah  itu ada dan bukan khayalan semata sehingga wajib bagi kita untuk menetapkan dan meyakini keberadaannya.

2. Karamah hanya diberikan kepada wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang menjalani kehidupan dengan penuh iman dan takwa.

3. Karamah itu akan senantiasa ada di dunia ini sampai menjelang hari kiamat nanti.

Semoga bermanfaat, Allahu a’lam.

Penulis: Al-Ustadz Abdullah Imam

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *