Imam Abu Dawud

Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati Allah subhaanahu wa ta’aalaa, dalam edisi sebelumnya, kita telah mengenal biografi beberapa ulama ahli hadits seperti al-Imam al-Bukhari dengan karyanya Shahih al-Bukhari dan al-Imam Muslim dengan karyanya Shahih Muslim. Masih dalam tema Silsilah Ulama Ahli Hadits, pada kesempatan ini kita kembali akan berkenalan dengan salah seorang ulama ahli hadits yang tidak asing di kalangan penuntut ilmu yaitu al-Imam Abu Dawud dengan karya besarnya Sunan Abi Dawud.

Beliau adalah seorang ulama panutan umat, ulama yang berpegang kuat dengan bimbingan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seorang yang memiliki hafalan yang kuat dan seorang ahli hadits kota Bashrah.

Dia lah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin ‘Amr bin Imran al-Azdi as-Sijistani atau yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Dawud as-Sijistani.

Beliau dilahirkan pada tahun 202 H di daerah Sijistan. Sijistan adalah sebuah propinsi kecil yang berbatasan dengan daerah Sind (Pakistan). Terletak di sebelah barat Hirrah (Afghanistan), sebuah daerah di negeri Khurasan. Di sebelah selatannya adalah padang sahara yang tandus. Daerah Sijistan banyak dipenuhi oleh pepohonan kurma dan pasir.

Al-Imam Abu Dawud tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan cahaya ilmu terutama ilmu hadits.

 

Perjalanan Menuntut Ilmu

Rihlah (perjalanan) dari satu negeri ke negeri lain dalam rangka menuntut ilmu, telah menjadi kebiasaan dan kebutuhan yang sangat penting sejak zaman para sahabat dan para ulama setelahnya terutama di dalam mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan penuh kesabaran dan tanpa mengenal lelah beliau berkeliling dunia, pindah dari satu negeri ke negeri lain, menuntut ilmu dari banyak ulama, mengumpulkan ilmu kemudian menulis dan mencapai puncak karirnya sebagai seorang ahli hadits.

Di antara para ulama yang beliau temui tercatat 2 ulama yang sangat terkenal yaitu al-Imam Ahmad bin Hanbal dan al-Imam Yahya bin Ma’in. Dari mereka berdua lah beliau belajar ilmu hadits.

Beliau mulai melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu semenjak usia yang masih belia yaitu 18 tahun. Untuk pertama kalinya beliau singgah di kota Baghdad pada tahun 220 H.

Beliau berkata, “Aku memasuki kota Kufah pada tahun 221 Hijriyah.  Kemudian aku memasuki  kota Damaskus dan mencatat hadits dari Abu an-Nadhr al-Faradisi –seorang ulama yang banyak menangis– pada tahun 222 Hijriyah.”

Di samping itu, beliau juga melakukan perjalanan ke berbagai negara seperti Mesir, Saudi Arabia, Syam, Irak, Iran, Afghanistan, dan lain-lain dalam rangka menuntut ilmu kepada para ulama yang berada di negeri-negeri tersebut.

Karena seringnya melakukan perjalanan di dalam menuntut ilmu, beliau mendapat julukan ar-Rahal (orang yang banyak melakukan perjalanan).

Al-Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah mengatakan, “Beliau termasuk salah seorang ulama ahli hadits yang banyak melakukan perjalanan sampai ke ujung-ujung dunia dalam rangka menuntut ilmu.”

Adapun para ulama yang menuntut ilmu kepada beliau adalah; al-Imam Abu Isa at-Tirmidzi (teman beliau), al-Imam Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i, kedua putra beliau yaitu Abdullah bin Abi Dawud dan Abu Bakar bin Abi Dawud, Abu Bisyr ad-Daulabi, Abdurrahman bin Khallad ar-Ramahurmuzi, Abu Bakar bin Abi Dunya, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al-Khallal al-Faqih dll.

Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa al-Imam Ahmad pernah meriwayatkan satu hadits dari beliau.

Beliau tinggal di kota Baghdad selama beberapa waktu sambil menyebarkan ilmu di kota tersebut. Dan tidak terhitung berapa kali banyaknya beliau singgah di kota Baghdad. Terakhir beliau singgah di kota Baghdad pada tahun 272 H.

Beliau mengatakan, “Aku mencatat hadits-hadits Rasulullah sebanyak 500.000 hadits. Kemudian aku memilih dari sekian hadits tersebut untuk aku letakkan ke dalam kitab Sunan-ku.” Di dalam kitab Sunan beliau terkandung 4800 hadits.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa jumlah hadits yang tertulis dalam Sunan Abi Dawud mencapai 5274 hadits.

 

Pujian Para Ulama

Abu Bakar al-Khallal berkata, “Abu Dawud adalah seorang tokoh ulama panutan umat pada zamannya. Dan belum ada seorang pun yang mendahuluinya dalam masalah ilmu. Beliau adalah seorang yang mendalam dalam masalah ilmu pada zamannya serta memiliki sifat wara’ (menjauhkan diri dari hal-hal yang haram).”

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i berkata, “Para ulama telah sepakat dalam pujiannya terhadap Abu Dawud, beliau adalah seorang yang memiliki ilmu yang luas, kuat hafalannya, wara, berpegang teguh dengan agama, memiliki pemahaman yang tajam dalam ilmu hadits dan yang lainnya.”

Ahmad bin Muhammad bin Yasin berkata, “Abu Dawud adalah salah seorang penghafal Islam dalam hadits Rasulullah baik secara ilmu, cacat-cacat hadits dan sanadnya. Beliau mencapai derajat tertinggi dalam masalah ibadah, menjaga kehormatan diri, baik akhlaknya, wara’ dan termasuk orang yang cerdas dalam masalah hadits.”

Dan para ulama yang sezaman dengan beliau benar-benar mengakui kekuatan hafalannya dan menjadikan beliau sebagai tokoh pada zamannya.

Al-Hafizh Musa bin Harun mengatakan, “Abu Dawud diciptakan ke dunia hanya untuk hadits dan di akhirat untuk Jannah (surga).”

Abu Hatim bin Hibban mengatakan, “Abu Dawud adalah salah seorang ulama dunia, baik secara pemahaman, keilmuan, banyaknya hafalan, ibadah, wara’ dan kekuatan hafalannya. Beliau mengumpulkan, menulis dan membela ajaran Rasulullah.”

Al-Hafizh Abu Abdillah bin Mandah mengatakan, “Para ulama ahli hadits yang mampu membedakan antara hadits yang shahih dengan yang cacat dan mampu membedakan antara yang salah dengan yang benar ada empat orang; al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i.

Abu Abdillah al-Hakim berkata, “Abu Dawud adalah seorang imam ahli hadits pada zamannya tanpa diragukan lagi.”

Musa bin Harun mengatakan, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih utama dari Abu Dawud.”

Al-Hafizh Zakaria as-Saji berkata, “Kitabullah adalah pokok Islam dan kitab Abu Dawud adalah wasiat Islam.”

Al-Imam al-‘Aini berkata, “Di samping beliau adalah seorang tokoh terdepan dalam ilmu hadits, beliau juga termasuk tokoh ahli fikih.” Dan kitab-kitab beliau adalah sebagai saksi atas pernyataan tersebut.

Beliau termasuk murid pilihan al-Imam Ahmad. Al-Imam Abu Dawud menekuni majelis al-Imam Ahmad selama beberapa waktu dan banyak bertanya kepada beliau tentang beberapa permasalahan yang sangat mendalam dalam hal pokok dan cabang.

Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa sahabat yang menyerupai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal bimbingan dan akhlak adalah Abdullah bin Mas’ud. Dan ‘Alqamah adalah orang yang menyerupai Abdullah bin Mas’ud. Ibrahim an-Nakha’i adalah orang yang menyerupai ‘Alqamah. Manshur bin al-Mu’tamir adalah orang yang menyerupai Ibrahim an-Nakha’i. Kemudian Sufyan ats-Tsauri adalah orang yang menyerupai Manshur bin al-Mu’tamir. Waki’ bin al-Jarrah adalah orang yang menyerupai Sufyan ats-Tsauri. Sementara Ahmad bin Hanbal adalah orang yang menyerupai Waki’ bin al-Jarrah. Dan Abu Dawud adalah orang yang menyerupai Ahmad bin Hanbal.

Setelah beberapa waktu lamanya beliau berkeliling dunia untuk menuntut ilmu, beliau pun kembali ke daerah asalnya yaitu Sijistan.

Namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya beliau memutuskan untuk berpindah ke kota Bashrah dan menjadikannya sebagai tempat bermukim.

Dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa telah menjaga beliau untuk tetap istiqamah di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di saat berkembangnya pemikiran sesat pada masa hidup beliau. Sosok al-Imam Ahmad bin Hanbal benar-benar memberikan pengaruh pada diri beliau di dalam berpegang teguh dengan kebenaran. Beliau wafat pada tanggal 16 Syawwal tahun 275 Hijriyah di kota Bashrah dalam usia 73 tahun.

Al-Imam Abu Dawud telah mencapai puncak karirnya dalam ilmu hadits dan telah meninggalkan kepada kita berbagai warisan yang sangat berharga dalam bentuk karya tulis.

 

Karya Tulis Beliau

1. Kitab Sunan (Sunan Abi Dawud)

2. Al-Masa`il Allati Khalafa ‘alaiha al-Imam Ahmad bin Hanbal.

3. Ijabatuhu ‘ala Su`alat al-Ajurri

4. Risalah fi Washfi Ta’lifihi li Kitab Sunan

5. Az-Zuhd

6. Tasmiyah Ikhwah Alladzina Rawa ‘anhum al- Hadits.

7. Kitab Marasil

8. Kitab fi Rijal

9. Kitab al-Qadr

10. Kitab Nasikh

11. Musnad Malik

12. Kitab Ashab asy-Sya’bi

Para pembaca rahimakumullah, dari kisah di atas kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting di antaranya:

1. Keteguhan al-Imam Abu Dawud di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di saat berkembangnya pemikiran sesat pada masa hidup beliau.

2. Semangat beliau dalam menuntut ilmu walaupun harus melakukan perjalanan ke berbagai negara.

3. Semangat beliau dalam mendakwahkan kebenaran di antaranya dengan menulis berbagai kitab yang bermanfaat bagi kaum muslimin sampai saat ini.

Semoga Allah subhaanahu wa ta’aalaa merahmati beliau dan memasukkan ke dalam Jannah-Nya. Amin.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifqi

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *